
Kenneth kemudian berhenti sejenak sambil menatap Jessie. Ia yang terpikirkan sebuah ide tanpa aba-aba langsung merobek baju yang Jessie kenakan. Terlihatlah payudara Jessie yang tertutupi oleh bra.
"PRIA MESUM!" Teriak Jessie. Ryan menutup matanya sambil berusaha menahan emosinya. Tangannya semakin berusaha untuk melepaskan ikatannya. Ryan meringis kesakitan yang membuat Kenneth menatap kearahnya. Kenneth berjalan kearah Ryan dan melihat ada darah yang menetes.
"Bersabarlah pak tua. Nanti ada saatnya kau akan dilepaskan." Kenneth kemudian berbalik badan kembali melihat tubuh bagian atas Jessie. "Sekarang aku tahu kenapa kau tidak bisa menahan hasratmu."
Kenneth menyamakan tingginya dengan Ryan yang sedang duduk. Ia menjulurkan tangannya kedepan menyamakan dengan letak payudara Jessie lalu membuat gerakan meremas. Jessie hanya menampilkan muka jijiknya karena diperlakukan seperti itu.
Ryan kemudian berhasil melepaskan ikatannya dan langsung meninju wajah Kenneth hingga pria itu terdorong kebelakang. Kenneth kemudian berlari kearah Ryan sambil mengarahkan pisaunya. Ryan dengan sigap menghindar dari Kenneth lalu menggenggam tangan Kenneth yang memegang pisau. Ryan menendang perut Kenneth yang membuat Kenneth langsung menjatuhkan pisaunya. Ryan melepaskan pegangannya dan Kenneth terjatuh kelantai sambil terbatuk. Ryan mengambil pisau Kenneth dan berjalan kearah Jessie untuk melepaskan ikatan tangannya.
"Kau pakai bajumu yang robek dulu untuk menutup lukamu dan pakailah bajuku." Ucap Ryan sambil melepaskan bajunya dan memberikannya kepada Jessie. Jessie menerimanya lalu menekan luka diwajahnya dengan bajunya. Ryan kemudian berbalik kearah Kenneth dan mulai menghajarnya kembali.
"Ini karena kau sudah berani mencium kekasihku."
BUGH
"Ini karena kau sudah berani melukainya."
BUGH
Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah Kenneth hingga wajahnya babak belur dan hidung serta mulutnya mengeluarkan darah. Jessie keliling ruangan mencari senjata namun tidak menemukan apapun. Ia berjalan kearah pintu dan berusaha untuk membukanya. Jessie menyadari bahwa pintu itu tidak terkunci dan langsung membukanya. Namun saat membukanya, Xander sedang berdiri tepat di depannya sambil tersenyum.
"Mau kemana gadis manis?" Tanya Xander. Ia melihat kearah anaknya yang babak belur dan hanya tersenyum tipis. "Anak bodoh. Ia bahkan tidak bisa membela dirinya dengan benar."
Xander kemudian mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada Jessie. Ryan yang melihat itu langsung berhenti.
"Kau takut? Sudah sepantasnya. Xavier sudah kusingkirkan sehingga tidak bisa membantu kalian."
Kenneth kemudian berusaha bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia sudah tidak tahan berada di ruangan itu. Untungnya Ryan hanya melukai wajahnya dan tidak dengan anggota tubuh yang lain sehingga memudahkannya untuk berjalan. Sebelum Ia keluar, Kenneth melirik sekilas kearah Xander. Kenneth menghela napas pelan, Xander kecewa padanya. Ia tahu itu. Tidak mau mengganggu ayahnya, Kenneth keluar dari ruangan dan menutup serta mengunci pintunya.
Ryan meringis kesakitan. Kedua tangannya mulai sakit kembali dan mengucurkan darah lebih banyak. Xander tertawa pelan melihat Ryan.
"Jangan menertawakan Ryan. Setidaknya Ia bisa mengalahkan putramu yang membawa senjata." Ucap Jessie dengan nada mengejek. Xander berdecih pelan lalu mengarahkan pistolnya ke bahu Jessie.
DOR
"ARGHHH." Teriak Jessie kesakitan. Ia langsung terjatuh sembari memegangi bahunya yang ditembak tadi. Ryan segera berlari kearah Jessie namun terhenti karena ancaman Xander.
Jessie mengambil bajunya yang terjatuh dilantai dan menekan luka tembaknya. Berusaha mengurangi darah yang keluar.
"Kau tidak akan mati hanya karena itu, Jessie. Jadi mari kita menunggu Xavier yang sepertinya belum mati untuk datang." Ucap Xander. Ia menatap kearah Ryan yang sedang menatapnya tajam. "Jangan macam-macam. Kasihan Jessie belum tahu ayah kandungnya tetapi mati duluan hanya karena kau."
...***...
Di tempat lain, Alexa bersama dengan anak buah Xavier sedang mengintai bangunan tempat Ryan dan Jessie disekap dari pepohonan. Tempat penyekaoam tersebut berada di tengah hutan dimana tidak ada satu orang pun yang bisa mengetahui lokasinya. Alexa sesekali juga berbicara dengan ayahnya agar tahu keadaan disana. Tapi tiba-tiba selama 15 menit, Xavier tidak memberikan tanda seperti yang sudah direncanakan.
"Apa yang harus kita lakukan nona?"
"Kita tunggu saja daddy. Mungkin ada Xander disana sehingga Ia tidak bisa memberikan tanda." Ucap Alexa. Jujur, Ia juga tidak tenang dengan keadaan Xavier saat ini. Ia ingin masuk namun takut dengan anak buah Xander yang lebih banyak.
"Alexa, kau dengar daddy?" Tanya Xavier. Alexa menghela napas lega.
"Tentu saja aku dengar. Daddy membuat semua orang khawatir."
Terdengar kekehan dari Xavier. "Daddy kuat. Walaupun sekarang terluka sedikit. Sekarang daddy akan menyusul Jessie dan Ryan terlebih dahulu. Jangan khawatirkan daddy. Saat daddy beri tanda berupa lima ketukan maka kau harus bersiap dengan tim medis yang sudah Daddy siapkan."
"Okay daddy."
...***...
Xavier sudah sampai didepan ruangan dan langsung mendobrak pintu itu supaya tidak bisa ditutup dan dikunci kembali. Xander sontak melihat kearah pintu. Xavier dipenuhi darah dan ada beberapa luka tusukkan namun masih bisa berdiri dengan gagah. Xavier melihat Jessie yang terduduk dilantai dengan luka di bahu yang Xavier yakini itu adalah luka tembak.
"Xander, kau sudah keterlaluan. Lepaskan mereka."
"Kau terlalu baik Xavier." Xander kemudian menghirup udara lalu mengeluarkannya kembali. "Baiklah, sekarang adalah saatnya Jessie tahu ayah kandungnya."
********************************************
Bentar lagi end nih kayaknya....
Mau happy end atau sad End nih😂😂 Kalau author sih maunya...