The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
49


"Kira-kira, begitulah ceritanya. Tragis bukan." Ucap Xander yang kemudian tertawa. Jessie sudah menangis mendengar cerita yang sedari tadi Xander ceritakan. Ia kemudian melihat kearah Alex yang berada di televisi. Terlihat pria itu juga menangis mendengar cerita Xander.


"Jessie anakku? Tidak mungkin."


"Itulah kenyataannya, Xavier. Ia anakmu. Kenapa kau tidak sadar? Mungkin karena wajahnya lebih mirip Celine. Tapi jika kau lihat dengan baik ada beberapa bagian yang mirip denganmu."


Ryan yang melihat keadaan Jessie sekarang sangat ingin memeluknya namun tidak bisa. Xander masih setia menodongkan senjatanya ke kepala Jessie.


Jessie kemudian dengan susah payah berusaha mengubah posisinya. Ia kemudian berdiri dan menunjuk kearah televisi.


"KENAPA KAU HARUS SEJAHAT ITU? KALAU KAU BISA MENERIMAKU KENAPA KAH HARUS MEMBUNUHNYA? JAWAB AKU!" Teriak Jessie. Xander kemudian menyalakan mikrofonnya dan membiarkan Alex berbicara.


"Maafkan daddy. Setelah kejadian itu daddy sangat menyesal. Oleh karena itu daddy memutuskan untuk menerima dirimu. Daddy tahu apa yang telah daddy lakukan itu salah."


"PEMBOHONG! DADDY PASTI AKAN MEMBUNUHKU BUKAN? PASTI SAAT AKU MATI DADDY AKAN TERTAWA SENANG."


Xavier yang sedari tadi diam langsung mengarahkan senjatanya lalu menembak Xander. Ia sudah tidak tahan dengan semua permainan yang diciptakan oleh Xander.


DOR!


Dalam sekali tembakan, Xander langsung terjatuh ke lantai penuh darah. Ryan langsung berlari kearah Jessie lalu memapahnya keluar ruangan. Tidak ada dari satupun mereka yang ingin mengecek keadaan Xander. Apakah pria itu sudah mati atau belum. Mereka tidak mau mengambil resiko jika seandainya Xander masih hidup.


"Alexa, kau bisa dengar daddy? Daddy mau kau menyiapkan tim medis."


"Ok,dad."


Ryan memutuskan untuk menggendong Jessie sehingga bisa mempersingkat waktu. Xavier berjalan didepan sehingga bisa menunjukkan arah menuju pintu keluar.


Diluar, Alexa sudah menunggu mereka bersama tim medis. Ryan mendudukkan Jessie sehingga bisa diobati sementara oleh mereka. Alexa memeluk Xavier yang berhasil keluar dengan selamat walaupun terluka parah.


"Bagaimana daddy bisa bilang kalau ini luka kecil?"


"Sudahlah, ada yang lebih penting. Jessie adalah kakakmu."


Alexa terdiam lalu menatap Xavier dan Jessie secara bergantian. Alexa tidak percaya jika teman baiknya adalah kakaknya sendiri. Ia senang dan shock disaat yang bersamaan.


"Hai, calon kakak ipar." Ucap Alexa sambil mengedipkan sebelah matanya. Jessie hanya berdecak kesal lalu melihat kearah Xavier.


"Bagaimana dengan keadaan daddy? Apa Ia sudah ketemu? Dia tidak kenapa-kenapakan?"


"Tentu saja aku mau. Kau daddyku dan aku punya seorang adik yang jenius."


"Dan aku punya calon kakak ipar yang tampan."


Jessie yang cemburu langsung menarik tangan Ryan sehingga pria itu mendekat kearahnya. Kemudian Jessie memeluk Ryan menggunakan satu tangannya. Alexa dan Ryan hanya terkekeh.


"Kalian membunuh ayahku tapi melupakan aku."


Sontak semua orang melihat kearah Kenneth dengan anak buah Xander yang masih hidup. Kenneth merasa hidupnya sangat miris. Ayah dan ibunya mati hanya karena hal sepele.


"Mau apa kau?" Tanya Jessie.


"Daddy dan mommy mati hanya karena ayahmu. Jika aku tidak bisa membunuh Alex maka aku akan membunuhmu. Dasar anak seorang pembunuh."


Xavier memberikan tanda sehingga anak buahnya berjaga-jaga jika harus menyerang. Alexa juga siap dengan senjata kesayangannya.


"Ternyata pria yang aku sukai seperti ini. Kenapa aku bisa suka denganmu? Memalukan."


Kenneth hanya tersenyum miring. Kenneth kemudian berteriak menyuruh anak buahnya menyerang. Ryan menggendong Jessie dan membawanya menuju tempat yang aman yaitu dibalik pohon yang sangat besar.


Terdengar suara tembakan yang tidak berhenti-henti. Ryan sesekali melihat keadaan. Terlihat korban mulai berjatuhan. Xavier dan Alexa masih bertahan. Mereka dengan tenang menembakkan peluru seakan sudah terbiasa. Perlahan-lahan suara tembakan mulai tidak terdengar.


"Ryan dan Jessie, keluarlah. Kalian harus lihat ini."


Ryan kemudian menggendong Jessie lalu berjalan keluar. Mereka melihat semua orang sudah terkapar di tanah, termasuk Kenneth. Anak buah Xavier juga ada yang sudah meninggal namun tidak semua.


"Ayo kita pergi. Tempat ini sudah dipasang oleh bom." Ucap Alexa.


"Kita harus mati bersama, Jessie." Ucap Kenneth. Ia berpura-pura mati saat satu peluru tertembak di bagian perutnya dan mengambil senjata secara acak karena miliknya sudah kehabisan peluru. Kenneth kemudian mengarahkan pistolnya kearah Jessie lalu menembakkannya dua kali sebelum akhirnya Ia kehilangan kesadarannya.


DOR!


DOR!


Jessie menutup matanya tetapi Setelah ditembakkan, Ia tidak merasakan rasa sakit apapun. Ia kemudian membuka matanya dan melihat Ryan sedang membalikkan badannya. Yang artinya Ryan mengorbankan dirinya. Terlihat senyuman dari wajah pria itu. Ryan menurunkan Jessie.


"I love you."