
Jessie dan Ryan sudah sampai di kampus dan benar saja, orang-orang yang melihat Jessie langsung berbisik-bisik. Bahkan ada beberapa yang tertawa melihat Jessie. Jessie yakin dalang dibalik ini tak lain dan tak bukan adalah Michelle. Jessie berjalan cepat kearah kelas Michelle.
Di kelas, Jessie melihat Michelle yang sedang berbicara dengan temannya. Michelle yang menyadari kedatangan Jessie menunjukkan senyum liciknya.
"Lihatlah, ada anak kesepian. Ibunya meninggal sedangkan ayahnya koma. Mungkin sebentar lagi ayahnya akan menyusul i-"
PLAK!
Belum sempat Michelle menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ia melihat kearah yang menamparnya yaitu Jessie. Matanya sudah basah oleh air mata.
"Kau dapat darimana foto itu?" Tanya Jessie. Michelle diam tidak menjawab. Sebuah tamparan kembali mendarat.
"Kau tidak jawab maka tamparanku akan mendarat terus. Aku tidak akan mengulang pertanyaanku tadi." Ucap Jessie. Seringai muncul di wajahnya. Michelle merinding. Ini bukan seperti Jessie yang biasa Ia buli.
"A-aku tidak tahu. Tiba-tiba ada orang yang mengirim pesan berupa foto itu lalu menyuruhku untuk menyebarnya." Ucap Michelle.
"Berikan nomornya sekarang."
Michelle buru-buru mengambil handphonenya dan membuka pesan yang semalam. Tapi saat Ia membuka aplikasi mengirim pesan, pesan itu sudah tidak ada. Seakan-akan dia tidak pernah mendapat kiriman pesan itu. Michelle kemudian ingat Ia menelpon orang itu, Ia membuka kontak untuk melihat histori namun hasilnya nihil. Saat Ia melihat galeri Handphonenya, foto itu masih ada. Bahkan berada di folder kamera.
"Kenapa lama sekali? Mana nomornya?" Tanya Jessie. Michelle yang menyerahkan handphonenya membiarkan Jessie yang melihat sendiri.
"Nomornya hilang dari handphoneku. Aku bersumpah tidak pernah menghapusnya."
Jessie berdecak kesal lalu mengembalikan handphone Michelle. Ia tidak percaya dengan ucapan Michelle tentunya. Wanita itu tidak dapat dipercaya setelah semua perbuatannya.
"Sekarang yang kau lakukan adalah menghentikan olokan mereka atau aku akan mempermalukanmu. Kau pasti tidak mau mengalaminya. Karena aku tahu satu rahasiamu." Ucap Jessie. Kemudian Ia berbisik satu kalimat tepat di telinga Michelle. Muka Michelle seketika pucat.
Setelah merasa tidak mempunyai urusan apapun, Jessie pergi dari kelas Michelle lalu kembali ke kelasnya. Alexa dan Kenneth pasti sudah menunggunya. Jessie juga menyadari kalau sebentar lagi sudah jam masuk. Ia semakin mempercepat langkahnya.
"Jalan yang pelan. Nanti kau jatuh." Ucap Ryan.
"Kau dengar itu? Pelan-pelan saja jalannya. Nanti kalau kau jatuh bisa saja kau berakhir koma seperti ayahmu." Ucap seorang mahasiswa. Ryan yang mendengar itu langsung meninju dinding tepat disebelah mahasiswa itu.
"Kalau kau tidak pernah merasakan penderitaannya maka lebih baik kau diam saja." Ucap Ryan. Ia menatap tajam kepada orang itu. "Kau tidak ingin mengucapkan maaf?" Lanjut Ryan.
"Maafkan aku." Ucap mahasiswa. Lalu Ia pergi berlari ketakutan menuju kelasnya.
"TERUNTUK KALIAN SEMUA. JIKA TIDAK TAHU PENDERITAAN ORANG, MAKA JANGAN LANGSUNG MENGHAKIMI ATAU BAHKAN MEMBULINYA. INI PERINGATAN PERTAMA DARIKU. JIKA TERULANG LAGI MAKA AKU AKAN BERBICARA DENGAN MR. KEYTON." Teriak Ryan dengan lantang. Tentu saja semua orang disana ketakutan. Mr. Keyton adalah pemilik dari kampus ini. Mereka tidak ingin dikeluarkan dari kampus dan membuat orang tua mereka marah dan kecewa.
Jessie yang melihat itu tersenyum. Ia tidak menyangka Ryan akan seperti ini. Walaupun Ia tidak tahu bagaimana bisa Ryan mengetahui pemilik kampus ini.
"Sudah ayo berjalan ke kelas." Ucap Ryan.
"Aku tidak tahu Ryan akan senekat itu." Ucap Alexa. Kenneth mengangguk setuju.
"Aku kira pak tua itu bicara singkat saja. Bahkan aku shock dia bisa teriak seperti itu. Kedengaran lho sampai sini. Bahkan semua orang disini langsung terdiam yang awalnya membicarakanmu." Ucap Kenneth.
"Aku juga tidak tahu dia akan melakukan itu. Dia bahkan hampir menghajar seorang mahasiswa sebelum Ia teriak."
"Baik semua, sudah jam pelajaran. Keluarkan buku kalian." Ucap dosen yang sudah masuk. Jessie, Alexa, dan Kenneth menghentikan obrolan mereka lalu membuka buku pelajaran.
...***...
Di kelas lain, Michelle yang sedang memperhatikan dosen terganggu karena getaran handphonenya. Ia diam-diam membuka handphonenya dan melihat ada pesan. Ia membuka pesan itu yang ternyata dari orang yang semalam mengirim foto itu. Walaupun sudah dihapus, Michelle masih mengingat 3 angka terkahir nomor itu. Ia membaca pesan yang dikirim oleh orang tidak dikenal itu.
********************************************
Helios Ryan Rynville
Alexandra Jessie Hendrick
Alexa Kellan
Kenneth Santana
Michelle Ziudith
Chatnya author bikin sendiri di aplikasi. Takutnya kalau ketik biasa jadi bingung nanti yang baca😂
Besok mau up lagi gak nih? Kalau mau komen yang banyak dan jangan lupa like nya❤️❤️❤️ Kalau ngga nanti akan di-update tanggal 13 Mei 2021.