Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 34 Permintaan Maaf Papa Angga


Selama perjalanan pulang dari perusahaan David, pikiran Tuan Angga terus saja berkecamuk. Dia benar-benar tidak menyangka David akan bersikap seperti itu. Sungguh di luar dugaannya, dia menyaksikan sendiri kelakuan tidak baik mantan calon menantunya.


"Beruntung saja aku belum menikahkan Airy dengan dia. Kalau sampai menikah, aku bisa-bisa dihantui rasa bersalah seumur hidup," gumam Tuan Angga.


"Pak, langsung pulang ke rumah saja! Kepala saya rasanya pusing sekali," suruh Tuan Angga pada supir pribadinya.


"Baik, Tuan!" sahut supir itu. Dia pun langsung memutar arah menuju ke rumah tuannya. Karena memang, awalnya Tuan Angga ingin pergi ke perusahaan. Namun, setelah dia terus memikirkan kejadian tadi, mendadak dia ingin pulang ke rumah untuk melihat keadaan Airy.


Sesampainya di rumah, pria paruh baya itu langsung mencari putri angkatnya. Dia ingin memastikan kalau Airy dalam keadaan baik-baik saja. Tuan Angga pun bisa bernapas dengan lega, saat dia mendapati Airy sedang tidur siang.


"Tidurlah, Nak! Maafkan Papa, pernah menempatkan kamu pada posisi yang sulit. Semoga kamu bahagia bersama dengan putra Papa," lirih Tuan Angga seraya mengelus lembut rambut Airy.


Ibu hamil itu langsung terbangun dari tidurnya, saat merasakan ada tangan yang mengelus kepalanya. Dia melihat Tuan Angga dengan tatapan sayu melihat ke arahnya.


"Papa kenapa? tanya Airy kaget.


"Tidak apa, Sayang! Tidurlah, maaf kalau Papa tidak sengaja membangunkan kamu."


"Pah, kalau ada yang ingin Papa sampaikan, Aku akan mendengarkan apa yang Papa katakan. Apa Papa sedang ada masalah?"


"Tidak Sayang! Papa hanya senang karena tidak jadi menjodohkan kamu dengan David. Sekarang Papa tahu, kalau dia tidak sebaik yang Papa kira," jelas Tuan Angga dengan menatap sendu Airy.


"Apa Papa melihat di bersama dengan seorang wanita?" tebak Airy.


"Iya," jawab Tuan Angga dengan tersenyum getir.


"Sudah, Pah. Jangan dipikirkan! Yang penting, aku tidak jadi menjadi korbannya. Aku juga minta maaf sama Papa, karena sudah mencintai Abang tanpa se-ijin Papa. Aku tahu kalau aku salah, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku ...."


"Papa mengerti, Papa titipkan putra Papa padamu ya, Nak! Semoga pernikahan kalian ada dalam ridho-NYA. Papa dan mama sudah merestui kalian. Kami ikhlas ridho menerima kamu sebagai menantu kami. Meskipun sebenarnya, Airy adalah putri kecil kami." Tuan Angga mengelus lembut rambut Airy.


Dadanya dipenuhi oleh keharuan yang membuncah. Sungguh di luar dugaannya, gadis kecil yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri kini harus menjadi menantunya. Apalagi, anak-anaknya ternyata menikah diam-diam.


"Papa, sedang apa di kamar aku?" tanya Sam yang baru saja datang. Dia sengaja pulang ke rumah untuk mengajak Airy makan siang bersama.


"Papa hanya ingin bicara dengan putri Papa. Selama ini kamu selalu saja mendominasi. Sam, Papa ini orang tuanya. Wajar saja kalau Papa ingin berbicara berdua sebelum melepaskan dia menjadi istri sah kamu."


Pletak!


Tuan Angga langsung menggeplak tangan putranya. Dia merasa gemas pada Sam yang berani-beraninya berprasangka buruk padanya. Dia pun langsung berlalu pergi dari kamar Sam.


"Sam, semua orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia. Papa memang salah karena ingin menjodohkan Airy dengan David, tapi bukan berarti Papa mengharapkan hal yang tidak baik dalam pernikahan itu. Kamu harus ingat, Papa dan Mama selalu ingin melihat kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami begitupun sebaliknya," ucap Tuan Angga saat dia menghentikan langkahnya di ambang pintu.


Sam hanya dia membisu mendengar apa yang papanya katakan. Karena papanya pernah memaksa dia dan Airy untuk menikah dengan calon pilihan papanya, membuat dia jadi sedikit hilang kepercayaan pada laki-laki yang selalu menjadi idolanya.


"Abang, tadi papa ke sini untuk minta maaf." Airy pun menceritakan semua pembicaraan dia dengan Tuan Angga. Membuat Sam menjadi merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk.


"Nanti Abang akan minta maaf pada Papa, sekarang kita makan yuk! Pasti belum makan siang, 'kan?" tanya Sam dengan menatap lekat Airy.


"Belum, tapi aku malas turun ke bawah." Airy mengerucutkan bibirnya, membuat Sam menjadi gemas dan langsung menciumnya.


Meskipun, awalnya hanya ingin mengerjai Airy, tetapi Sam jadi terhanyut dalam pagutan yang membuat urat sarafnya menegang. Tangannya mulai bergerilya menyentuh tiap titik sensitif Airy, yang sukses membuat ibu hamil mengeluarkan suara seksinya di tengah-tengah pagutan yang memabukkan itu.


"Airy ... Sam ... Astaga! Kenapa kalian tidak menutup pintunya." Mama Hanna sangat terkejut melihat pertunjukan yang anak-anaknya pertontonkan.


Jelas saja Sam dan Airy pun ikut terkejut mendengar suara mamanya yang terdengar sangat jelas di telinga. Mereka pun akhirnya saling melepaskan pagutannya dengan wajah yang bersemu merah.


"Maaf, Mah. Tadi kelepasan," sesal Sam denagn melirik Airy yang menutup wajahnya karena malu.


"Sudah sudah ... Lain kali tutup pintu ya! Lagian ini masih siang, kalian sudah mau nengokin anak saja. Sam kalau istri sedang hamil muda, jangan sering digempur, kasian anak kalian. Cepat turun! Papa dan Mama menunggu di bawah."


Selepas kepergian Mama Hanna, keduanya saling berpandangan. Sampai akhirnya Airy berbicara, "Abang, bagaimana ini? Aku malu ketemu Mama."


"Sudah gak apa. Lain kali kita harus tutup pintu dan kunci rapat-rapat."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....