The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
5 (revisi)


Waktu sudah menunjukkan jam pulang. Para mahasiswa dan mahasiswi pulang. Alexa sudah pulang duluan karena sopir pribadinya sudah menunggu di depan gerbang. Jessie dan Ryan menuju ke mobil Jessie. Ryan langsung membukakan pintu untuk Jessie. Jessie masuk ke mobilnya lalu pintu ditutup oleh Ryan. Ryan masuk ke mobil bagian pengemudi.


"Kau mau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu nona?"


"Tidak kita langsung pulang. Jangan panggil aku nona ketika kita sedang berdua. Aku sudah bilang padamu sejak pertama kali. Panggil aku dengan nama saja. Itu bukan permintaan yang susah bukan?"


"Saya tidak bisa melakukan hal itu,"ujar Ryan.


Jessie terdiam sebentar. Ia mencoba mencari cara supaya Ryan bisa mendengar permintaannya. Jessie tidak terbiasa dipanggil nona. Ia bukan siapa-siapa sehingga harus dipanggil seperti itu.


"Lakukan atau aku akan turun."


"Baiklah." Ryan tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin Ia membiarkan Jessie pulang sendiri. Ryan kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu pulang ke rumah Jessie.


...***...


Sesampainya di rumah, Jessie masuk ke kamarnya yang diikuti oleh Ryan. Alex masih bekerja jadi tidak ada dirumah. Jessie masuk ke kamar mandi. Selesai Ia mandi Ia ternyata lupa untuk membawa handuk.


"Ryan apakah kau bisa mengambilkan handuk untukku?"


"Tentu saja." Ryan mengambil handuk dan berjalan ke arah kamar mandi untuk memberikannya kepada Jessie.


Saat Jessie ingin mengambilnya, Ia tergelincir dan hampir saja menyentuh lantai kamar mandi. Untungnya Ryan dengan sigap langsung menangkap tubuh Jessie. Mereka saling adu tatap sebelum akhirnya mereka tersadar dan langsung melepaskan diri. Ryan yang melihat tubuh Jessie tanpa sehelai benang memutuskan untuk berbalik badan. Ia sudah melihat hal yang tidak pantas dan tidak sopan.


"Maafkan aku nona,"ucap Ryan sambil membelakangi Jessie.


"Tidak apa-apa. Lagian kau juga ingin menangkap ku supaya aku tidak jatuh. Dan apa kau lupa dengan perkataan ku tadi? Kau mau aku mengulangnya lagi?"ucap Jessie dengan nada datarnya. Walaupun wajah dan nada suaranya datar, tetapi hatinya berdegup kencang. Ini pertama kalinya ada orang yang melihatnya dalam keadaan telanjang seperti ini.


"Maafkan aku, Jessie."


Jessie mengangguk dan kembali menutup pintu kamar mandinya. Ia langsung mengeringkan badannya lalu memakai baju santai. Jessie keluar dari kamar mandi dan melihat Ryan yang masih membalikkan tubuhnya.


"Kau sudah bisa membalikkan tubuh mu,"ucap Jessie sambil berjalan ke arah meja riasnya. Jessie mengeringkan rambutnya sebelum akhirnya Ia mengambil sisir lalu menyisir rambutnya. Ryan membalikkan badan dan melihat Jessie sedang menyisir rambutnya. Selesai menyisir, Jessie tiduran di kasur.


"Ryan... sini." Panggil Jessie sambil menepuk kasurnya. Ryan berjalan ke arah Jessie yang sedang tiduran.


"Ada apa?"


"Saya tidak bisa melakukan itu."


"Hanya duduk Ryan. Lagian kita dulu teman kan."


"Saya tetap tidak bisa melakukan itu,"ucap Ryan yang masih menolak. Jessie bangkit dan duduk di kasurnya. Lalu Ia mengambil tangan Ryan lalu menariknya. Tapi sayang usaha Jessie sia-sia.


"Apa yang anda lakukan?"


"Panggil dengan aku kamu saja. Aku hanya ingin membuatmu duduk disini,"ucap Jessie. Ia melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin cerita. Kau tidak tau bukan apa yang sebenarnya terjadi?"


Ryan akhirnya duduk di pinggiran kasur. Ia hanya ingin menuruti permintaan Jessie. Jessie langsung duduk disebelah Ryan lalu menyender pada bahunya.


"Kau tau, walaupun Daddy bilang bahwa mommy meninggal karena kecelakaan. Tapi aku melihat bekas yang aneh ditubuhnya dari foto yang diberikan oleh petugas yang mengamankan mommy,"ucap Jessie. Ryan mengernyitkan dahinya.


"Apa maksudmu? tanda aneh?"tanya Ryan yang langsung penasaran. Pasalnya yang dia tau bahwa ibunya Jessie meninggal karena kecelakaan mobil.


"Ada tanda aneh di lehernya. Bukan seperti luka kecelakaan. Lukanya seperti 2 titik."


"2 titik?"tanya Ryan sambil berpikir. Apa yang bisa menyebabkan bekas luka 2 titik. Ia langsung terpikir ke arah teaser gun. Tapi sepertinya tidak mungkin.


"Pikiran ku hanya terpaku kepada teaser gun. Tapi sepertinya tidak mungkin. Kau sudah bertanya kepada daddymu?"ucap Ryan.


"Ayahku hanya bilang itu hanya bekas kecelakaan. Tentu saja aku tidak percaya,"ucap Jessie. Ia membetulkan posisi kepalanya di pundak Ryan.


"Benar kata Alexa. Pundak mu nyaman,"ucap Jessie yang sudah mengantuk. Beberapa kali Ia menguap.


"Tidurlah. Kau sudah menguap terus."


"Jangan pergi,"ucap Jessie sambil berusaha tidur di kasurnya.


"Aku tidak akan pergi."


Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran pelan dari Jessie. Ia sudah tertidur. Ryan yang melihat itu mencium kening Jessie. Ia tersenyum melihat Jessie. Ia kasihan kepada gadis itu karena tidak ada yang mau mengerti dirinya kecuali Alexa, keluarganya dan tentu saja dirinya.


"Selamat tidur dan mimpi indah Jessie."