Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 10 Terlihat Berbeda


Hari demi hari yang Airy lewati bersama dengan Sam, membuat hubungan keduanya semakin lengket. Airy selalu saja mengekor ke mana pun Sam pergi. Saat Sam sedang ada pekerjaan di luar, maka laki-laki itu akan menyuruh Airy untuk menunggunya di apartemen.


Seperti hari ini, karena Sam harus mengurus kerjasama dengan perusahaan baru yang ada di kota tetangga, Airy disuruh pulang ke apartemen oleh abangnya. Namun, saat dia baru saja sampai di lobby apartemen, tanpa sengaja bertemu dengan Early, sehingga mereka pun berbincang seru di apartemen Airy.


"Ai, kamu sekarang gemukan deh. Dada kamu juga semakin gede saja," ucap Early seraya menelisik ke badan Airy yang memang ada perubahan di sana sini.


"Ck! Apa sih? Aku kan makannya banyak dah gitu sekarang gak cape mikir kayak waktu kuliah. Orang kerja jadi sekretaris kerjanya nyantai kho. Aku hanya mengatur jadwal Abang sama menerima tamu Abang. Kamu tahu gak, kalau ada karyawan cewek yang pakai baju seksi ingin ketemu dengan Abang, maka akan aku tolak. Suruh dia ganti baju dulu," ucap Airy dengan mata yang menatap lurus melihat ke arah televisi.


"Gila kamu Ai. Adik tapi udah kayak istrinya saja. Posesif abis! Sama kayak Bang Sam juga, sama adik tapi posesifnya udah kayak sama istrinya saja. Sedangkan istrinya dipeluk dicium sama lawan mainnya, dia kho kayaknya biasa aja ya!"


Kamu sih gak tahu, kalau aku dan Bang Sam udah nikah. Wajarlah kalau kita gak mau pasangan kita disentuh sama orang lain. Kalau Kak Mona kan, karena Abang gak cinta sama dia. Airy tertawa dalam hatinya dengan ucapan sahabatnya.


"Kayaknya udah malam Ai, aku pulang dulu ya! Kalau ngobrol sama kamu, aku suka kebablasan."


"Ya udah, gih pulang. Nanti kamu dihadang wewe ...." Belum juga Airy selesai bicara, Early sudah membekap mulut sahabatnya. Dia memang penakut jika berhubungan dengan makhluk astral..


"Gak usah diperjelas, aku pulang sekarang. Awas loh sendirian di apartemen, nanti ada yang datang terus pegang-pegang kamu."


"Biarin aja, enak kho!" Ceplos Airy.


"Apa? Emang kamu pernah?" tanya Early kembali duduk karena penasaran dengan jawaban sahabatnya.


"Gaklah! Sudah sana pulang! Aku mau tidur," usir Airy dengan mendorong tubuh sahabatnya. Dia takut Early akan bertemu dengan Sam. Karena tadi Sam mengirim pesan kalau laki-laki itu sudah keluar tol. Mungkin sebentar lagi akan sampai dia apartemen.


Seperti yang Airy perkirakan, tidak berapa lama setelah Early pulang, Sam datang ke apartemen. Laki-laki itu tidak berbicara sepatah kata pun. Dia langsung tidur di pangkuan Airy yang sedang duduk di sofa.


"Lelah ya, Bang!" Airy mengelus lembut rambut Sam yang tebal.


"Hm ... Abang tidur sebentar ya!" Sam langsung memejamkan matanya. Entah apa yang terjadi pada laki-laki itu. Tetapi sepertinya dia sedang banyak pikiran.


Satu jam sudah Sam tertidur di atas pangkuan Airy. Tentu saja membuat kaki gadis itu menjadi kesemutan. Namun, Airy diam saja. Karena dia tidak mau mengganggu tidur suaminya.


Perlahan Sam pun membuka matanya. Dia langsung mencium perut Airy yang masih rata, sebelum dia bangun dari posisi tidurnya.


"Apa kakinya sakit?" tanya Sam dengan menatap lekat wanita yang sangat dicintainya.


"Hehehe ... Sedikit," jawab Airy cengengesan.


"Kita mandi yuk!" ajak Sam langsung berdiri dari duduknya.


Tanpa bicara lagi, laki-laki tampan itu langsung membopong Airy dan membawanya ke kamar mandi. Mereka pun begitu menikmati acara mandi plus-plus dengan suara lenguhan dan erangan yang memenuhi kamar mandi. Setelah keduanya mendapatkan pelepasan, barulah Sam dan Airy membersihkan seluruh tubuhnya.


"Abang, sudah makan belum di jalan?" tanya Airy saat mereka sudah kembali berpakaian.


"Belum. Mau makan apa?" tanya Sam dengan melihat ke arah Airy yang sedang mengeringkan rambutnya. Dia langsung mengambil alih pengering itu dan membantu Airy untuk mengeringkan rambut istri kesayangannya.


"Kita makan di food street yuk, Bang! Bosan makan di resto apalagi di apartemen," ajak Airy.


"Siap, Abang sayang!" goda Airy dengan tersenyum manja.


Sam hanya tersenyum tipis melihat kelakuan adiknya itu. Dia hanya mencubit hidung mancung wanitanya karena gemas. Setelah menyimpan alat pengering rambut, Sam pun bersiap memakai sweater yang sama dengan Airy.


Kini keduanya berjalan menyusuri trotoar dengan saling bergandengan tangan. Karena jarak food street yang tidak jauh dari apartemen membuat keduanya memilih untuk berjalan kaki seraya menikmati angin malam.


"Abang, memang sekarang aku gemukan ya! Kata Early, badan aku lebih berisi."


"Tidak apa, Abang suka melihat badan kamu lebih berisi."


"Tanya sama Abang sama saja boong. Pasti jawabannya suka kalau tanya Abang. Sebenarnya ada gak sih, Bang yang Abang gak suka dari aku?" tanya Airy dengan menghentikan langkahnya.


"Ada, saat kamu mengabaikan Abang dan marah sama Abang. Apalagi, kalau sampai mendiamkan Abang," jawab Sam yang juga menghentikan langkahnya. Dia menghadap ke arah Airy sebelum melanjutkan ucapannya.


"Ai, kalau nanti ada hal tidak kita inginkan, Abang minta tetap berdiri bersama Abang ya! Jangan pernah berpikir untuk pergi jauh dari Abang ataupun menyerah dengan pernikahan kita."


"Untuk apa aku pergi jauh dari Abang kalau yang aku inginkan dalam hidupku hanya Abang."


"Anak pintar, Abang makin sayang sama kamu." Sam mengusak rambut Airy pelan.


"Abang ikh, nanti rambutku berantakan," rengek Airy dengan memegang tangan Sam.


"Sedikit! Ayo, mau makan apa?"


"Sate kayaknya enak, Bang. Pakai lontong. Tapi nanti sop kambingnya dibungkus buat dimakan di rumah."


Sam pun segera membawa Airy ke tenda penjual sate. Mereka begitu menikmati makan malam dengan hembusan angin yang menerpa kulit. Serasa dunia milik berdua, Airy dan Sam makan dengan saling menyuapi tanpa perduli dengan pembeli lain yang juga makan di situ.


Sampai malam sudah semakin larut, barulah mereka kembali ke apartemen. Mengulang kembali sesi percintaan yang selalu membuat keduanya terasa terbang ke nirwana. Sampai akhirnya mereka tertidur setelah keduanya mendapatkan pelepasan.


Keesokan harinya, kedua pasangan siri itu berangkat ke kantor bersama. Karena memang Mona sedang ada syuting di luar kota, sehingga Sam bisa lebih leluasa menginap di apartemen Airy. Meskipun memang dia tidak mencintai Mona, tetapi Sam berusaha menghargai Mona sebagai istrinya.


"Loh, Airy berangkat bareng Abang. Apa kmu menginap di apartemen Airy, Sam?" tanya Papa Angga yang berpapasan di lobby perusahaan.


"Tidak, Pah. Aku menjemputnya" jawab Sam dengan nada datar seperti tidak ada masalah apapun.


"Baguslah! Kamu sudah menikah, harus bisa menjaga perasaan Mona. Jangan sampai istrimu salah sangka dengan kedekatan kalian," ucap Papa Angga dengan menepuk bahu putranya.


"Iya, Pah. Aku mengerti."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....