The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
Special Part


"Sudah tiga minggu Ryan koma. Aku menjadi semakin khawatir." Ucap Jessie saat menyadari Alexa masuk kedalam kamar inap.


"Tapi dokter berkata kalau kondisinya menjadi lebih baik. Sebentar lagi Ryan pasti akan bangun."


Sudah tiga minggu sejak kejadian Jessie diculik dan juga sudah tiga minggu pula Ryan terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


Alexa mengusap pundak Jessie. Ia juga sedih melihat Ryan dengan keadaan seperti ini. Ia menarik kursi ke dekat Jessie lalu duduk. Ia menyerahkan sebuah surat penangkapan.


"Apa ini?"


"Surat penangkapan Michelle. Kau lagi-lagi melewatkan momen berharga. Dia ditangkap di kampus." Ucap Alexa. Ia kemudian mengeluarkan handphonenya lalu memperlihatkan foto Michelle yang berlinang air mata.


"Kenapa Ia ditangkap? Bukankah perihal kejadian itu disembunyikan dari pihak kepolisian?"


Alexa mendekatkan mulutnya ke telinga Jessie lalu membisikkan sebuah kata.


"Narkoba."


Jessie hanya mengangguk. Alexa kemudian lanjut bercerita mengenai kejadian di kampus dan juga pelajaran-pelajaran yang dilewatkan oleh Jessie. Saat mereka sedang mengobrol, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Alexa menawarkan diri untuk melihat siapa yang diluar.


Sesaat kemudian, Alexa kembali menutup pintu. Ia bahkan mengunci pintu. Hal itu membuat Jessie bingung dan sedikit panik.


"Ada apa? Kenapa kau mengunci pintu?"


Alexa menghirup udara lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Ada Alexandra diluar."


"Alexandra? Siapa dia? Jangan hanya memberikan kalimat sepotong-sepotong."


"Kau tahu Alexandra Gottardo?" Tanya Alexa. Jessie mengangguk. Siapa yang tidak tahu wanita itu?


"Apa dia klien Ryan? Mungkin saja dia ingin menjenguk Ryan. Biarkan saja dia masuk."


"Dia bukan hanya model. Dia juga orang seperti aku. Dia berasal dunia gelap juga. Kau tidak membuat masalah dengannya bukan? Karena dia mencarimu. Kau sebaiknya berhati-hati karena dia lebih berbahaya daripada daddyku, daddymu, ataupun Xander."


"Baiklah, aku akan menemuinya. Temani aku." Ucap Jessie. Alexa mengangguk. Lalu mereka bersama-sama keluar dari ruangan. menemui Alexandra.


"Aku hanya ingin bicara berdua dengannya." Ucap Alexandra. Alexa berdecih pelan lalu terpaksa meninggalkan Jessie. Alexa kembali masuk kedalam dan menemani Ryan.


"Cepatlah bangun. Kau mau Jessie terus bersedih seperti ini?" Tanya Alexa. Ia menatap pintu. Khawatir karena pembicaraan Jessie yang belum selesai. Alexa diam-diam berjalan mendekati pintu untuk menguping pembicaraan. Ia hanya bisa mendengar samar-samar suara Jessie dan tidak mendengar suara Alexandra. Seakan gadis itu berbicara sendiri.


Saat sedang asik mendengarkan, pintu ruangan dibukan tiba-tiba oleh Jessie. raut wajahnya sangat berbeda sebelum Ia keluar dan hal itu membuat Alexa semakin panik.


"Jessie, kenapa mukamu seperti itu? Apa yang kalian bicarakan?"


"Lupakan apa yang tadi aku bicarakan. Kita harus pergi ke dokter kandungan sekarang." Ucap Jessie terjeda. Alexa menatapnya dengan tatapan bingung. "Dia bilang kalau aku hamil."


"Bagaimana dia bisa tau?"


"Kau pikir aku tau? Sudahlah, ayo cepat. Aku ingin memastikan."


"Ms.Hendrick." Panggil perawat. Jessie bergegas berjalan masuk ke ruangan dokter diikuti oleh Alexa dari belakang.


"Selamat siang, Ms.Hendrick. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin memastikan kalau aku benar-benar hamil atau tidak." Jawab Jessie. Sebelum sang dokter bertanya lagi, Jessie sudah terlebih dahulu berbicara. "Aku tidak mengalami gejala. Aku hanya ingin memastikan."


Dokter yang bernama Wendy kemudian meminta Jessie untuk tidur diatas kasur untuk diperiksa. Jessie menurut lalu tidur. Ia juga membuka bajunya sehingga memudahkan pekerjaan Wendy.


Wendy mulai mengolesi gel di atas perut Jessie lalu mulai melakukan USG. Setelah memastikan, Wendy menunjuk titik kecil yang berada di monitor.


"Selamat Ms. Hendrick. Anda hamil. Anda lihat titik ini? Ini adalah calon buah hati anda." Ucap Wendy. Jessie dan Alexa sama-sama tidak percaya. Cairan bening keluar dari mata Jessie.


"Kau tidak bercanda bukan?"


"Tentu saja tidak. Untuk apa saya bercanda?" Tanya Wendy lalu terkekeh pelan. Wendy membersihkan gel di perut Jessie lalu menurunkan kembali bajunya. Jessie bangkit dan berjalan menuju meja untuk meminta tips kepada Wendy.


Setelah selesai, Jessie dan Alexa mengucapkan terima kasih dan kembali ke ruang inap Ryan. Ketika membuka pintu, mata Jessie membulat. Jessie tidak percaya apa yang Ia lihat sekarang.


Ryan sudah bangun.


Kekasihnya sudah bangun dan sekarang mereka bertatapan. Ryan menatap Jessie dengan senyuman.


"Kemarilah. Aku tahu kau merindukanku."


Semua orang yang berada dalam satu ruangan kemudian keluar karena tahu kalau Jessie dan Ryan membutuhkan waktu berdua. Setelah semua orang keluar, Jessie berjalan kearah Ryan lalu memukul lengan pria itu dengan kencang.


"Aku baru saja terbangun dari koma dan kau langsung memukulku? Tidak dapat dipercaya."


"Aku tidak memintamu untuk tidur sangat lama."


Ryan menggenggam tangan Jessie dan menciumnya. Ia berusaha duduk namun ditahan oleh Jessie.


"Tidur saja." Ucap Jessie. Ia kemudian menyerahkan hasil USG tadi kepada Ryan sambil menuntun tangan Ryan ke perutnya.


"Kau hamil?" Tanya Ryan.


Jessie hanya mengangguk sebagai jawaban. Ryan menarik tangan Jessie hingga gadis itu terjatuh di pelukannya. Jessie yang awalnya memberontak memilih untuk diam karena tahu Ryan tidak akan melepaskannya.


"Aku belum mempersiapkan cincin." Ucap Ryan.


"Untuk?"


"Melamarmu tentunya. Kau kira untuk apalagi?"


Semburat merah muncul di pipi Jessie. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Ryan. Ia juga memukul pelan Ryan. Pria itu hanya terkekeh lalu mencium Jessie.


"Tidurlah. Aku tidak mau kamu dan anak kita kelelahan."