
Pada malam hari, Alexa dan Jessie sedang mengendap-endap menuju dapur. Sekarang sudah tengah malam dan mereka melihat Ryan sudah tertidur. Jadi mereka memutuskan untuk memasak sendiri di dapur.
"Kita akan masak apa?" Tanya Jessie dengan nada pelan. Alexa langsung berjalan ke arah salah satu rak yang ada di sana lalu mengambil sebuah box yang berisi mie instan.
"Kau mau rasa yang mana?" Tanya Alexa. Ia mengambil mie instan favoritnya. Jessie pun mengambil sebungkus mie instan.
Jessie langsung mengambil panci dan mengisi air untuk di rebus, sementara Alexa menyiapkan mangkuk, sendok dan garpu. Setelah merebus air, Jessie langsung membuka bungkus mie instan dan menuang bumbunya di mangkuk. Setelah air sudah mendidih, Jessie langsung memasukkan mie nya. Selagi menunggu, Jessie mengobrol dengan Alexa. Setelah mie instan punya Jessie sudah matang, Alexa langsung merebus air kembali untuk memasak mie miliknya.
Setelah mie Alexa matang, Ia langsung menuangkan mie itu ke mangkoknya. Lalu mereka makan mie instan itu bersama-sama. Mereka pun terkadang bercanda tapi kemudian langsung diam karena tidak ingin menimbulkan suara. Mereka pun menyadari bahwa ada orang yang mengawasi mereka. Mereka pun melihat ke arah pintu perbatasan ruang makan dan lorong. Ryan sedang menyender sambil menyilangkan kedua lengannya. Jessie dan Alexa langsung tersenyum ke arah Ryan.
"Hai Ryan... Kau mau?" Tanya Jessie sambil menyodorkan mangkuk mie nya. Ryan langsung menaikkan satu alisnya tetapi tidak bilang apa-apa. "Ayolah Ryan... Kita lapar." Ucap Alexa. Ryan pun menghela nafasnya. "Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanya Ryan.
Jessie dan Alexa pun terdiam. Mereka tahu jika membangunkan Ryan maka mereka tidak akan diperbolehkan untuk makan saat tengah malam.
"Karena kau sudah tertidur dan kami tidak tega untuk membangunkan mu." Ucap Alexa. Jessie langsung mengangguk menyetujui jawaban Alexa. "Tidak tega atau karena kalian tahu aku akan melarang?" Tanya Ryan lagi. Saat Ia terbangun, Ia terkejut tidak menemukan keberadaan 2 gadis itu. Untungnya mereka ada di ruang makan. Jika kedua gadis itu kena masalah maka tamatlah riwayat Ryan.
"Ya itu salah satu alasannya. Ayolah Ry... Biarkan kami makan mie ini. Kalau kau mau mie instannya ada di rak sebelah sana." Ucap Alexa sambil menunjuk ke rak tempat menyimpan mie instan tersebut. Ryan menggeleng lalu duduk disebelah Jessie. Jessie langsung mengambil sesendok mie lalu memberikannya kepada Ryan. Ryan tentu menolaknya tetapi Jessie memaksa. Akhirnya Jessie pun menyuapkan mie itu ke mulut Ryan.
"Romantis sekali." Ucap Alexa sambil menyindir mereka. Jessie hanya terkekeh pelan dan Ryan hanya diam dan mengunyah mie. "Setelah selesai kalian harus langsung tidur. Besok kuliah." Ucap Ryan. Jessie dan Alexa mengangguk. Karena tidak ingin tidur cepat, mereka memakan mie itu secara perlahan. Ryan hanya menghela nafas melihat tingkah laku mereka. Secara diam-diam Ryan mengeluarkan handphonenya lalu memotret Jessie. Setelah itu Ia memasukkan kembali handphonenya kedalam kantong celananya. Tiba-tiba ada seorang pelayan yang berjalan ke arah mereka.
"Permisi, maaf mengganggu nona... Tuan besar menyuruh anda dan teman anda untuk segara tidur." Ucap pelayan. Jessie hanya terdiam sementara Alexa hanya berdecak kesal. Daddynya benar-benar seperti orang yang tidak pernah menikmati waktu muda.
Ia pun langsung memakan mie itu dengan cepat. Ryan pun bangkit dan mengambil 2 gelas air dan memberikannya kepada Jessie dan Alexa. Alexa langsung meneguk habis air itu lali meninggalkan mangkuk dan gelas di atas meja membiarkan pelayan yang membersihkannya. Sementara menunggu Jessie, Ia langsung mengirim pesan pada ayahnya.
HEROβ€οΈ
^^^Daddyyy mengapa kau sangat jahat?^^^
^^^Bisa bolos dad.^^^
Daddy tidak pernah mengajarkan seperti itu. Ada Jessie juga. Kau mau dia telat?
^^^Ada Ryan dad...^^^
Daddy tidak peduli. Sekarang sudah jam 1 jadi sebaiknya kalian tidur. Kalau kau membantah maka jangan salahkan Daddy jika semua fasilitasmu Daddy tarik.
^^^Daddy kayak gak pernah muda aja.^^^
Alexa langsung menutup handphonenya lalu berdecak kesal. Jessie yang sudah selesai makan langsung mengajak Alexa untuk tidur. Mereka bertiga langsung kembali ke kamar dan langsung tidur.
ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ
"Hah... Untung saja kau anak kesayangan Daddy." Ucap Xavier. Lalu Ia melihat foto istrinya dengan dirinya. Ia memang tidak pernah mencintai istrinya. Namun tetap saja, Alexa adalah anaknya. Buah hatinya. Xavier langsung tiduran di kasur. Sambil terus memutar memori dirinya dengan wanita yang benar-benar Ia cintai. Yang sayangnya wanita itu sudah tiada.
ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ
"KENAPA HANYA MENCULIK ANAK SAJA TIDAK BISA?" Bentak seseorang kepada anak buahnya.
"Maaf tuan... Tapi Jessie tanpa diduga bisa melawan. Will juga memilih untuk mengakhiri hidupnya." Ucap salah satu anak buahnya. Karena dilanda emosi, orang itu langsung menembak kepala anak buahnya.
"Tiga kali kau lolos Jessie. Aku akan membuat rencana yang lebih matang. Kita lihat saja nanti." Ucap orang itu.