The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
41


"Apa maksudmu? Aku anak seorang pembunuh? Tidak mungkin." Ucap Jessie. Michelle kemudian tertawa sangat keras. Tidak ada yang tertawa selain dirinya karena mereka semua ditatap tajam oleh Ryan.


"Ayahmu lah yang membunuh kedua orang tua Ryan." Ucap Michelle. Jessie seketika menatap kearah Ryan. "Ry, kau masih menerima Jessie menjadi kekasihmu setelah kau tahu ini?"


"Ya."


"Apa? Kau masih mau bersamanya? Ry, dia yang membu-" Ucap Michelle terpotong. Ia melihat Ryan yang seperti sudah siap untuk menerkamnya hidup-hidup.


"Ya, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum menyebar kebohongan lagi. Aku tahu siapa yang membunuh orang tuaku dan yang pasti itu bukan orang tua Jessie." Ucap Ryan. Ia kemudian menarik Jessie keluar dari kampusnya.


Di luar kampus, Ryan melihat muka Jessie yang sudah merah karena menahan tangisnya. Ryan memeluk Jessie membiarkan wanita itu menangis di pelukannya.


"Keluarkan saja semuanya jangan ditahan. Aku tidak akan percaya dengan Michelle. Wanita itu hanya mengada-ngada."


"Bagaimana kalau benar?" Tanya Jessie sambil melihat kearah Ryan. Ryan tersenyum melihat wajah Jessie lalu mencium kening dan kedua matanya.


"Kita tahu sendiri siapa yang melakukannya." Ucap Ryan. Ia kemudian memegangi kedua pipi Jessie. "Jika kau menangis terus nanti make up di lehermu luntur. Kau tidak mau itu terjadi bukan?"


Jessie langsung menghapus air matanya dan berhenti menangis. Tentu saja Ia tidak mau itu terjadi.


"Kau masih mau kuliah? Ini belum jam masuk jadi kau masih bisa ijin."


"Tentu saja Ia akan tetap masuk. Aku sudah mempermalukan Michelle didepan semua orang." Ucap Alexa. Ia berjalan bersama Kenneth dengan wajah yang tersenyum.


"Harusnya kau melihat apa yang terjadi padanya Memalukan sekali.." Sambung Kenneth. Ia terkekeh pelan mengingat apa yang terjadi barusan.


"Apa yang terjadi? Ceritakan padaku." Ucap Jessie. Alexa kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Michelle.


flashback


"Kau sudah merasa dirimu paling benar hah?" tanya Alexa setelah melihat Jessie pergi. Michelle yang tersenyum puas hanya menganggukkan kepalanya.


"Kau yakin?" Tanya Alexa sekali lagi.


"Tentu saja. Terserah kalian akan percaya padaku atau ngga." Ucap Michelle tak acuh. Alexa kemudian tersenyum lalu membuka handphonenya. Ia kemudian menunjukkan beberapa gambar yang berisi Michelle berjalan dengan pria yang berbeda-beda di sebuah hotel.


"Ayahmu seorang pemerkosa dan sekarang anaknya menjual diri. Berapa hargamu? Ku yakin sangat murah." Ucap Alexa.


"HEI CANTIK! APA SERIBU DOLLAR CUKUP UNTUK SATU MALAM?" Teriak salah satu mahasiswa yang diikuti oleh tertawaan dari semua orang. Michelle kemudian menatap Kenneth. Tentu saja Kenneth hanya ikut tertawa. Tapi diakhir Ia menunjukkan seringai jahatnya.


"Maaf Michelle. Kita tidak tahu kau seperti itu. Kita tidak usah berteman lagi." Ucap salah satu dari mereka. Kemudian mereka pergi meninggalkan Michelle sendirian.


"Tenang saja. Kau masih punya pria yang dengan senang hati menemanimu setiap malam." Ucap Kenneth. Mereka kemudian tertawa kembali.


"Sudahlah. Kita susul Jessie saja." Ucap Alexa. Kenneth mengangguk lalu mereka pergi dari sana. Membiarkan Michelle di olok-olok oleh semua orang.


flashback end


"Ya, kira-kira begitu. Entahlah sekarang sudah bubar karena dosen atau belum. Yang pasti kau harus masuk. Kau harus lihat nanti muka Michelle akan seperti apa. Aku jamin dia juga tidak akan berani menatapmu." Ucap Alexa. Jessie tersenyum mendengar itu. Seharusnya Ia bilang hal yang sama seperti Alexa. Tidak harusnya Ia merasa kasihan kepada Michelle.


"Sepertinya jika kita datang lebih telat kita akan melihat pemandangan romantis atau mungkin panas." Ucap Kenneth. Jessie berdecak kesal mendengar itu. Ia kemudian berjalan cepat masuk kedalam kampus.


"Lihatlah, kau membuatnya kesal." Ucap Alexa.


"Aku mengejek pak tua bukan dia. Kau seharusnya melihat ekspresi pak tua saat mendengarmu." Ucap Kenneth sambil menatap Ryan sekilas.


"Sudah diam."


"Kenapa kau sangat suka mengejek Ryan?" Tanya Alexa. Kenneth mengangkat kedua bahunya.


"Entahlah. Aku suka melihat muka kesalnya." Jawab Kenneth. Mereka berjalan menuju kelas dan melihat Jessie yang sudah duduk di tempatnya. Ryan seperti biasa hanya menunggu di luar sambil mengirim pesan kepada anak buahnya yang berada di rumah sakit.


Tiba-tiba saja anak buahnya tidak membalas dan hanya membaca. Ryan yang panik menelepon berkali-kali bahkan mengirimkan pesan beruntun tapi tetap saja tidak ada tidak ada balasan. Ryan berusaha berpikir positif. Mungkin saja anak buahnya meninggalkan handphonenya dalam keadaan menyala. Sampai satu pesan dari anak buahnya yang langsung membuat Ryan panik. Ia segera masuk kedalam kelas Jessie lalu memberitahu kepada dosennya apa yang terjadi.


"Jessie, kau diperbolehkan pulang lebih awal." Ucap dosen. Jessie kemudian membereskan barangnya lalu berjalan kearah Ryan. Ia menunjukkan ekspresi bingung.


"Apa yang terjadi?" Tanya Jessie.


"Rumah sakit diserang. Anak buahku kalah jumlah dan sekarang mereka membawa Uncle Alex."


********************************************


Mulai nih konflik utama. Coba kalian komen tentang alur cerita ini kedepannya. Tentang hubungan Xander dengan Jessie dan Ryan. Author mau tahu ada yang ketebak atau ngga 😂😂 Banyak teka-teki soalnya.


Besok mau up lagi?