
Mengetahui papanya sudah ada di depan pintu apartemen, Sam pun segera membersihkan dirinya. Dia pun meminta Airy untuk mandi besar sebelum bertemu dengan papanya. Dengan penuh percaya diri, Sam menuju ke pintu apartemen untuk membukakan pintu.
Dia tersenyum pada papanya saat melihat pria paruh baya itu berdiri tegak di depan pintu. Berbeda dengan Tuan Angga yang raut wajahnya langsung berubah suram.
"Kamu di sini, Sam?" tanya Tuan Angga dengan menatap tajam pada putranya.
"Iya, Pah. Sepulang dari persidangan aku langsung ke sini. Aku sudah kangen dengan istriku," jawab Sam enteng.
Bugh!
Satu tonjokan mendarat sukses di perut Sam. Tuan Angga merasa geram karena putranya tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Sementara Sam hanya meringis menahan rasa sakit di perutnya.
"Jangan mengeluh! Kamu pantas mendapatkannya!" seru Papa Angga seraya berlalu pergi masuk ke dalam apartemen. "Airy mana? Bukankah dia juga ada di sini?"
"Masih mandi, Pah!" jawab Sam dengan wajah tanpa dosanya.
"Kamu, tuh!" tunjuk Papa Angga
"Papa berdosa kalau ingin memisahkan aku dengan Airy. Karena aku dan dia sudah menikah secara siri. Apa Papa tidak takut Tuhan marah karena merusak pernikahan anak papa."
"SAM! JAGA BICARA KAMU! AKU TIDAK MENYANGKA SEKARANG KAMU JADI PINTAR MEMBANTAH. DENGAR! AIRY PUTRIKU, AKU HANYA INGIN DIA BAHAGIA. AKU TIDAK MAU DIA TERLIBAT DALAM MASALAH PERNIKAHAN KAMU DENGAN MONA," sentak Tuan Angga dengan mata yang memerah.
"Aku dan Mona sudah pisah baik-baik, Pah. Dia sudah bertemu dengan ayah dari anaknya. Alasan apalagi yang akan Papa pakai. Karena Airy adikku. Iya dia memang adikku, tapi kami tidak memiliki hubungan darah. Aku dan Airy sama-sama saling mencintai, Pah."
"Sam, kalau Airy tidak jadi menikah dengan David, maka dia akan membatalkan investasinya ke perusahan kita."
"Pah, apa segitu pentingnya perusahaan Papa dari anak-anak Papa sendiri? Baik kalau Papa masih melarang aku dengan Airy. Aku akan pergi jauh bersama dengan dia. Aku tidak keberatan melepaskan jabatan ku sebagai General Manager, asalkan bisa bersama dengan Airy."
Papa Angga hanya menatap tajam Sam. Dia tidak menyangka cinta Sam begitu besar pada Airy. Sampai-sampai rela melepaskan semuanya demi gadis itu.
"Baik, jika itu memang keputusan kamu. Mulai besok kamu tidak boleh bekerja di perusahaan Papa. Semua fasilitas yang Papa berikan akan Papa ambil kembali." Papa Angga menarik napas dalam sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Silakan hidupi diri kamu sendiri dan mencari pekejaan yang layak untuk menghidupi putri papa, agar Airy tidak pernah merasa kekurangan. Tapi maaf, Sam! Papa tidak bisa mengijinkan Airy hidup susah bersama dengan kamu."
"Maksud Papa apa?"
"Kamu usaha sendiri, setelah kamu berhasil, baru kamu boleh membawa Airy. Papa orang tua Airy, Papa berhak menentukan harus pada siapa Papa menitipkan putri Papa."
Sam hanya terdiam mendengar apa yang papany katakan. Sungguh, harga dirinya merasa terinjak-injak dengan perkataan papanya. Dia pun bertekad untuk membuktikan pada papanya kalau dia layak menjadi suami Airy.
"Baik, jika itu yang papa inginkan. Tapi itu berarti, aku tidak usah membuktikan apapun tentang David pada papa. Padahal aku sudah mengantongi bukti tentang siapa David."
"Bukti apa maksud kamu?"
"Bukti apa maksud kamu?"
"Ai, keluarlah! Sepertinya Papa sudah tidak sabar ingin mengetahui kebusukan David," suruh Sam pada Airy, yang dia tahu sedang mengintip di balik pintu kamar.
Perlahan Airy pun keluar dari kamarnya. Dia melihat raut wajah tegang papanya. Airy pun berjalan dengan menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat ke arah Papa Angga.
"Ai, tolong ceritakan pada Papa siapa David sebenarnya. Kamu jangan takut, kebenaran harus diungkapkan."
"Apa Airy mengenal David sebelumnya?" tanya Papa Angga dengan menatap lekat putrinya.
"Iya, Pah. Waktu aku kulaih dulu, teman-temanku banyak yang menjadi korbannya. Dia sering berganti-ganti pasangan dan merusak kehormatana para gadis. Tetapi setelah itu, dia mencampakkannya." Airy melirik ke arah Sam yang sedang melihat ke arahnya. Setelah melihat anggukan kepala suaminya, barulah di melanjutkan kembali ucapannya.
"Sebenarnya, dia sudah mengincar ku dari dulu Pah. Tapi aku selalu menghindarinya. Aku juga tidak tahu, kenapa dia bisa sampai ke sini dan menemukan aku. Karena aku tidak pernah mengatakan apapun padanya soal tempat tinggal aku."
"Kalau Papa masih tidak percaya, ayo ikut denganku ke rumah sakit jiwa yang ada di kota Manhattan. Aku sudah meminta seseorang untuk mencari keberadaan teman Airy yang stres setelah dia menjadi teman kencan David." Sam pun mengeluarkan ponselnya dan mencari e-mail yang dikirimkan oleh detektif yang dia sewa.
Setelah Sam mendapatkannya, dia pun segera memperlihatkan foto-foto teman Airy yang sekarang mengalami gangguan jiwa. "Ai, ini teman kamu, kan?" tanya Sam kemudian.
"Iya Bang."
Melihat foto-foto yang Sam perlihatkan, rasanya Papa Angga tidak ingin percaya kalau laki-laki yang terlihat baik dan santun itu ternyata seorang pemain wanita. Apalagi saat mendengar apa yang Airy katakan, membuat dia semakin pusing menerima kenyataan yang di luar nalarnya.
"Kalian tidak berbohong, kan?" tanya Papa Angga syok.
"Tidak, Pah. Untuk apa aku mengada-ada. Ini hasil kerja detektif yang aku sewa. Kalau Papa masih tidak percaya, coba saja papa datang ke klub malam Star di negaranya. Pasti Papa akan bertemu dengan dia," jawab Sam dengan mimik wajah yang serius.
"Tapi bagaimana dengan kerjasama perusahaan kita, Sam?" tanya Papa Angga melihat ke arah Airy dan Sam bergantian.
"Aku tidak tahu. Sekarang aku sudah bukan karyawan Papa lagi."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....