
"Darimana saja kau? Kenapa lama sekali di toilet? Kau yakin hanya pergi ke toilet?" Tanya Alexa dengan tatapan menyelidik. Kenneth gelagapan mendengar pertanyaan Alexa. Ia tidak menyadari sudah menelepon ayahnya selama 30 menit.
"Aku juga pergi ke minimarket." Jawab Kenneth. Seketika, Ia menyesali jawabannya itu. Bagaimana bisa Ia pergi ke minimarket dan tidak membeli apa-apa.
"Kau membeli angin disana?" Tanya Alexa. Kenneth yang merasa terpojokkan diselamatkan oleh ucapan Jessie yang menyuruh mereka untuk makan.
"Makanan sudah datang. Makan dulu saja baru nanti silahkan berdebat diluar ruangan." Ucap Jessie. Ia dan Ryan sedang menata makanan serta peralatan makan. Kenneth dan Alexa duduk bersebelahan di sofa dan mengambil makanan yang sudah disiapkan.
"Makasih pak tua atas makanannya." Ucap Kenneth sambil melahap makanannya. Ryan hanya berdeham sebagai jawaban. Ia malas menjawab bocah itu karena pasti akan terjadi pertengkaran.
"Kau masih akan kuliah atau mengurus Uncle Alex?" Tanya Alexa. Jessie terdiam sejenak. Ia ingin kuliah karena sebentar lagi ada ujian tetapi Ia juga ingin merawat Alex dan menunggunya sampai terbangun.
"Aku akan tetap kuliah. Ryan bilang anak buahnya akan berjaga di depan pintu dan sekitar rumah sakit." Ucap Jessie.
Saat ditengah acara makan-makan, handphone Alexa berdering dan Ia melihat ada pesan masuk. Alexa menghentikan makannya dan membuka pesan itu. Setelah melihat isi pesan itu, matanya membelalak tidak percaya.
"Jessie, sepertinya kau tidak usah masuk kuliah untuk sementara." Ucap Alexa. Jessie mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan Alexa. Seketika ruangan itu menjadi hening dan hanya ada suara dari alat EKG.
"Apa maksudmu? Kenapa aku tidak boleh kuliah?" Tanya Jessie. Alexa yang bingung harus menjelaskan apa langsung memberikan handphonenya kepada Jessie.
Jessie melihat foto ayahnya yang bersimbah darah tersebar di grup jurusannya. Orang yang mengirimkan foto itu bilang kalau dia mendapatkan fotonya dari orang yang tidak dikenal. Yang lebih parah, tidak ada yang merasa iba kepadanya.
"Sudahlah biarkan saja." Ucap Jessie acuh. Ia sudah biasa menghadapi hal ini tapi yang berbeda adalah kali ini Ia tidak akan diam dan akan melawan.
"Go go Jessie. Semangat cantik." Ucap Kenneth sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar bocah." Ucap Ryan dengan nada kesal. Kenneth tertawa mengejek dan langsung dipukul lengannya oleh Alexa. Alexa memeringatinya untuk tidak buat keributan. Kenneth langsung diam dan melanjutkan makannya.
***
Hari sudah malam. Alexa dan Kenneth sudah pulang sedari tadi. Sekarang, Ryan berusaha meyakinkan Jessie untuk pulang ke rumah. Jessie bersikukuh untuk tidak pulang dan menemani Alex.
"Jessie, kau besok mau kuliah bukan? Kita pulang saja. Anak buahku sudah berjaga di depan dan sekitar." Ucap Ryan.
"Jessie, kita nginap disini. Kau akan tidur di sofa." Ucap Ryan.
"Bagaimana denganmu? Kau akan tidur dimana? Sofa itu hanya muat satu orang." Ucap Jessie. Ryan tersenyum dan mencium kening Jessie.
"Aku akan jaga Uncle Alex." Ucap Ryan. Ia kemudian membereskan sofa dan menaruh bantal supaya Jessie bisa tidur dengan nyaman.
"Bagaimana jika kau mengantuk?" Tanya Jessie.
"Aku sudah terbiasa. Sekarang yang penting kau tidur karena besok kau kuliah. Jangan pikirkan aku." Ucap Ryan. Jessie kemudian berjalan kearah sofa dan tidur disana.
"Kalau aku sudah tertidur jangan lupa untuk memelukku. AC disini sangat dingin." Ucap Jessie sambil membalikkan badannya. "Good night Ryan. Love you." Lanjut Jessie.
"Good night. Love you too." Ucap Ryan. Ryan kemudian menatap Alex sebentar lalu menghela napas pelan. "Uncle harus cepat sembuh demi Jessie. Ia sangat menyayangimu." Lanjut Ryan.
***
"Kau sudah selesai?" Tanya Ryan. Jessie sudah 15 menit berada di kamar mandi hanya untuk mengganti baju. Jessie tidak menjawab pertanyaan Ryan yang langsung membuat Ryan panik dan mengetuk pintu kamar mandi. Ryan membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci dan masuk kedalam.
Ryan menemukan Jessie menangis di depan wastafel. Ryan langsung memeluk kekasihnya dan menenangkannya.
"Kalau kau tidak mau pergi tidak apa. Tidak usah dipaksakan." Ucap Ryan.
"Mau aku datang kapan saja tidak akan merubah apapun. Justru aku harus bisa meluruskan apa yang terjadi dan membungkam mulut mereka secepatnya." Ucap Jessie. Ia kemudian mengusap wajahnya dan langsung keluar dari kamar mandi.
"Ayo kita pergi. Ry, kau tidak akan diam bukan?" Tanya Jessie. Ryan mengangguk mantap. Ia kasihan dengan keadaan kekasihnya sekarang dan Ryan akan membantu Jessie. Ia tidak tega Jessie dibuli oleh teman-temannya.
********************************************
Next update: 11 Mei 2021