
Hari ini suasana hati Airy sangat bagus. Wajah cantiknya terlihat bersinar. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua angkatnya ikut senang karena Airy sudah kembali seperti dulu lagi yang selalu ceria.
"Ai, hari ini sepertinya senang sekali," goda Mama Hanna dengan melihat ke arah putri cantiknya.
"Tentu saja, Mah. Airy kan mau kerja bareng Abang."
"Kenapa gak sama Papa aja." Angga yang sedari tadi diam ikut menimpali.
"Gak mau akh, kalau sama Papa nanti ketemunya sama om-om semua."
"Tapi gak apa sih bareng Abang kamu, biar kamu punya banyak pengalaman dan bertemu banyak klien."
"Nanti berangkat sama Papa aja, Ai. Apa mau bawa mobil sendiri?" tanya Mama Hanna.
"Ai mau dijemput sama Abang. Semalam bilang, nanti pagi-pagi Abang ke sini."
Baru saja Airy selesai bicara, terdengar suara bunyi klakson di luar. Gadis itu pun segera berlari kecil untuk menyambut kedatangan Rain. Namun, saat dia sampai di luar, senyum cerahnya mendadak luntur ketika Airy melihat Mona keluar dari mobil Sam.
"Kak Mona, mau kerja di kantor Abang juga?" tanya Airy saat Mona menghampirinya.
"Tidak Ai, Mona hanya ikut sampai ke lokasi syuting. Kebetulan di dekat kantor Abang," jelas Sam langsung menjelaskan.
"Benar apa yang Sam katakan. Sejujurnya, aku kurang tertarik bekerja di kantor. Papa menawari aku untuk memegang jawaban direktur saja aku tolak," ucap Mona dengan mencebikan bibirnya.
"Kak Mona dan Abang sudah sarapan belum?" tanya Airy dengan bergelayut manja di tangan kekar Sam. Laki-laki itu pun tanpa sungkan mengelus lembut rambut Airy.
"Abang sudah sarapan." Sam langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa memperdulikan Mona yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Wanita cantik itu hanya mengangkat bahunya tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh suami dan adik iparnya. Dia pun mengikuti masuk ke dalam rumah untuk menyapa mertuanya. Terlihat Sam sudah duduk di samping Airy dan sedang menyuapi adiknya.
"Pagi, Mah, Pah!" sapa Mona dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Pagi Mona, ayo duduk! Kita sarapan dulu. Jangan heran ya, melihat Sam menyuapi Airy, karena memang mereka selalu begitu kalau Airy lagi kambuh manjanya," ucap Mama Hanna. Dia jadi tidak enak hati saat tadi melihat Mona sedikit kaget.
"Apaan sih Mama. Airy gak manja ya! Tapi Abang yang suka manjain aku. Jadinya kan keterusan," bela Airy.
"Sam memang sangat menginginkan seorang adik, makanya sangat memanjakan Airy. Dimaklumi saja ya, Mona!" pinta Mama Mona.
"Oh, tidak apa Mah. Mungkin aku juga akan bersikap seperti Airy kalau punya kakak, sayangnya aku tidak punya Kakak. Punya adik pun jarak kami jauh," ucap Mona dengan memaksakan tersenyum.
"Sekarang kamu bisa bermanja-manja dengan Sam. Meskipun dia bukan kakak kamu, tapi dia suami kamu. Sudah seharusnya seorang suami memanjakan istrinya," ucap Mama Hanna lagi.
Uhuk ... Uhuk ....
Airy langsung tersedak saat mendengar apa yang mamanya katakan. Rasanya dia tidak ikhlas kalau ada wanita lain yang bermanja-manja pada abang sekaligus suaminya itu. Dia ingin protes, tapi sama saja dengan membocorkan rahasia besarnya.
"Ai, makannya pelan-pelan." Sam menepuk punggung Airy setelah dia memberikan minum pada gadis itu.
"Iya, Sayang. Makannya jangan buru-buru! Abang juga tidak akan ninggalin kamu," timpal Mama Hanna
"Iya, Mah. Airy makannya udahan saja. Berangkat dulu ya Mah, Pah!" pamit Airy dengan mencium punggung tangan kedua orang tua itu secara bergantian.
Begitupun dengan Sam dan Mona yang mengikuti apa yang Airy lakukan. Setelah mereka berpamitan, ketiganya pun langsung berangkat kerja. Namun, Mona semakin heran dengan sikap Sam dan Airy yang terlihat begitu lengket dan mesra. Bukan seperti hubungan adik dan kakak, tetapi Mona melihat mereka seperti sepasang kekasih.
"Mau jalan tiga bulan. Tapi kamu kho tahu?" tanya Mona kaget.
"Tentu saja aku tahu, karena apa yang Abang tahu dan apa yang Abang rasakan, pasti Abang bilang sama aku. Benar kan, Bang?"
"Iya, Ai!" Sam menjawab singkat.
"Apa kamu menceritakan semuanya sama Airy, Sam?" tanya Mona dengan menatap lekat suaminya yang berada di balik kemudi.
"Iya." Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang Sam berikan.
"Kak Mona tenang saja. Aku tidak akan bongkar rahasia kalian berdua kho. Karena aku tidak mau, Abang kesayangan aku kesusahan. Apa yang Abang lakukan, aku pasti mendukungnya. Benar, kan Bang?"
"Iya, Sayang. Mona, kamu syuting di gedung yang mana?" tanya Sam saat mereka sudah tiba dia jalan yang di tuju.
"Di gedung Bramasta Corporation," jawab Mona..
Sam pun segera membelokkan mobilnya ke gedung yang di tuju. Setelah sampai lobby, Mona langsung turun dari mobil. Namun, dia sedikit melongokan kepalanya ke dalam mobil.
"Sam, pulangnya tidak usah dijemput. Aku pulang dengan manager aku saja," ucap Mona.
"Iya," jawab Sam dengan sedikit menganggukkan kepalanya melihat ke arah Mona. "Ai pindah ke depan!"
"Aku di belakang saja, Bang. Sebentar lagi sampai," tolak Airy yang memang sedari tadi duduk di belakang sendiri.
"Ai, mau Abang hukum?"
"Gak! Iya aku pindah," sahut Airy dengan sedikit cemberut. "Kak Mona berangkat ya!"
"Iya, hati-hati."
Setelah memastikan Airy duduk di kursi depan, barulah Sam menyalakan mobilnya. Dia meninggalkan Mona yang masih mematung di tempatnya. Entahlah, Mona merasa ada yang lain dari hubungan kakak adik itu. Lagi-lagi Mona hanya menggendik-kan bahunya tidak peduli dengan apa yang Airy dan Sak lakukan.
Sementara Airy dan Sam yang sudah sampai di kantornya. Mereka pun mulai bekerja dengan serius. Sam sibuk memeriksa beberapa dokumen bersama dengan Jordy, sementara Airy mempelajari pekerjaan yang biasa Jordy lakukan saat menjadi sekretaris Sam.
Sikap profesionalisme yang Sam tunjukkan, memang patut di acungi jempol. Saat berada di kantor, dia akan bersikap tegas pada siapa pun. Maka dari itu, papanya Mona menginginkan Sam untuk menjadi menantunya. Agar laki-laki itu bisa meneruskan usaha keluarga Mona.
"Sam, apa Mona tahu tentang pernikahan kamu dengan Airy?" tanya Jordy di sela-sela mereka memeriksa beberapa berkas.
"Jordy, bahas soal itu nanti saja." Sam tidak mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dibacanya.
"Baiklah! Saat jam istirahat makan siang, kamu harus memberikan jawaban pertanyaan aku."
Sam melihat ke arah Jordy yang sedang melihatnya. Dia menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. "Dia tidak tahu. Cepat kamu kerjakan semuanya! Agar kita bisa pulang tepat waktu."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....