The Perfect Bodyguard

The Perfect Bodyguard
School Life


Jessie terbangun dan melihat dirinya sudah di kasur. Ia melihat Ryan yang sudah terbangun dan memperhatikannya dari sofa. Jessie kemudian mengambil handphonenya dan mengecek waktu. Ia melihat sekarang masih jam 4 pagi dan memutuskan untuk kembali tidur.


"Lebih baik kau bersiap-siap."


Jessie membuka matanya ketika mendengar suara Ryan. "Sekolah mulai jam delapan. Bangunkan aku saja jam 6."


"Apakah kau tahu kalau kau semalam mengigau? Tangan saya menjadi merah karena kau terus menggenggamku," ucap Ryan sambil menunjukkan tangannya.


Jessie terbangun lalu melihat tangan Ryan yang terlihat baik-baik saja. Jessie berdecak kesal karena Ryan mengerjainya. Jessie ingin kembali tidur namun sayang rasa kantuknya sudah hilang. Jessie memukul tangan Ryan hingga tangannya memerah.


"Tanganmu sangat merah. Aku tidak menyangka kulitmu setipis itu."


Ryan mengusap tangannya pelan. "Kukit saya tidak tipis tapi tenagamulah yang sekuat gajah."


Jessie menatap Ryan dengan sinis, membuang muka, lalu berjalan menuju kamar mandi untuj bersiap. Jessie yakin hari inj akan sangat melelahkan karena Ia tidak pernah bangun sepagi ini sebelumnya.


***


"Apa aku tidak salah lihat? Seorang Jessie datang sepagi ini dan tidak terlambat," ucap sahabat Jessie yang bernama Carla.


Jessie baru sampai ke kelasnya dan langsung mendapat ejekan dari sahabatnya. Ryan yang mendengar ucapan Carla hanya berdeham untuk menahan tawanya. Jessie langsung menyikut pelan untuk menyuruh Ryan diam.


"Itu siapa? Kau akhirnya menemukan sugar daddy?" tanya Quincy, salah satu sahabat Jessie.


Jessie tersenyum. "Sepertinya begitu. Aku tidak yakin berapa gajinya perbulan tapi aku tahu dia sangat kaya raya. Aku bertemu dengannya di club yang biasanya kita datangi."


"Jangan percaya padanya. Aku yakin dia hanyalah Bodyguard yang diminta ayahnya untuk menjaga princessnya."


"Ayolah, lihat saja mukanya. Apa kau yakin dia hanya seorang bodyguard? Agensi model pun sepertinya mau menerimanya. Apa mau aku kenalkan?"


Ryan yang mendengar percakapan mereka bertiga hanga diam. Ia tidak tahu kalau remaja sekarang sudah sangat liar. Mungkin itulah mengapa Ia bisa bertemu dengan Jessie pada malam itu.


"Tapi kau bertemu dengannya di club bukan? Apakah kalian-"


"Tidak!" Jessie dengan cepat menyela ucapan Quincy. Jessie tahu apa yang akan Quincy bahan dan Ia tidak mau kalau semua orang di kelasnya mendengar.


Jessie yang kesal meninggalkan sahabatnya dan berjalan menuju mejanya. Ia mengeluarkan buku yang diperlukannya lalu menaruh tasnya di kursi.


"Saya tidak bisa berjaga di kelas."


"Bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba menyerangku dari dalam kelas dan kau terlambat masuk sehingga akh terluka atau bahkan meninggal?" Jessie benar-benar tidak mau ditinggal oleh Ryan.


"Tidak akan."


...***...


Di suatu tempat dengan pencahayaan remang-remang, sesosok pria berjalan masuk ke ruangan yang besar. Terlihat meja panjang dan satu kursi Paling ujubg yang membelakangi sang pria.


"Bawahan anda sudah siap. Mereka sudah berjaga di tempat," ucap pria itu. Ia terus berdiri menunggu ketuanya untuk membuka mulut.


"Baik, Queen."


...***...


Jessie merasa sangat bosan. Ia paling tidak suka dengan pelajaran matematika. Saat ini matanya sudah siap untuk tertidur. Penjelasan sang guru seperti cerita pengantar tidur yang masuk ke dalam telinganya. Jessie sesekali melihat pintu kelas dan memperhatikan Ryan yang berdiri. Hanya dengan siluet dari Ryan mempu membuat Jessie tersenyum.


"Jessie, kau mau perhatikan papan tulis atau mau saya usir keluar?" Guru matematika itu menyadari Jessie yang tidak fokus dan selalu melihat kearah pintu. Ia dan guru-guru lain sudah diberitahu bahwa Jessie harus dijaga oleh Ryan untuk alasan keamanan tapu itu bukan berarti Jessie boleh tidak fokus di kelas.


Jessie langsung mengembalikan pandangannya kearah papan tulis. Sang guru lanjut mengajar dan Jessie diam-diam terus melirik kearah Ryan. Hingga suatu saat Ia melihat siluet Ryan tidak berada di depan pintu, Jessie mengangkat tangannya untuk ijin ke toilet.


Dengan berat hati sang guru mengiyakan dan Jessie langsung berjalan keluar kelas. Ia hanya bisa melihat tingkah Jessie sambil menggelengkan kepala saja. Jika Ia tidak memperbolehkan maka Jessie akan mencari banyak cara supaya bisa keluar kelas. Jessie merupakan anak dari donatur sekolah dan murid yang busa dibilang pintar hanya saja tingkahnya yang membuat banyak guru menjadi kesal.


"Kenapa kau pergi? Aku kira kau tidak akan pergi. Jangan tinggalkan aku," ucap Jessie sambil mengikuti Ryan. Langkah Ryan yang besar membuat Jessie harus berlari kecil supaya bisa mengejar Ryan.


"Saya ingin pergi ke toilet."


Jessie tersenyum mendengar ucapan Ryan. "Tapi kita baru saja melewati toilet. Aku yakin kau tadi juga melihat tandanya. Jangan berbohong."


Ryan berhenti lalu terdengar suara helaan napas. "Saya tidak mau mengganggu fokusmu. Suara gurumu terdengar hingga luar kelas."


"Maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan kalau kau selalu berada di depan kelas." Jessie kemudian menarik tangan Ryan dan membawa pria itu ke taman sekolah.


Taman terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa murid yang berada disana mereka semua adalah murid-murid yang bolos seperti Jessie sekarang. Jessie berjalan menuju tempat favoritnya yang berada di ujung taman. Tempat itu sejuk dan jarang ketahuan oleh guru yang mengawas.


"Kau bolos? Kau harus kembali ke kelas sekarang," ucap Ryan. Ia berhenti lalu menghalangi jalan Jessie.


"Sudahlah. Lagipula aku bisa lari dan meninggalkanmu sendiri lalu aku ngadu ke daddy kalau kau meninggalkanku sendiri." Jessie tersenyum setelah mengucapkan ancaman kepada Ryan. Namun Ia melihat Ryan tidak merasa terancam sama sekali.


"Kau yakin ucapanmu akan dipercaya?" Ryan tersenyum tipis melihat ekspresi Jessie yang kesal.


Jessie memilih untuk lari menerobos tangan Ryan yang menghalangi dirinya. Tenaga Jessie yang lemah tidak bisa Mengalahkan tenaga Ryan. Jessie terus berusaha supaya bisa bolos namun Ryan selalu menghalanginya.


Tingkah Jessie menjadi pusat perhatian di taman. Mereka menjadi takut tertangkap oleh guru namun mereka tidak berani menegur Jessie. Sampai akhirnya ada satu orang perempuan uhf yang berjalan menuju mereka dan meminta Jessie untuk berhenti.


"Permisi, apakah kau bisa berpindah tempat? Kau menghalangi jalanku."


Jessie berhenti lalu melihat wanita itu dari atas hingga ke bawah. Jessie mendengus kesal lalu pergi menuju tempat bolosnya. Meninggalkan Ryan dan perempuan itu tanpa sepatah kata pun. Ia benar-benar kesal karena Ryan harus menghalanginya. Tugasnya Hanya melindungi Jessie bukan menjadi orang tua pengganti.


Perempuan itu berjalan sambil sekilas menatap Jessie. Jessie yang masih kesal balas menatap perempuan itu hingga perempuan itu membuang muka dan berjalan masuk ke sekolah. Ia mengambil handphonenya dan mengucapkan sesuatu.


"Mereka lengah."


********


KOMEN YANG BANYAK YAAA ❤️