
Pipi Airy yang memerah terlihat jelas saat mereka sudah selesai berpakaian. Tanpa berpikir panjang lagi, Sam langsung membawanya ke dokter. Dia sangat menyesal karena telah membuat gadis yang dicintainya menjadi terluka.
Sepanjang perjalanan menuju ke dokter kecantikan, Sam hanya terdiam tidak bersuara. Begitu pun dengan Airy yang memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya. Sampai akhirnya terdengar bunyi ponsel Airy. Gadis itu pun segera menerima panggilan dari mamanya.
"Hallo, Mah!"
"Iya hallo, Ai. Lagi di mana? Bersama siapa?" tanya Mama Hanna di seberang sana."
"Aku mau ke dokter, Mah. Tadi tidak sengaja pipiku tersiram air panas." Airy memejamkan matanya, merasa bersalah pada wanita yang sudah merawatnya selama ini.
"Ya Allah, kenapa kamu gak hati-hati, Nak?"
"Tadi Airy ceroboh. Tidak sengaja menyenggol panci yang ada air panasnya."
"Ai, minta obat yang paling bagus ya ke dokternya biar tidak berbekas."
"Iya, Mah."
"Ya sudah, nanti pulang dari dokter, langsung pulang ya!"
"Iya, Mah. Airy akan langsung pulang ke rumah."
"Mama tutup ya, Ai. Cepat sembuh!"
Airy hanya menghela napas dalam saat mamanya menutup sambungan teleponnya. Dia pun memasukkan kembali ponselnya ke kantong celana yang dia pakai. Bersamaan dengan Sam membelokkan mobilnya ke parkiran klinik kecantikan yang ternama di kota itu.
"Ai, Abang minta maaf! Terima kasih sudah berusaha melindungi Abang. Tapi, kalau kamu ingin menghukum Abang, dengan sukarela Abang menerimanya."
"Abang mau aku hukum? Baiklah, selama Abang belum beres dengan Kak Mona, lebih baik kita menjaga jarak agar tidak ada orang yang curiga dengan apa yang telah kita lakukan," ucap Airy dengan menatap lekat wajah suaminya yang terlihat sendu.
Sam pun menatap lekat Airy dan menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tidak akan sanggup jika harus menjalani hukuman yang seperti itu dari Airy. "Abang tidak bisa, Ai. Itu terlalu berat. Lebih baik, kamu menguras semua tabungan Abang."
"Uang dari papa sudah cukup buat aku." Airy langsung keluar dari mobil.
Sementara Sam merenungkan apa yang gadis itu katakan. Dia bahkan melupakan kewajibannya sebagai seorang suami untuk menafkahi istrinya. Padahal dia sudah mendapatkan hal yang paling berharga dalam hidup Airy.
Maafkan Abang, Ai!
Sam langsung menyusul Airy masuk ke dalam klinik. Terlihat istrinya sedang berada di depan meja pendaftaran. Dia pun memilih untuk menunggu Airy. Sampai akhirnya Airy menghampiri Sam.
"Ai, jangan hukuman yang tadi. Abang tidak bisa," ucap Sam dengan wajah melas.
"Kenapa tidak bisa? Kak Mona juga istri Abang. Dia pasti sangat membutuhkan Abang menjelang kelahiran anaknya," sarkas Airy.
"Ai, please! Abang janji tidak akan seperti itu lagi. Abang tahu, Abang khilaf. Abang ...." Belum juga Sam selesai berbicara, terdengar nama Airy dipanggil oleh perawat.
Gadis itu pun segera beranjak pergi dengan Sam yang mengikutinya. Setelah dia mendapatkan pemeriksaan dan obat dari dokter, mereka pun segera bergegas pulang. Sesampainya di rumah, terlihat Mama Hanna sedang membuat kue brownies dan aneka kue basah. Sepertinya, rumah mereka akan kedatangan tamu.
"Ai, sudah datang, Nak. Coba Mama lihat pipi kamu!" tanya Mama Hanna saat melihat kedatangan Airy.
"Iya, Mah. Aku baru sampai," ucap Airy segera mencium punggung tangan Hanna.
"Mama tenang saja, Biar nanti Sam yang akan menikahi Airy," serobot Sam yang baru datang menghampiri kedua wanita cantik itu."
"Huss! Kamu kalau bercanda suka kelewatan. Mana mungkin papa kamu setuju. Kalian itu adik kakak, bagaimana bisa mama dan papa menikahkan kalian," sanggah Mama Hanna.
"Tapi kan aku dan Airy ...."
"Sudah Sam! Kamu jangan ngaco! Sudah punya istri, sebentar lagi jadi bapak. Masih saja melirik gadis cantik. Sudah gitu gadis yang kamu lirik adik kamu sendiri. Sepertinya kamu harus pergi ke psikiater, Sam."
Bagaimana kalau mama dan papa sampai tahu, aku dan Bang Sam sudah menikah. Mungkinkah mereka akan mengusirku dan tidak mau mengakui aku lagi sebagai anaknya? Lalu aku harus pergi ke mana kalau mama sampai mengusirku? batin Airy.
Sam hanya melihat ke arah Airy. Dia merasa tidak nyaman dengan apa yang mamanya katakan. Namun, sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya.
"Mah, kata dokter Airy harus istirahat. Tidak boleh terkena asap kompor," tukas Sam seraya merangkul Airy menuju ke kamar gadis itu.
Mama Hanna hanya menggelengkan kepala melihat kepergian anak-anaknya. Namun, dia merasa ada yang ganjal dengan apa yang Sam katakan. Mama Hanna jadi mendadak kahwatir, kalau Sam jatuh cinta pada Airy tanpa disadarinya.
Semoga saja itu hanya candaan Sam saja, batin Mama Hanna.
Sementara Sam dan Airy langsung masuk ke dalam kamar gadis itu. Sam terus saja mengikuti Airy kemana pun gadis itu pergi. Sampai akhirnya Airy benar-benar memilih untuk tidur.
...***...
Malam harinya, terlihat meja makan keluarga tidak seperti hari-hari biasanya. Kedua orang tua itu terlihat bahagia karena bisa makan bersama dengan anak menantunya. Apalagi, malam ini mereka kedatangan tamu istimewa. Seorang investor besar yang datang untuk memenuhi undangan makan malam dari Tuan Angga.
Namun sepertinya, kebahagian itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Sam. Entah kenapa dia merasa tidak suka denagn laki-laki muda itu karena terus melihat ke arah Airy dengan sorot mata yang memuja.
"Sam, kenalkan ini Tuan David. Beliau investor baru di perusahaan kita. Mungkin kamu sudah tahu tentang perusahaan Blue Ocean, Tuan David ini CEO-nya," tutur Papa Angga.
"Salam kenal Tuan," ucap Sam seraya sedikit membungkukan badannya sedikit.
"Salam kenal juga, Tuan Sam. Kalau yang duduk di samping kiri Nyonya, namanya siapa?" tanya David dengan tersenyum manis pada Airy.
"Itu putri bungsu saya, Tuan. Airy cepat beri salam pada Tuan David," serobot Papa Angga.
"Salam kenal Tuan David," sapa Airy tersenyum pada tamu papanya.
"Salam kenal Airy! Kalau dengan Nona Mona, saya sudah mengenalnya. Kebetulan kita pernah satu sekolah, bukan begitu Nyonya Sam?"
"Iya, benar Pah, Mah. David ini dulu teman aku saat masih di sekolah dasar. Tetapi dia pindah keluar negeri saat kami lulus sekolah," jelas Mona.
"Pantas saja Tuan David sangat fasih berbicara bahasa negeri ini," ucap Tuan Angga.
Setelah cukup berbasa-basi, mereka pun memulai acara makan malamnya. Tidak satu orang pun yang bersuara selain suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Mereka semua begitu menikmati hidangan makan malam.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....