
Selepas memberikan kata sambutannya, David langsung menghampiri Airy. Dia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam pesona gadis itu. Ingin rasanya David menikahi Airy secepatnya dan menikmati saat-saat indah berdua.
"Airy, terima kasih sudah datang. Malam ini kamu cantik sekali," puji David dengan tersenyum nakal kalau ke arah Airy.
"Terima kasih, tapi Anda terlalu memuji aku, Tuan." Airy.
"Mari berdansa denganku!" ajak David dengan mengulurkan tangannya.
"Maaf, Tuan David! Airy baru saja keseleo. Ini masih masa penyembuhan," serobot Sam tiba-tiba.
"Sangat disayangkan. Padahal ini moments yang sangat langka," sesal David.
Sam terus saja merecoki pembicaraan David dan Airy. Laki-laki itu terus saja menyela pembicaraan mereka. Lama-lama David pun merasa jengah sehingga dia memilih pergi dari sana.
Sementara Sam bersorak salam hatinya. Dia merasa bahagia karena usahanya membuahkan hasil. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan dari semua orang.
"Ai, kita pulang lebih dulu yuk! Bilang saja sakit perut kalau ditanya kenapa pulang," suruh Sam mendadak jadi kompor meleduk.
"Iya Abang. Hari ini, kenapa Abang jadi cerewet sekali? Dari tadi terus saja berbicara," tanya Airy dengan melihat ke arah Sam.
"Karena Abang tidak mau kalau sampai kehilangan kamu," jawab Sam sendu dengan menatap dalam Airy.
"Iya Abang. Aku juga tidak mau kalau sampai kehilangan Abang. Airy kan hanya milik Abang dan Abang hanya milik Airy." Gadis itu tersenyum manis pada Sam membuat laki-laki ikut tersenyum seraya mencubit hidung Airy mesra.
Andai saja bukan sedang ditempat umum, sudah Sam pastikan dia akan melihat bibir Airy yang terlihat menggoda. Akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruangan pesta dan menuju ke kamar Sam.
Tanpa bicara lagi, Sam langsung menyerang Airy, saat mereka baru saja masuk ke kamar. Dia seperti seorang pria yang kelaparan. Terus saja memainkan titik sensitif gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Airy seperti cacing kepanasan.
Pada akhirnya, malam ulang tahun BLUE OCEAN, menjadi malam panjang yang berkesan bagi dua anak manusia yang saling mereguk kenikmatan. Untuk sesaat mereka melupakan dengan apa yang telah terjadi.
...***...
Keesokan harinya, saat sinar mentari menelusup masuk ke dalam celah jendela, perlahan Airy membuka matanya. Dia terus saja mengerjap untuk menyesuaikan cahaya. Dilihatnya Sam yang masih tertidur pulas. Dia pun memandangi wajah kekasih hatinya yang terlihat tenang dengan penuh kekaguman.
Tangannya terulur, mengelus lembut pahatan wajah yang nyaris sempurna itu. Sungguh, Tuhan begitu berbaik hati pada Sam dengan apa yang Sam miliki, membuat banyak orang menginginkan hal yang sama.
"Ai, Abang masih ngantuk. Jangan ngajak main sekarang!" ujar Sam dengan mata yang terpejam.
"Abang ikh apaan?" tanya Airy dengan nada malu-malu.
Baru saja Sam akan menarik Airy agar masuk ke dalam pelukannya tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk. Mereka pun langsung panik. Sudah bisa dipastikan kalau bukan karyawan hotel, tentu orang tuanya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Abang gimana ini?" tanya Airy panik seperti seorang maling yang hampir tertangkap warga.
"Sembunyi di kamarnya mandi saja, Ai."
Airy pun menurut begitu saja apa yang disuruh oleh suaminya. Dia langsung berlari tunggang langgang menuju ke toilet. Tidak perduli dengan keadaan dirinya yang tanpa sehelai benang pun. Sementara Sam menahan senyumnya saat melihat buah kesayangannya menggantung bebas di udara.
"Sial, kenapa kamu semakin mengeras?" gumam Sam.
Dia langsung membereskan kekacauan kamarnya. Memunguti bajunya dan baju Airy yang berserakan. Tidak ketinggalan, dia menyambar handuk kimono yang semalam dia simpan di kapstok, sebelum membukakan pintu.
"Iya, Mah. Aku mandi dulu!" sahut Sam dengan berpura-pura masih mengantuk.
"Sebentar-sebentar! Siapa yang sudah memberi tanda merah ini?" tanya Mama Hanna dengan menunjuk pada dada Sam.
"Apaan sih, Mah? Ini tanda lahir," kelit Sam dengan wajah tanpa dosanya.
"Tanda lahir apaan? Mama yang melahirkannya kamu. Mama hapal betul tidak pernah ada tanda lahir seperti ini di dada kamu. Tidak! Kamu sedang membohongi Mama. Cepat tunjukan, dimana perempuan yang menandai putra Mama!"
"Mah, aku mau mandi. Gadisku sudah pergi, takut sama Mama. Lebih baik Mama ke kamar saja dulu, lihat kerutan di mata Mama sudah kelihatan!"
"Yang benar kamu, Sam? Sepertinya Mama harus mencari serum wajah yang lebih bagus lagi. Aku selalu merasa masih muda, tapi ternyata serutan di wajahku sudah kelihatan." Mama Hanna berlalu begitu saja dari kamar Sam. Di langsung menuju ke kamarnya karena merasa tidak sabar ingin melihat apa yang Sam katakan.
Sementara Sam hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Terkadang dia heran, kenapa banyak wanita tidak ingin terlihat tua? Padahal, mereka sudah berumur. Sudah sewajarnya wajah mereka memiliki kerutan di sana sini.
"Mama ... mama ...," gumam Sam seraya menutup pintu kamarnya. Dia beranjak pergi menuju ke kamar mandi. Dilihatnya Airy sedang berendam di bathtub. Dia tersenyum melihat ke arah istrinya, dengan segala fantasy liar yang memenuhi isi kepalanya.
"Bang, Mama sudah pergi?" tanya Airy saat menyadari Sam sedang memperhatikannya.
"Sudah, kita disuruh ikut sarapan dengan Keluarga William. Abang rasanya malas, Ai."
Apalagi aku, Bang. Aku malas sekali harus berpura-pura tersenyum di depan laki-laki itu. Apalagi, saat melihat dia tersenyum menggoda. Dia pikir, aku akan tertarik. Tapi sedikit pun tidak ada rasa suka di hatiku untuk laki-laki brengsekk seperti dia. Cukup teman-temanku yang menjadi korbannya. Tapi aku mau bicara pada papa pun, pasti papa tidak akan percaya karena aku tidak punya apapun, batin Airy.
"Ai, kenapa malah melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu bersedia menikah dengan dia dan meninggalkan Abang?" tanya Sam kemudian dengan menatap dalam wanita pujaannya.
"Abang, kita harus cari bukti tentang David, agar Papa mengurungkan niatnya," ucap Airy tiba-tiba.
"Bukti? Memang dia punya kesalahan apa?" tanya Sam kaget dengan apa yang Airy katakan.
"David itu seorang cassanova berwajah malaikat. Saat akan mendekati mangsanya, dia pasti sangat baik pada targetnya. Tapi saat sudah mendapatkannya, dia selalu berbuat sesuka hati. Bahkan, ada temanku yang masuk rumah sakit jiwa setelah dia dijadikan teman kencannya," beber Airy.
"Apa? Kenapa tidak mengatakannya pada Papa?"
"Aku takut papa tidak percaya sama aku dan bilang kalau aku mengada-ada. Karena aku pernah memperingati teman-temanku soal dia, tapi tidak ada yang percaya sama aku."
"Astaga, Ai! Kenapa tidak bilang dari awal sama Abang?"
"Aku ragu untuk berbicara pada Abang ataupun papa."
"Ya sudah, kita berpura-pura saja dulu. Nanti saat sudah di rumah, baru bilang sama papa. Kalau kamu takut, biar Abang yang maju. Abang yang akan mengatakan semuanya pada papa. Kamu cukup menjadi petunjuk, siapa-siapa saja yang pernah jadi korban David? Sekarang, ayo kita nikmati dulu pagi yang indah ini."
Sam mendekatkan wajahnya pada Airy. Dia mengelus lembut wajah cantik istrinya. Mereka sama-sama tersenyum, sebelum akhirnya keduanya saling memberikan kenikmatan satu sama lain
Sebesar apapun ujian, kalau kita menghadapinya bersama-sama dengan orang yang kita cintai, pasti tidak akan terasa berat, batin Sam.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....