The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
42


"Seharusnya aku tidak usah masuk kuliah." Ucap Jessie. Mereka sedang didalam mobil dan menuju rumah sakit. Jessie tidak menyangka semuanya akan menjadi sekacau ini. Ryan ingin mencoba menenangkan Jessie tapi tidak bisa. Alex sudah diculik dalam keadaan koma. Anak manapun yang mengalami hal ini juga pasti panik.


Di depan rumah sakit, orang-orang tampak berlarian keluar. Mungkin panik dengan apa yang terjadi. Jessie yang ingin keluar langsung dicekal tangannya oleh Ryan.


"Kita tunggu sampai keadaan sepi dan anak buahku ada yang mendatangi kita. Keadaan seperti ini masih terlalu bahaya. Kalau kau kenapa-napa nanti uncle Alex dan aku akan sedih."


Jessie kemudian kembali duduk dengan tenang di mobil. Mereka menunggu hingga sepi. Tapi bawahan Ryan tidak kunjung datang yang membuat mereka panik.


"Kau tunggu disini. Aku akan masuk kedalam." Ucap Ryan sambil mengambil handgun dari laci dasbor.


"Bagaimana jika kau kenapa-napa? Disini saja.Kita bisa menunggu sebentar lagi." Ucap Jessie.


"Ini sudah biasa ok. Kalau dalam sepuluh menit aku belum balik, kau harus pergi ke kantor polisi. Aku yakin saluran telepon diputus jadi mereka tidak bisa memanggil polisi. Di laci ini ada dua handgun lagi. Kau bisa memakainya jika dalam bahaya." Ucap Ryan.


Jessie mengangguk mendengar ucapan Ryan. Ryan kemudian keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam rumah sakit. Jessie kemudian mengambil handgun lalu memegangnya dengan erat. Sepuluh menit lalu Ia akan menyusul Ryan kedalam. Persetan dengan sepuluh menit. Ia akan menyusul Ryan sekarang juga.


...***...


Ryan berjalan secara perlahan dan melihat banyak mayat yang tergeletak dengan luka tembak. Ia berjalan kearah kamar Alex dan semua anak buahnya sudah tidak bernyawa. Kasur Alex sudah tidak ada ditempatnya. Ia masuk dan melihat ruangan itu bersih. Tidak ada bisa darah di lantai dan sekitarnya. Benar-benar bersih. Jendela kamar juga terbuka lebar. Ryan melihat keluar dan tidak melihat apapun yang mencurigakan. Karena jendela yang terlalu kecil, tidak mungkin kasur Alex bisa melewatinya. Ryan kemudian keluar kamar Alex lalu mencoba mengelilingi rumah sakit.


Ryan melihat semakin banyak mayat di lantai. Ia kemudian sampai di belakang rumah sakit yang berupa taman. Ryan melihat ada jejak kaki namun buntu tepat ditengah taman.


KRAK


Ryan refleks berbalik badan dan mengarahkan handgunnya kearah sumber suara. Ia melihat Jessie yang tersenyum. Ryan menghela napas lalu menurunkan handgunnya.


"Bukankah sudah kubilang tunggu di mobil? Kenapa kamu ikut? Bagaimana jika kenapa-napa?" Tanya Ryan beruntun.


"Aku tidak mau di mobil sendirian. Lagian aku sudah mengikutimu dari tadi. Kau saja yang tidak sadar." Ucap Jessie.


"Baiklah. Kau berjalan disampingku. Kita akan ke atap." Ucap Ryan lalu berjalan. Jessie mengikuti Ryan sambil mengajak bicara. Ryan tidak menjawab panjang dan hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Jessie kemudian memilih untuk diam.


Mereka memilih untuk menaiki tangga. Walaupun kakinya lelah, Jessie memaksakan untuk menaiki setiap anak tangga. Saat sampai di anak tangga terakhir, napas Jessie terengah-engah berbeda dengan Ryan yang masih terlihat biasa saja.


"Kau lelah?" Tanya Ryan. Jessie langsung menggeleng. Ia berusaha mengatur kembali napasnya. Ryan melihat sebuah pintu dan langsung membukanya. Tempat yang biasa digunakan sebagai landasan helikopter itu kosong. Hanya ada sebuah kartu kecil berwarna hitam di dekat pintu. Ryan mengambil kartu itu lalu melihat ada tulisan dalam bahasa lain.


...Sie werden verborgene Geheimnisse entdecken. Es stellt sich heraus, dass zwei Monate eine lange Zeit sind. Ich bin nicht diese geduldige Person. Warte auf mich....


...~Xr~...


"Semuanya semakin rumit. Akan ada rahasia yang terbongkar." Ucap Ryan.


"Dia tidak bilang suatu lokasi? Dia hanya menuliskan kalimat tidak penting seperti itu?" Tanya Jessie. Ryan mengangguk. Jessie menghela napas. Mereka kemudian mendengar ada orang yang menaiki tangga. Ryan menarik Jessie hingga berada dibelakangnya. Ia juga mengarahkan senjatanya kearah tangga.


"Sir? Kau ada disana?" Tanya Larry anak buah Ryan. Ryan menghela napas lega. Setidaknya ada satu orang anak buahnya yang masih hidup.


"Aku di paling atas." Ucap Ryan. Larry mempercepat langkah dan menemui Ryan. Ia menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari penculikan Alex hingga penembakan massal.


"Bagaimana kau masih bisa selamat?" Tanya Jessie. Larry menatap Jessie sekilas.


"Saya pura-pura mati. Saat anda disini saya mengira itu adalah musuh. Saat anda pergi saya mengikuti kalian diam-diam hingga saat berada disini saya bisa mendengar suara anda dan bergegas kesini." Jawab Larry. Jessie mengernyitkan dahi.


"Tunggu kenapa jawabanmu sangat mencurigakan?" Tanya Jessie.


Larry menunjukkan smirknya lalu mengeluarkan pistol bius. Ryan yang ingin melawan langsung ditembaki obat bius. Jessie kemudian mencoba untuk menembaki Larry namun tembakan Larry lebih cepat. Mereka berdua langsung pingsan ditempat.


"Sir, mereka sudah pingsan. Saya akan membawa mereka." Ucap Larry dari mikrofon tersembunyi.


"Bagus. Kutunggu. Kau harus cepat sebelum polisi datang. Kau juga harus berhati-hati saat berkendara. Wanita itu teman dekatnya anak Xavier. Pengkhianatanmu akan terbayar Larry." Ucap Xander.


"Thank you sir."


********************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Larry Miles



Next?