Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 38 Kedatangan Mona


Hari-hari pun terus berganti dan waktu pun terus berlalu. Tanpa terasa kini kandungan Airy sudah memasuki bulan ke tujuh. Wajah ibu hamil itu terlihat bercahaya. Meskipun tanpa make-up yang menempel di wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Sam semakin lengket pada istrinya.


Namun, hal itu sedikit pun tidak membuat Airy merasa risih. Dia hanya biasa saja menanggapi sikap Sam yang terkadang seperti anak ayam yang kehilangan induknya saat laki-laki itu tidak melihat Airy ketika bangun tidur.


"Abang, aku ke toilet dulu," ucap Airy seraya melepaskan belitan tangan Sam di tubuhnya.


"Hm ... Jangan lama!" pesan Sam seraya membetulkan posisi tidurnya saat Airy sudah bangun.


"Iya, Abang!" Airy langsung bergegas menuju ke kamar mandi karena rasa ingin buang air kecil sudah tidak tertahan lagi.


Selesai membuang hajatnya, Airy tidak kembali ke tempat tidur. Dia memilih ke dapur untuk mengambil makanan. Namun, dia dibuat heran dengan kehadiran Mona di ruang tengah, yang sedang berbicara dengan mama dan papanya.


"Kak Mona, tumben pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Airy dengan mengerutkan keningnya.


"Iya. Aku ada sedikit perlu dengan Om dan Tante. Perutmu terlihat buncit, Airy. Memangnya sudah berapa bulan?" Mona balik bertanya saat melihat Airy yang memakai daster rumahan.


"Sudah tujuh bulan Kak. Bagaimana keadaan putra Kakak? Sudah bisa apa sekarang?" tanya Airy lagi. Sedikit pun tidak terlihat permusuhan di antara mereka seperti yang Mona perlihatkan dulu saat masih menjadi istri Sam.


"Sudah bisa belajar berjalan. Sini Airy duduk bersama, ada hal yang ingin aku sampaikan pada Om, Tante dan juga kamu," ajak Mona dengan tersenyum.


"Sebentar Kak Mona, perut aku lapar sekali. Aku ke dapur dulu ya!"


"Oh iya, gak apa."


Airy pun bergegas ke dapur untuk mengambil makanan yang dia inginkan. Setelah mendapatkannya, dia pun segera kembali menemui Mona dan mertuanya. Namun, belum juga sampai, dia dibuat mematung setelah mendengar apa Mona katakan.


"Om, Tante, sebenarnya aku ke sini karena ingin menitipkan putraku. Aku sedang ada masalah, Zein terjerat kasus pengedaran barang haram. Perusahaan papa colaps, sehingga papa terkena serangan jantung. Sekarang koma di rumah sakit. Kebetulan aku ada syuting ke luar kota. Kalau menitipkan ke pengasuh, aku merasa khawatir. Kalau boleh, aku ingin menitipkannya di sini."


"Om turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu. Kamu jangan khawatir, kami akan menjaga putramu dengan baik. Mona, kalau kamu butuh uang, mungkin Om bisa bantu meskipun tidak banyak."


"Terima kasih, Om. Tapi aku masih ada tabungan untuk biaya papa dan juga untuk bekal aku dan anakku. Hanya saja, aku tidak memiliki orang yang bisa aku percaya selain keluarga Om dan Tante." Mona menunduk sedih dengan apa yang terjadi pada keluarganya.


"Terima kasih, Om, Tante, Airy. Kalau memang Gala diijinkan tinggal di sini, aku akan membawanya nanti sore. Sebelum berangkat ke luar kota. Aku minta, tolong perlakukan Gala dengan baik. Aku pasti akan menjemputnya nanti sepulang dari syuting," ucap Mona sendu.


"Pasti Mona. Kamu jangan khawatir, kami akan menganggap Gala sebagai bagian dari keluarga ini. Kamu yang sabar ya! Semoga papamu cepat sembuh. Maaf kamu belum sempat menjenguknya, karena memang kami tidak tahu." Mama Hanna mengelus lembut punggung Mona.


"Tidak apa, Tan. Papa juga dirawatnya di negara tetangga. Minta do'a-nya saja untuk kesembuhan Papa."


Setelah cukup berbincang, Mona pun berpamitan pulang. Dia sedikit lega karena putranya ada yang mengawasi. Sementara Airy hanya menatap punggung Mona yang menghilang di balik pintu.


"Mama, kasian sekali Kak Mona. Musibah datang bertubi-tubi. Semoga saja dia diberi ketabahan," ucap Airy dengan menyandarkan kepala pada Mama Hanna.


"Itulah hidup, kita tidak selamanya berjaya ataupun berada dalam kemalangan. Saat kita berjaya, kita tidak boleh sombong dan memandang kecil orang-orang yang berada di bawah kita. Sedangkan saat kita berada di bawah, kita tidak boleh putus asa. Karena akan ada jalan untuk kita menuju kesuksesan." Mama Hanna mengelus surai hitam milik Airy.


"Makasih, Mah, Pah. Sudah menjaga aku selama ini. Semoga kebaikan Mama dan Papa mendapatkan pahala yang berlimpah, aamiin."


Baru saja Mama Hana akan bicara terdengar suara teriakan Sam dari lantai atas, sehingga Airy pun segera naik menuju kamarnya. Sesampainya di sana terlihat Sam yang sedang mencari keberadaan Airy.


"Abang, ada apa teriak-teriak," tanya Airy.


"Kamu dari mana, Ai? Kenapa ke kamar mandi sama sekali," tanya Sam segera menghampiri Airy yang baru saja menutup pintu.


"Tadi ada Kak Mona. Jadinya aku ngobrol sebentar."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote gift dan favorite....


...Terima kasih....