
Hari-hari pun terus berganti dan waktu terus berlalu. Tanpa terasa kini usia kandungan Airy sudah memasuki bulan ke sembilan. Ibu hamil itu terlihat kesusahan setiap kali akan bangun dari duduknya. Apalagi Gala selalu menempel padanya.
Ya, selama Mona belum sadar dari komanya, bocah kecil itu dirawat oleh keluarga Samudera. Karena keluarga tidak ada yang bisa merawatnya. Mona yang belum juga sadat dari komanya, orang tuanya masih menjalani perawatan di luar negeri. Sementara ayah kandungnya mendekam di balik jeruji besi.
Namun, meskipun demikian Gala tidak pernah kekurangan kasih sayang. Baik Sam maupun Airy dan kedua orang tuanya selalu memperlakukan Gala dengan baik. Mereka merasa prihatin dengan apa yang menimpa keluarga Mona. Sungguh hal yang tidak pernah mereka duga, perusahaan besar itu akan tumbang begitu saja.
"Sayang, Mama ke kamar mandi dulu ya, Nak! Mbak Ina, tolong jaga Gala dulu!" pinta Airy saat dia akan beranjak bangun dari duduknya.
"Iya, Nona!" sahut Ina segera mengambil alih Gala
"Ma-ma Ma-ma!" Gala terus memanggil Airy yang pergi ke toilet.
"Sebentar, Nak! Mama tidak akan lama."
Selepas kepergian Airy ke kamar mandi, Sam datang dengan tas kerja ditangannya. Entah kenapa papa muda itu teringat terus dengan istrinya, sehingga memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya.
"Gala, Mama ke mana?" tanya Sam dengan menyimpan tas kerja di sofa ruang tengah.
"Nona ke toilet, Tuan." Tanpa diminta, Ina langsung menjawab pertanyaan Sam.
Namun, baru saja dia selesai berbicara, terdengar teriakan Airy di kamar atas. Sam pun langsung berlari untuk memastikan keadaan istrinya. Dia sangat terkejut melihat Airy yang hampir terjatuh dengan tangan berpegangan pada lemari baju.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sam langsung panik. Dia pun memapah Airy ke tempat tidur
"Abang, perutku sakit. Tadi aku hampir jatuh di kamar mandi. Lantainya licin," jawab Airy dengan wajah yang memucat.
"Sayang, apa kamu pipis? Kenapa bajumu basah?"
"Aku gak tahu, Bang. Tapi airnya gak mau berhenti keluar dari jalan lahir."
"Apa kamu mau melahirkan? Ayo kita ke rumah sakit saja."
"Bang, tolong ambilkan popok dewasa biar airnya gak ceceran ke mana-mana."
"Sebentar Abang ambilkan!" Sam dengan sigap membantu istrinya. Dia mengambil baju ganti dan popok khusus dewasa. Setelah memastikan penampilan Airy rapi, dia pun segera menggendong istrinya. Tak lupa Sam meminta pembantu membawakan perlengkapan untuk Airy melahirkan.
"Mbak Ina, tolong jaga Gala!" pesan Airy sebelum di pergi menuju ke rumah sakit.
"Iya, Nona."
"Mama sedang pergi arisan."
Sam tidak berbicara lagi. Dia langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit. Perjalanan siang yang tidak begitu ramai, membuat Sam melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak berapa lama kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit yang dituju.
Airy segera mendapatkan penanganan dari tenaga medis. Sementara Sam mengurus administrasi. Setelah selesai mengurus semuanya, barulah di melihat keadaan Airy yang berada di ruang IGD.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Sam pada dokter yang menangani Airy.
"Ketubannya sudah pecah, Tuan. Sekarang sudah pembukaan lima. Mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang bersalin."
"Begitu ya, Dok. Makasih, Dok!" Sam melihat ke arah Airy yang sedang meringis kesakitan. Dia pun langsung menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan.
"Bang sakit," keluh Airy saat kontraksi kembali menyerangnya. Dia memegang tangan Sam dengan kuat sampai kuku-kukunya menancap di kulit tangan suaminya.
"Sabar, Sayang! Abang yakin kamu pasti kuat."
Saat Sam terus menguatkan Airy, seorang perawat datang menghampiri dan berkata, "Permisi, Tuan! Saya mau membawa Nyonya ke ruang bersalin. Dokter Try yang akan menangani Nyonya Airy sudah menunggu di sana."
"Silakan, Sus!" sahut Sam dengan memberi ruang pada perawat itu
"Bisa minta tolong pindahkan Nyonya ke kursi roda, Tuan?" pinta Perawat itu lagi.
"Baik." Sam pun langsung menggendong Airy dan memindahkannya ke kursi roda. Dia langsung mendorong kursi roda istrinya dan mengikuti ke mana perawat itu pergi. Sementara pembantu rumah hanya mengekor dengan membawa perlengkapan Airy melahirkan.
Sesampainya di ruang bersalin, Sam pun kembali menggendong Airy dan memindahkannya ke tempat tidur. Tidak berapa lama kemudian, dokter Try datang untuk memeriksa keadaannya.
"Sudah pembukaan tujuh. Suster, tolong berikan teh manis agar bertenaga untuk persiapan melahirkan. Nyonya, nanti dipaksa mengejan ya! Nanti, saat terasa ingin buang hajat, segera panggil Saya. Saya akan membantu yang sebelah dulu," ujar Dokter Try memberikan pengarahan.
"Baik, Dok!" sahut perawat yang tadi membawa Airy ke ruang bersalin.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....