Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 24 Penjelasan Sam


Hati dan pikiran Sam yang terus saja tertuju pada Airy, membuat laki-laki itu segera bergegas pergi dari perusahaan setelah meeting dengan perusahaan BLUE OCEAN . Dia segera mencari Airy lewat aplikasi pelacak nomor ponsel. Sampai akhirnya Sam menemukan titik koordinat gadis itu.


Namun, ketika dia tiba di sana, Sam melihat Airy sedang bermain bola dengan anak-anak kecil itu. Dia hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya melihat apa yang Airy lakukan. Sam hanya membiarkan saja dengan apa yang gadis itu lakukan. Dia pun mencari tas Airy dan mengambil ponselnya.


Dia melihat satu persatu chat masuk ke ponsel istrinya. Dia khawatir Mona mengatakan hal yang tidak-tidak kepada gadisnya. Sampai akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri foto-foto saat Sam tertidur di kamar Mona.


Pantas saja Airy pergi tanpa bilang padaku, ternyata ini alasan dia pergi, batin Sam dengan mengepalkan tangannya.


"Abang, sedang apa di sini?" tanya Airy saat melihat Sam duduk di tempat dia tadi duduk.


"Duduklah, kita menonton mereka dulu!"


"Sebentar, Bang! Aku beli es krim dulu! Ayo anak-anak ambil saja es krim-nya. Nanti kakak yang bayar," suruh Airy pada anak-anak yang sedang main bola.


"Horeee," sorak mereka langsung berebut es krim.


Airy mengambil dompet di tasnya. Namun, Sam menahan tangan gadis itu. Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Biar Abang yang bayar. Ai, lain kali kalau Mona mengirim foto yang tidak-tidak, kamu jangan menggubrisnya."


Sam pun beranjak pergi menuju ke penjual es krim keliling. Dia memborong semua es krim yang di bawa orang mamang penjual es krim. Tidak lupa dia membawa es krim cone dengan coklat tebal di atasnya untuk Airy dan juga dirinya.


"Nih, Ai. Sepertinya tanah lapang dengan anak-anak yang bermain bola cukup menarik untuk kita melepaskan penat." Sam mendudukkan bokongnya di samping Airy.


"Abang tahu dari mana, aku ada di sini?" tanya Airy dengan menerima es krim dari Sam.


"Nomor ponsel kamu. Selama ponsel kamu aktif, tidak akan sulit untuk melacaknya. Ai, foto-foto itu Abang tidak tahu kapan Mona mengambilnya. Semalam Abang ketiduran di kamar dia," jelas Sam dengan melirik ke arah Airy yang menghentikan memakan es krimnya.


"Bang, apa benar Abang tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Kak Mona? Kak Mona cantik, seorang model. Dia pun putri seorang pengusaha sukses. Apa Abang tidak akan menyesal jika nanti melepaskan dia?"


Kini giliran Sam yang menghentikan memakan es krimnya. Laki-laki itu menatap lekat wajah cantik adik angkatnya. Dia melihat raut putus asa dari wajah Airy. Sam pun semakin mendekat ke arah Airy.


"Ai, kamu ingin tahu, hal apa yang akan membuat Abang menyesal seumur hidup? Abang akan menyesal jika Abang sampai kehilangan kamu. Apa kamu tidak bisa mengerti juga dengan perasaan Abang? Tidak ada hal yang lebih berarti di dunia ini, selain kamu."


"Abang, tapi sepertinya Mama dan Papa tidak akan pernah setuju kita bersatu. Papa ... Papa ... Mau menjodohkan aku dengan Tuan David." Airy menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. Dia benar-benar gundah setiap kali mengingat tentang perjodohan itu.


"Biar Abang yang bicara dengan Papa."


"Lalu bagaimana dengan Kak Mona? Abang kan masih berstatus suami Kak Mona. Nanti aku pasti dituduh pelakor."


Sam mendengus kasar saat mengingat pernikahan aliansinya itu. Kini di buat bingung bagaimana caranya mengundur perjodohan Airy dengan David. Sampai Mona melahirkan dan dia bisa segera menceraikannya.


"Usia kandungan Mona baru tujuh bulan. Mungkin butuh dua bulan lagi untuk dia melahirkan dan Abang bisa segera menceraikannya."


"Bagaimana kalau Papa mempercepat acara perjodohan itu? Apa yang harus aku lakukan?"


"Ai, kalau Papa terus mendesak kamu agar mau dijodohkan dengan David, segera bilang sama Abang. Biar nanti Abang yang berbicara pada Papa. Apapun itu, baik soal Mona maupun rencana Papa, Abang minta jangan ada yang disembunyikan dari Abang. Kamu mengerti?"


"Iya."


"Apa karena mikirin hal itu matamu sembab?"


"Bukan!" elak Airy dengan memalingkan mukanya.


"Sudahlah! Ayo kita pulang! Lihat, mereka memperhatikan kita terus!" tunjuk Sam dengan dagunya pada sekumpulan anak kecil yang sedang beristirahat.


Airy pun melambaikan tangannya pada mereka sambil tersenyum manis lalu berkata, "Kakak pulang ya! See you!"


Airy pun langsung mengejar Sam yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke mobilnya. Dia memang pergi dari rumah dengan menggunakan taksi, karena Airy tidak berani membawa kendaraan sendiri saat pikirannya sedang kalut. Dia takut kejadian saat masih kecil bersama dengan kedua orang tuanya terulang kembali.


"Ai, sudah makan belum?" tanya Sam saat sudah berada di dalam mobil.


"Em ...."


"Pasti belum, kan? Mau makan di mana?"


"Kedai Bakso Mang Bontot."


"Boleh, apa kamu lagi kangen dengan sekolah?"


"Aku ingin kembali ke masa kecil. Saat tidak banyak masalah yang menghampiri kita. Meskipun aku tidak bisa bersama dengan mama papaku, setidaknya aku bahagia bersama dengan Abang dan Mama Papa Abang."


"Abang tidak mau kembali ke masa kecil."


"Kenapa?" tanya Airy dengan mengerutkan keningnya.


"Karena saat itu, Abang tidak bisa mencium kamu seperti ini." Sam memiringkan badannya dan mengecup singkat bibir Airy yang duduk di sebelahnya.


"Abang ikh, hati-hati lagi nyetir juga."


"Kalau hanya sebentar tidak akan apa-apa."


Lumayan lama Sam memacu kendaraannya, karena memang jarak lapang ke tempat penjual bakso itu lumayan jauh. Karena pemakanam yang Airy kunjungi berada di dekat rumah orang tuanya dulu. Namun sekarang rumah itu sudah diambil alih oleh keluarga papanya.


Saat sudah sampai di tempat yang dituju, Airy langsung saja memesan makanan favorit nusantara itu. Tidak tanggung-tanggung, dia memesan tiga mangkuk sekaligus. Satu untuk Sam dan dua mangkuk untuk dirinya.


Bukannya memakan baksonya miliknya, Sam justru memperhatikan Airy yang seperti orang kelaparan. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ai, makannya pelan-pelan! Abang tidak akana merebutnya," tegur Sam dengan mengelus lembut rambut gadis itu.


"Abang, kenapa belum makan? Ini kan enak sekali, coba Abang icip dulu!" Airy menyuapi Sam dengan bakso yang ada di dalam mangkuknya.


Sam pun langsung menyambut suapan dari istrinya tanpa sungkan. Namun, dia langsung meminum minumannya karena bakso milik Airy terasa sangat pedaas di lidahnya.


"Jangan dimakan lagi Ai! Pesan yang baru," suruh Sam.


"Gak mau! Aku maunya yang ini, kalau Abang larang, aku gak mau pulang sama Abang."


"Ai ...."


"Bang, kali ini saja, please! Biar aku sedikit melupakan semua yang terjadi."


"Baiklah, tapi kuahnya jangan dimakan."


Terima kasih Abang, selalu menuruti keinginan aku. Meskipun awalnya melarang, tapi Abang selalu mengalah pada keinginan aku.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....