The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
24


Ryan terbangun ditengah malam karena ada seseorang yang menggedor pintunya dengan keras. Ia pun melihat Jessie masih tertidur dengan lelap dan memeluk guling yang Ryan berikan dengan sangat erat tidak terlihat terganggu sedikit pun dengan suara keras itu.


Ryan pun bergegas berjalan kearah pintu masuk lalu membukanya. Tidak ada orang disana, namun ada sebuah kotak mencurigakan tepat didepannya. Ryan pun ragu untuk mengambilnya. Namun setelah digoyangkan, Ryan merasa kotak itu ringan. Ia pun membawa masuk kotak itu dan menaruhnya di meja.


"Ryan, apa itu?" Tanya Jessie yang ternyata sudah bangun. Ia pun melihat ada sebuah kotak aneh diatas meja. "Siapa yang mengirim kotak aneh itu? Ini jam dua pagi Ry..." Ucap Jessie. Lalu Ia memeluk Ryan dari belakang dan memejamkan matanya.


"Entahlah. Tadi ada yang menggedor pintu dan ketika aku membuka pintu hanya ada kotak ini." Ucap Ryan. Jessie pun melepaskan pelukannya dan ikut melihat kotak itu. Tanpa aba-aba, Jessie langsung membuka kotak itu dan berisi sebuah surat yang ditulis dengan tinta merah.


"Aku tidak mau membacanya." Ucap Jessie. Ia pun mengambil surat itu dan memberikannya kepada Ryan untuk dibaca. Ryan pun mengambil kertas itu lalu membacanya.


"Apa isinya?" Tanya Jessie yang penasaran. Pasalnya setelah membaca surat itu, Ryan langsung terdiam. Mulutnya yang awalnya bergerak mengikuti kata yang ditulis sekarang tidak bergerak sama sekali. Matanya pun sedikit melotot.


Tanpa bicara apapun, Ryan langsung menyerahkan surat itu untuk dibaca sendiri oleh Jessie. Jessie yang awalnya ragu pun langsung menerima surat itu. Ia juga penasaran dengan isi surat tersebut. Alangkah terkejutnya Ia ketika membaca surat itu.


Bersiaplah 2 bulan lagi. Jangan pikir, kau akan selamat nanti. Nikmatilah 2 bulan penuh ketenangan ini. Titip salam untuk Ryan. He knows me.


Xr


"Setidaknya masih 2 bulan bukan." Ucap Jessie dengan tertawa canggung tapi matanya menunjukkan ketakutan. Ryan pun mengambil handphonenya lalu memfoto kertas itu dan mengirimkannya kepada Alex. Tapi, ada yang dia tidak mengerti. Siapa Xr ini? Mengapa orang itu bilang bahwa Ia mengenalnya?


"Ryan apa kau mengenalnya? Jika dia mengenalmu kenapa harus aku coba? Benar-benar orang gila." Ucap Jessie. Ryan sekarang benar-benar merasa bersalah. Kalaupun ini masalah pribadi mengapa harus membawa Jessie. Ryan langsung pusing memikirkan masalah ini.


"Ryan, aku lapar." Ucap Jessie sambil memegang perutnya. "Inilah mengapa aku tidak suka terbangun tengah malam." Lanjutnya.


"Kau sudah membaca surat ini bukan?" Tanya Ryan. Sesantainya Jessie, harusnya Ia mengerti kalau 2 bulan lagi nyawanya akan sangat terancam. Dan dia masih bisa-bisanya memikirkan makan?


"Ya... Itu masih 2 bulan lagi Ry. Aku percaya padamu." Ucap Jessie sambil tersenyum. "Sekarang katakan dimana kau menyimpan mie instan? Atau kau mau memasak untukku juga boleh."


Ryan pun berjalan kearah salah satu rak lalu melihat stok mie instannya dan ternyata kosong. Ryan baru ingat, Ia jarang membeli mie instan.


"Sepertinya ada yang harus memasak untukku atau aku tidak akan bisa tidur." Ucap Jessie. Ryan pun menghela nafas dan membuka kulkasnya.


"Telur?" Tanya Ryan. Jessie mengangguk. Asalkan dia bisa makan maka makanan apa saja boleh.


Ryan pun langsung mengambil teflon lalu menaruh mentega dan langsung memanaskannya. Setelah panas, Ia langsung memecahkan telur dan membuat telur mata sapi.


"Ryan, aku mau bagian tengahnya bisa mengalir." Ucap Jessie.


"Ryan, kenapa kau bisa masak?" Tanya Jessie. Ryan pun tertawa mendengar itu. "Aku disini sendiri. Tentu saja aku bisa masak." Jawab Ryan.


"Ryan, aku masih lapar." Ucap Jessie. Ryan pun menaikkan satu alisnya. "Kau mau telur lagi?" Tanya Ryan. Jessie langsung menggeleng mendengar pertanyaan Ryan.


"Aku mau mie instan. Ayo kita ke minimarket terdekat." Ucap Jessie. Lalu Ia menarik tangan Ryan untuk keluar dari apartemennya.


"Kau mau keluar dengan baju seperti itu? Bagaimana jika kau ditatap dengan tatapan mesum oleh pria hidung belang?" Tanya Ryan. Jessie pun terkekeh sambil mengambil jaket dan memakainya. "Kau cemburu?" Tanya Jessie. Ryan langsung berdecak kesal. "Aku kekasihmu."


Ryan dan Jessie pun keluar dari apartemen dan pergi ke minimarket terdekat. Saat berjalan ke minimarket, mereka melihat beberapa pria yang sedang mabuk-mabukan. Ryan langsung merangkul Jessie secara posesif. Jessie hanya menikmati rangkulan Ryan.


Saat mereka sampai di minimarket, Jessie langsung berjalan kebagian rak mie instan dan langsung membeli dua bungkus. 1 untuknya dan 1 untuk Ryan. Jessie pun langsung membawanya ke kasir dan membayarnya. Setelah membayar, mereka langsung balik ke apartemen.


"Kita niat juga Ry. Beli mie instan jam 2 pagi." Ucap Jessie.


"Kamu yang mau bukan." Ucap Ryan.


Saat mereka sampai, Jessie langsung memasak mie instan itu dan makan berdua. Setelah selesai makan, mereka langsung pergi ke kamar untuk tidur kembali.


"Ryan, kau mau melanjutkan kegiatan kita kemarin?" Tanya Jessie sambil memeluk Ryan. "Bahuku belum sembuh, Jessie" Jawab Ryan.


"Padahal kau tinggal tidur dan biarkan aku yang bergerak. Tapi tidak apa-apa. Good night Ryan. Love you." Ucap Jessie lalu mencium pipi Ryan."Good night Jessie. Love you more." Balas Ryan. Lalu merekapun kembali tertidur dan memasuki alam mimpi masing-masing.


******************************************


Helios Ryan Rynville



Alexandra Jessie Hendrick



Hayo Xr siapa tuh😂😂😂


Next update: 19 April 2021