
Ryan terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan langsung membelalakkan matanya. Muka Jessie tepat berada di depannya dan posisi mereka sedang berpelukkan. Ryan dengan hati-hati melepaskan pelukannya namun Jessie malah mengeratkan pelukannya. Setelah beberapa saat mencoba melepas pelukannya Jessie, Ryan pun akhirnya bisa melepaskannya.
Ryan langsung bangkit dan melihat ada pakaiannya dan handuk terlipat rapi diatas meja rias. Ia yakin Alex yang meletakkan baju dan handuknya. Ia pun berjalan ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya dan ternyata pintunya sudah tidak dikunci. Ia pun menutup pintu kembali lalu berjalan ke arah nakas untuk mengambil handphonenya. Ia membuka handphonenya dan melihat bahwa sekarang sudah jam 5 pagi.Ia pun langsung mengambil baju dan handuknya ke kamar mandi dan langsung mandi.
Jessie yang mulai terganggu tidurnya karena ada sinar matahari yang masuk pun langsung membuka matanya perlahan. Ia melihat bahwa Ryan tidak ada di sampingnya. Ia pun bangun dan duduk di pinggiran kasur.
"Pintu sudah dibuka oleh daddymu. Pergilah mandi terlebih dahulu lalu sarapan. Ayahmu sudah masak." Ucap Ryan saat melihat bahwa Jessie sudah terbangun. Jessie hanya bergumam. Lalu Ia pun langsung bangkit dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju. Ia pun jalan ke kamar mandi dan memulai rutinitas paginya.
Selesai mandi dan berganti baju, Jessie langsung pergi ke ruang makan. Disana ada ayahnya yang sedang menunjukkan muka yang sangat ceria.
"Bagaimana malam kalian?" Tanya Alex sambil menatap ke arah Ryan dan Jessie.
"Biasa saja dad." Ucap Jessie dengan nada datarnya. Alex yang mendengar itu hanya tertawa. Jessie dan Ryan saling menatap dengan tatapan bingung.
"Apa maksud uncle?"
"Ayolah... Kalian tidak merasa bahwa kalian saling memeluk semalam?" Ucap Alex sambil menahan tawanya. Ryan dan Jessie langsung terdiam bahkan enggan melihat masing-masing tidak seperti tadi.
"Ryan... Kau temani Jessie ke rumah temannya." Ucap Alex sambil berusaha untuk mencairkan suasana. Ryan hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu mereka pun melanjutkan makan pagi mereka.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Hari sudah siang. Ryan dan Jessie sudah sampai di rumah Alexa. Rumah itu terlihat besar dan megah. Alexa pun langsung menghampiri mereka.
"Hai Jessie." Ucap Alexa dan langsung memeluk Jessie. Jessie pun membalas pelukannya. Lalu Ia melihat Ryan dan berlari ke arahnya.
Rumah Alexa terlihat sangat megah bagian dalamnya. Catnya didominasi dengan warna hitam. Warna yang tidak biasa untuk cat rumah. Tapi selera orang berbeda-beda.
"Daddy ingin bertemu dengan kalian." Ucap Alexa. Lalu Ia pun meminta Ryan dan Jessie untuk menunggu di ruang tamu. Lalu Alexa memberikan minuman dan cemilan untuk mereka berdua. Setelah itu Alexa langsung pergi untuk memanggil ayahnya.
"Entah kenapa tapi aku merasa takut bertemu ayahnya." Ucap Jessie sambil berbisik kepada Ryan.
"Tenang saja, ada aku." Ucap Ryan. Jessie yang mendengar itu hanya tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Alexa balik dari ruangan kerja ayahnya. Ia pun langsung duduk di hadapan mereka dan memberikan ruang untuk ayahnya nanti.
"Sebentar lagi Daddy akan turun." Ucap Alexa dengan senyuman khasnya.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ada suara berat yang datang dari seorang pria yang berjalan turun dan berjalan ke arah ruang tamu.
"Jadi kau teman baru Alexa? Perkenalkan namaku Xavier" Tanya Xavier. Ia pun terhenti saat menatap wajah Jessie. Ia pun tidak melepas pandangannya terhadap Jessie. Jessie yang mulai tidak nyaman pun langsung memberikan sinyal kepada Ryan. Ryan yang mengerti langsung bertanya kepada Xavier.
"Apa ada yang salah?" Tanya Ryan. Xavier langsung tersadar dan meminta maaf.
"Maafkan aku. Mukamu mengingatkanku kepada seseorang." Ucap Xavier. Jessie hanya mengangguk walaupun ada rasa bingung dalam dirinya. Alexa juga bingung. Siapa seseorang yang dimaksud oleh daddynya.
"Mari kita lupakan kejadian tadi dan lanjut mengobrol pembicaraan baru." Ucap Xavier.
Akhirnya mereka pun lanjut mengobrol dan saling memperkenalkan diri. Setelah mengobrol beberapa saat. Jessie baru tau bahwa Alexa sudah tidak memiliki ibu seperti dirinya. Mungkin karena itu Alexa bisa mengerti perasaan dirinya.