Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 40 Koma


Wajah cantik dengan tubuh semampai itu kini sudah tak berbentuk lagi. Wajah dan beberapa bagian tubuh Mona kini audah terpasang oleh perban. Membuat orang yang melihatnya tidak dapat langsung mengenali.


Sam yang mengurus pemindahan wanita cantik itu ke rumah sakit internasional, hanya bisa menghela napas dalam. Dia tidak pernah menyangka nasib tragis akan menimpa mantan istrinya. Apalagi, kini Mona dalam keadaan koma. Membuat dia menjadi bingung harus mengatakan apa pada orang tua Mona.


"Sam, papanya Mona meminta Papa untuk mengakuisisi perusahaan dia. Karena mungkin, dia tidak bisa memegang perusahaan itu lagi. Bagaimanapun menurut kamu?" tanya Tuan Angga seraya melihat ke arah Mona yang sedang tertidur panjang.


"Bagaimana baiknya saja, Pah. Aku jadi khawatir pada keadaan Gala. Kasian sekali nasibnya, masih bayi dia tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya."


"Makanya itu, Papanya Mona meminta agar Papa menyimpan sisa uang penjualan perusahaan dia untuk biaya hidup Gala. Sepertinya mau tidak mau, kita harus merawat anak kecil itu."


"Tidak apa, Pah. Biar nanti Sam dan Airy sekalian merawat dia bersama dengan anak kami."


"Kamu jangan khawatir, Papa dan Mama pasti akan membantu menjaganya."


"Lalu, bagaimana dengan keadaan Om Edward, apa sudah membaik?"


"Terakhir Papa berbicara lewat video call, keadaan dia semakin memburuk. Cangkok jantungnya mengalahkan kegagalan. Mereka mencari jantung baru tapi belum mendapatkannya juga. Semoga saja dia keadaannya semakin membaik."


Setelah memastikan keadaan Mona, kedua anak dan ayah itu oun kembali pulang ke rumahnya. Karena hari sudah malam. Seharian keduanya tidak pergi ke kantor karena mengurus Mona yang mengalami kecelakaan.


Sesampainya di rumah, terlihat Airy sedang memangku anak kecil itu dengan Mama Hanna di sampingnya. Mereka terus saja tersenyum melihat tingkah Gala yang menggemaskan.


"Sepertinya Istri Abang sedang bahagia," ucap Sam seraya mencium kening Airy, lalu mencium punggung tangan Mama Hanna sebelum dia duduk di samping ibu hamil itu.


"Abang, kenapa datangnya tidak bersuara?" tanya Airy kaget.


"Bukan tidak bersuara, tapi kamu yang terlalu asyik bermain dengan Gala. Bagaimana keadaan anak kita. Apa dia merepotkan?" Sam balik bertanya dengan mencium perut buncit itu.


"Dede Utun anteng kho, Papa. Bagaimana keadaan Mona?"


"Iya, Pah, Sam, bagaimana keadaan Mona?" Mama Hanna pun ikut bertanya.


"Keadaan dia memprihatinkan." Papa Angga menghela napas dalam sebelum melanjutkan bicaranya. "Sekarang dia koma, kata dokter harapan untuk dia hidup tipis. Semoga saja ada keajaiban untuk dia bertahan hidup."


"Ya Tuhan ... Kasian sekali Mona! Gala, jangan sedih ya! Ada Oma, Mama Airy, Opa, dan Papa yang akan menjaga kamu, Sayang."


"Iya, Gala! Kamu akan menjadi anak kami," ucap Airy getir. Dia jadi teringat dengan masa kecilnya, saat kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Airy sendiri yang selamat dari maut itu karena dia terpental jauh dan mendarat di tumpukan sampah.


"Tuan, Nyonya, lalu bagaimana dengan saya? Siapa yang akan menggaji saya kalau Non Mona tidak sadarkan diri," tanya Ina tiba-tiba.


"Kamu jangan khawatir, kami yang akan menggaji kamu," ucap Tuan Altair.


"Sebentar, Pah! Kalau kamu ingin bekerja di sini, kamu harus menundukkan pandangan kamu dari semua laki-laki yang ada di rumah ini. Aku tidak mau terjadi affair di antara pekerja di sini. Ataupun kamu berusaha untuk panjat sosial," tegas Sam datar.


"Baik, Tuan! Saya akan melakukan seperti apa yang Tuan katakan," ucap Ina dengan menundukkan kepalanya.


Belum apa-apa sudah diberi peringatan. Kenapa dia sadar kalau aku sering mencuri pandangan sama dia, batin Ina.


"Gala, sama Mbak dulu ya! Mama sama Papa mau istirahat dulu," ucap Sam. "Sayang, biar Gala sama pengasuhnya. Ayo kita tidur!"


"Iya, Bang!" sahut Airy langsung memberikan Gala pada Ina. "Mbak Ina titip ya!"


"Iya, Non!" sahut Ina dengan menerima Gala. "Tuan, Nyonya saya permisi mau menidurkan Gala."


Airy dan Mama Hanna hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya sedikit. Mereka ikut menyusul pergi ke kamar masing-masing, karena memang hari sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat.


"Bang, kenapa tadi bicara seperti itu sama Mbak Ina?" tanya Airy saat keduanya sudah ada di kamar.


"Abang tidak suka karena dia sering mencuri pandang sama Abang."


"Sepertinya aku punya saingan. Tapi awas saja kalau Abang sampai tergoda sama dia. Akan aku pastikan ...."


"Kamu selalu bermain di atas, benar kan!" goda Sam memotong ucapan istrinya.


"Apaan sih, Bang?" Pipi Airy bersemu merah mendengar godaan dari suaminya.


"Tidak usah malu seperti itu! Abang suka kho kamu bermain di atas." Dia merapatkan tubuhnya pada tubuh ibu hamil itu. "Sebelum mandi, ayo kita bermain dulu sebentar!"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....