
Acara makan malam telah selesai, Tuan David pun sudah pulang ke rumahnya. Kini tinggallah Sam dan Mona yang belum pulang ke rumahnya. Mona terus saja merengek meminta Sam untuk cepat pulang. Namun, laki-laki itu seolah enggan untuk pulang ke rumahnya.
"Ayolah, Sam kita pulang! Aku tidak mau menginap di sini," ajak Mona dengan menarik tangan Sam.
"Sudah, Sam. Cepat pulang! Kasian Mona dan bayinya," suruh Papa Angga.
Menyebalkan sekali, rutuk Sam dalam hati.
Dengan terpaksa, Sam pun mengikuti keinginan istrinya. Dia tidak mungkin menyuruh Mona pulang sendiri. Apalagi kandungan Mona sudah membesar karena sudah memasuki usia ke tujuh bulan.
"Ya sudah, ayo!" Sam pun langsung pergi menuju ke mobilnya. Diikuti oleh Mona yang mengikutinya dari belakang.
Sementara Airy hanya menatap dalam kepergian mereka. Gadis itu tersenyum samar sebelum dia pergi menuju ke kamarnya. Dia pun langsung merebahkan tubuhnya setibanya di kamar, berharap dapat melupakan apa yang telah terjadi.
Kenapa dia bisa sampai ke sini? Tidak mungkin kan kalau dia mengikuti aku, batin Airy.
Sementara Sam dibuat kesal oleh Mona. Ibu hamil itu terus saja bergelayut manja pada Sam selama dia perjalanan pulang. Karena Mona sengaja memakai mobilnya, Sementara mobil Sam disimpan di rumah orang tuanya. Bahkan, Mona berpura-pura tertidur di bahu Sam dengan memeluk tangan suaminya.
"Mona, bangun! Sudah sampai rumah," ucap Sam dengan menggoyangkan tangan istrinya.
Perlahan Mona pun membuka matanya. Dia mengedarkan pandangan melihat ke arah sekitar. Saat dirasa yakin kalau mereka sudah ada di depan rumah. Barulah Mona tersenyum pada Sam.
"Sam, kakiku bengkak. Bisa kan kalau kamu mengantar aku ke kamar?" tanya Mona dengan tampang melas.
Sam tidak langsung menjawab permintaan Mona. Dia terlebih dahulu melihat ke arah kaki Mona. Memang benar, kaki Mona sedikit membengkak. Sam yang tidak tega melihat kaki Mona Akhirnya dia pun menyetujui untuk menggendong Mona sampai ke kamar.
"Tidurlah, bukannya besok kamu masih ada syuting?" Sultan saat sudah tiba di kamar mana.
"Sam temani aku sampai aku tertidur. Perutku sering sakit karena anakku sering menendangnya."
"Aku temani tapi aku duduk di sofa," ucap Sam.
"'Iya tidak apa." Mona pun tersenyum manis pada Sam. Dia merasa sangat senang karena Sam mau menemaninya. Bahkan laki-laki itu rela meninggalkan Airy demi menemaninya pulang.
Sam yang duduk di sofa perlahan memejamkan matanya. Rasa kantuk akibat lelah yang mendera membuat dia cepat terlelap. Sam tidak sadar kalau sekarang dia sedang berada di Mona.
Sementara Mona yang menyadari kalau Sam sudah tertidur di sofa. Dia pun mendekat melihat ke arah Sam dengan segudang rencana untuk mengerjai Airy. Mona tersenyum smirk seraya mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Berbagai pose telah dia ambil. Setelah dia merasa puas mengambil gambar. Mona pun langsung kembali ke tempat tidurnya. Dia segera mengirimkan foto-foto yang tadi diambilnya pada Airy.
Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa menyentuh Sam? Aku yang istrinya tentu lebih berhak untuk menyentuh dan mendapatkan sentuhan dari suaminya. Airy, aku akan mempertahankan Sam. Karena kamu hanya seorang simpanan, batin Mona.
Keesokan harinya, Sam sangat terkejut saat mendapati dirinya tertidur di sofa bed kamar Mona. Dia celingukan melihat ke sekeliling kamar. Terlihat Mona yang sedang tertidur pulas. Sam pun segera beranjak pergi menuju ke kamarnya.
Kenapa aku sampai tertidur di kamar Mona. Perasaan aku tidak melakukan apa pun, batin Sam
Sam langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dia sengaja ingin menjemput Airy agar berangkat bersama ke kantor. Namun, sesampainya di sana dia harus menelan kekecewaan karena ternyata Airy sudah berangkat pagi-pagi sekali.
"Mah, tumben Airy sudah berangkat?" tanya Sam seraya dia menikmati.
"Iya, katanya mau ke rumah Early dulu. Sam, menurut kamu, bagaimana kalau Airy kita jodohkan saja dengan Tuan David. Sepertinya dia menyukai Airy. Kamu lihat 'kan semalam, dia terus saja melihat arah adik kamu." Belum juga Mama Hanna melanjutkan ucapannya terdengar suara Sam yang tersedak.
Uhuk ... Uhuk ....
"Hati-hati Sam kalau makan!" Mama Hanna pun memberikan segelas air putih pada putranya sebelum dia kembali berbicara.
"Mama senang kalau akhirnya Airy memiliki pasangan. Tugas Mama dan Papa untuk menjaganya sampai dia menikah mungkin segera berakhir. Kiara pasti senang, melihat putrinya menikah." Mama Hanna terlihat menitikkan air matanya saat mengingat kematian sahabatnya yang tragis.
"Sudah, Mah. Jangan dilanjutkan! Sam berangkat ke kantor dulu," pamit Sam segera bergegas menuju ke mobilnya.
"Sam, kamu melupakan sesuatu," teriak Mama Hanna.
"Apa, Mah?" tanya Sam dengan menghentikan langkah kakinya. Dia menengok kembali ke arah mamanya.
"Kamu belum salim, Sam. Hais, kamu selalu saja lupa kalau sedang berada terburu-buru," gerutu Mama Hanna.
"Maaf, Mah." Sam pun kembali menghampiri Mama Hanna dan mencium punggung tangannya. Sementara Papa Angga masih berada di ruang kerjanya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan. Klik like, comment, rate, vote dan favorite...
...Terima kasih....