
Perasaan yang tadinya biasa-biasa saja, kini berubah menjadi rasa suka. Entah sejak kapan, Mona selalu merasa nyaman jika di dekat Sam. Apalagi, semakin besar kehamilannya, laki-laki itu selalu memberi perhatian padanya.
"Sam, besok antar aku beli perlengkapan bayi ya!" pinta Mona saat mereka sedang makan siang bersama.
"Aku tidak bisa Mona, besok aku ada perjalanan dinas ke luar kota," tolak Sam.
"Sayang sekali, ya sudah aku tunggu kamu saja sampai kamu punya waktu untuk mengantarku."
"Nanti aku telpon Mama agar mengantar kamu."
"Tidak usah! Aku ingin pergi bersama dengan kamu bukan mama kamu."
"Terserah!" Sam melanjutkan makannya seolah tidak peduli dengan keinginan Mona.
"Sam, perutku sakit!" keluh Mona tiba-tiba.
"Apa kamu mau melahirkan? Sebentar aku panggil ambulans dulu." Sam segera mengambil ponselnya. Namun, saat dia kaan menekan nomor rumah sakit, tiba-tiba saja Mona melarangnya.
"Tidak usah, Sam. Sakitnya sudah mendingan kho."
"Kamu mempermainkan-ku? Aku pergi!" Sam langsung bangun dari duduknya. Dia tidak peduli saat Mona terus memanggilnya. Dia malah menyuruh asisten istrinya untuk menemani Mona.
Sam bergegas pergi ke kantornya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Airy. Ada rasa bersalah di hatinya karena meninggalkan Airy dan memilih bersama dengan Mona. Namun, Sam juga tidak punya pilihan, khawatir hubungannya dengan Airy diketahui banyak orang.
Sesampainya di kantor, dia begitu terburu-buru menuju ke ruangannya. Namun, Sam tidak menemukan Airy di mejanya. Dia hendak berbalik untuk mencari gadis itu, bersamaan dengan Jordy yang ingin menemuinya.
"Sudah pulang, Sam? Kebetulan, aku ingin meminta kamu tanda tangan," tanya Jordy.
"Apa kamu melihat Airy?" Bukannya menjawab, Sam justru balik bertanya.
"Aku tidak melihatnya. Nanti aku bantu cari dia, sekarang cepat tanda tangan dulu," desak Jordy dengan tidak sabaran. Karena memang persetujuan Sam sedang ditunggu banyak orang.
"Ya sudah, ayo ke ruangan aku!" Sam berlalu pergi meninggalkan Jordy yang masih berdiri di tempatnya.
Namun, sejurus kemudian laki-laki itu langsung pergi menyusul Sam ke ruangannya. Jordy hanya bisa terpaku di ambang pintu saat melihat Sam sedang mencium kening Airy yang tertidur di sofa. Rupanya gadis itu tidak pergi makan siang, Airy memilih tidur untuk menenangkan hatinya yang bergejolak melihat Sam pergi makan siang bersama dengan Mona.
"Sam, Cepetan!" seru Jordy.
Sam tidak peduli dengan apa yang Jordy katakan. Dia memilih untuk memindahkan Airy ke dalam kamar sebelum menandatangani berkas yang Jordy bawa. Setelah memastikan Airy kembali tertidur lelap, barulah Sam kembali menemui Jordy.
"Jordy, tolong nanti belikan makan siang untuk Airy!" pinta Sam.
"Baiklah! Sekarang cepat tanda-tangani dulu berkasnya," desak Jordy.
Sam pun mengikuti apa yang Jordy katakan. Dengan pikiran yang terus menerawang pada Airy dan Mona, dia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Setelah semua berkas ditanda tangani, Sam pun mengerjakan pekerjaan yang lain dan tidak berniat untuk menggangu tidur istrinya.
"Aman kho! Tumben dia pulas sekali tidurnya," gumam Sam dengan ikut merebahkan tubuhnya di samping Airy.
Laki-laki itu memeluk erat istrinya dari belakang. Namun, dia merasakan hawa badan Airy yang lebih panas dari suhu tubuh normal. Sam pun segera bangun dari tidurnya. Dia menempelkan tangannya pada kening Airy.
"Pantas saja tidurnya lama, ternyata dia demam," gumam Sam.
Dia pun segera mencari termometer di kota yang ada di kamarnya. Setelah menemukannya, Sam segera mengarahkan ke kening Airy. Terlihat di layar termometer angka tiga puluh delapan koma lima. Sam pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jordy
"Halo Jordy, kamu siapkan mobil sekarang! Airy sakit."
"Oke, aku segera mengambilnya."
"Aku tutup, aku akan menunggu kamu di lobby."
Sam pun segera menutup panggilan teleponnya. Dia segera bersiap untuk membawa Airy ke rumah sakit. Namun, tiba-tiba saja gadis itu membuka matanya saat Sam akan menggendongnya.
"Abang, apa yanga Abang lakukan?" tanya Airy kaget saat melihat ke arah Sam.
"Diamlah! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Sam dengan tidak peduli tatapan heran Airy. Dia tetap melanjutkan menggendong istrinya. Sampai saat tiba di lobby perusahaan, semua orang yang melihat merasa heran karena general manager mereka menggendong adiknya dengan terburu-buru.
"Jordy, percepat laju kendaraannya. Aku tidak mau Airy kenapa-napa."
"Sabar Sam, Aku mau ngebut sekarang."
"Bang, aku tidak apa-apa," ucap Airy dengan suara lemah.
"Diamlah! Sebentar lagi kita sampai," seru Sam dengan wajah yang menegang.
Tidak butuh waktu lama, Mobil yang Jordy bawa sudah sampai di rumah sakit terdekat. Airy pun segera mendapatkan pertolongan dari dokter. Sementara Sam dan Jordy menunggu di depan ruang IGD.
Saat Sam berada dalam kekalutan, terdengar suara panggilan masuk di ponselnya. Sam pun segera melihat siapa yang sudah menghubunginya.
"Mona, ada apa?" tanya Sam Saat sudah tersambung.
"Sam bisa cepat pulang? Perutku terus saja sakit," keluh Mona di seberang sana.
"Maaf Mona, sepertinya aku tidak bisa. Airy di rawat dan aku harus menjaganya."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih...