The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
13


Pada pagi hari, Jessie dan Ryan sedang sarapan. Alex sudah pergi duluan ke kantor karena akan ada meeting. Suasana ruang makan diselimuti oleh hawa kecanggungan. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Bahkan mereka enggan untuk saling menatap.


"Makan yang cepat atau tidak kau akan telat kuliah." Ucap Ryan. Ia sudah menghabiskan sarapannya dan melihat sarapan Jessie hanya berkurang sedikit. Ryan berjalan ke arah tempat cuci piring untuk menaruh piring kotornya. Seusai Ryan pergi, Jessie langsung menghela nafas lega. Ia tidak bisa melupakan kejadian kemarin. Ia langsung dengan cepat menghabiskan sarapannya.


"Hati-hati nanti tersedak." Ucap Ryan sambil memberikan segelas air putih. Jessie langsung mengambilnya dan meneguknya hingga habis tidak tersisa.


"Kau yang menyuruhku makan cepat-cepat." Ucap Jessie. "Tapi tidak seperti itu." Balas Ryan. Jessie langsung menghabiskan sarapannya. Setelah itu Ia bersiap-siap untuk pergi kuliah. Ia mengambil tasnya dan memberikan kunci mobilnya kepada Ryan.


"Bawa mobilnya seperti kemarin malam." Ucap Jessie. "Kalau kau mau kita di tilang dan dimarahi oleh daddymu makan aku mengiyakan keinginanmu." Ucap Ryan. Jessie hanya mendengus kasar. Akhirnya karena kesal, Jessie langsung berjalan ke arah mobilnya meninggalkan Ryan. Ryan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Jessie.


Akhirnya mereka pun berangkat ke kampus Jessie. Di perjalanan Jessie masih sedikit kesal karena tadi pagi. Untuk mencairkan suasana, Ryan memutar lagu. Jessie yang awalnya masih kesal mulai mengikuti alunan lagu yang diputar. Jessie mulai menyanyi dan menggerakkan badannya. Ryan yang melihat itu hanya tersenyum. Jessie yang melihat Ryan tersenyum langsung berhenti melakukan aktivitasnya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Ryan. "Karena kau tersenyum." Ucap Jessie. Ryan yang mendengar jawaban itu langsung tertawa kecil.


"Apa hubungannya?"


"Ya pokoknya ada." Ucap Jessie. Lalu Ia mengeluarkan handphonenya lalu saling bertukar pesan dengan Alexa.


"Kau bisa lebih cepat?" Tanya Jessie. Pasalnya Alexa sudah sampai di kampus. Dan sedang menunggu kedatangan Jessie. Ryan yang mendengar itu hanya menghela nafasnya. "Kau lupa apa yang kukatakan di rumah tadi?" Tanya Ryan. Jessie hanya mendengus kesal lalu diam saja.


"JESSIE AKU RINDU PADAMU." Teriak Alexa sambil berlari ke arah Jessie dan langsung memeluknya. Jessie pun membalas pelukannya.


"Hai Ryan." Sapa Alexa. Ryan hanya mengangguk mendengar sapaan Alexa. "Ayo kita bisa saja telat." Ucap Alexa lalu menarik tangan Jessie. Saat berjalan ke arah kelas tiba-tiba ada yang menghalangi mereka. Tentu saja tak lain tak bukan adalah Michelle dan gengnya.


"Tidak lelah kau mengganggu kita?" Tanya Alexa. Michelle hanya tersenyum remeh. Saat melihat Ryan, Michelle langsung berlari kecil ke arah Ryan lalu memeluknya. Namun Ryan secara refleks langsung menghindar yang membuat Michelle menjadi jatuh. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu langsung tertawa. Alexa juga ikut tertawa melihatnya dan Jessie hanya bisa tersenyum. Ryan yang merasa bersalah langsung membantu Michelle untuk kembali berdiri. Michelle yang melihat sebuah kesempatan langsung menerima uluran tangan Ryan dan langsung berdiri. Ia pun langsung mendekatkan mukanya ke muka Ryan. Ia juga secara perlahan memeluk Ryan. Ryan sudah berusaha untuk melepaskan pelukannya namun tidak bisa. Ia juga takut jika harus memakai tenaga. Tiba-tiba Alexa datang dan langsung menjambak rambut Michelle.


"Dasar wanita murahan." Ucap Alexa. Jessie dan Ryan yang melihat itu berusaha untuk menghentikan perbuatan Alexa. "Sudah cukup. Kita pergi saja." Ucap Jessie. Alexa yang mendengar itu langsung berdecih. Michelle langsung membereskan rambutnya walaupun kepalanya sakit. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Alexa akan melakukan hal yang diluar dugaan seperti tadi.


Akhirnya Jessie, Ryan, dan Alexa langsung pergi meninggalkan Michelle yang malu. Mood Alexa langsung buruk hari itu. Jessie hanya bisa menenangkan Alexa.


"Kau harus bisa melawan Jes... Aku tau kau tidak rela ada yang mendekati Ryan." Ucap Alexa. "Tidak ada gunanya melawan orang gila." Ucap Jessie. Ia tidak mau terlibat dalam masalah yang akhirnya akan merepotkan dirinya sendiri. Tapi di sisi lain perkataan Alexa benar. Ia tidak suka ada yang mendekati Ryan. Jessie bodyguardnya maka hanya Jessie yang bisa mendekatinya.


"Kau mau menginap malam ini?" Tanya Alexa. Jessie langsung mengangguk. Ryan yang mendengar itu langsung menyela pembicaraan. "Kalian ingat kalau besok sekolah?" Tanya Ryan kepada Jessie dan Alexa. "Kau bisa membawa baju untuk kuliah." Ucap Alexa tidak mempedulikan Ryan. Jessie hanya mengangguk. Baiklah, Ryan menyerah untuk menasehati mereka. Biarkan saja Alex yang menasehati Jessie.


Jessie dan Alexa pun masuk ke kelasnya dan Ryan hanya menunggu di luar sambil mengamati sekitar. Ia meningkatkan kewaspadaannya setelah 2 kali Jessie hampir di tembak. Sudah 2 kali juga Jessie beruntung. Ia tidak ingin mengambil resiko. Setelah memastikan semua aman. Ia pun mengabari semuanya kepada Alex.