
Suasana makan siang terasa sangat tegang. Airy terus saja menundukkan kepalanya di depan semua orang. Dia benar-benar merasa malu pada mamanya. Sampai akhirnya Mama Hanna membuka suaranya saat semuanya sudah selesai makan.
"Sam, Ai, sebaiknya pernikahan kalian dipercepat saja. Tadi Mama sama Papa sudah berunding, bagaimana kalau dua hari lagi. Nanti sehabis makan, Mama mau ajak Airy ke butik untuk fitting baju kebayanya."
"Sam setuju, Mah. Nanti aku juga akan ikut ke butik sama Mama dan Airy. Biar nanti Papa saja yang menghandle meeting dengan karyawan," ucap Sam dengan wajah yang berbinar. Jelas saja hal itu yang diharapkannya. Secepatnya meresmikan pernikahannya dengan Airy di mata hukum.
"Aku ikut Abang saja, Mah." Airy pun langsung menimpali apa yang Sam katakan.
"Tapi setelah menikah, kalian tidak boleh keluar dari rumah ini. Tinggal saja di sini bersama dengan kami, biar nanti Mama membantu menjaga cucu Mama."
"Iya betul, Sam. Kalian tinggal saja di sini," timpal Tuan Angga.
"Tidak masalah, Pah. Di mana pun aku tinggal, asalkan bersama dengan Airy dan anak kami, itu tidak jadi masalah buatku," ucap Sam dengan menatap penuh cinta pada istrinya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat ke butik!" ajak Mama Hanna.
"Sebentar, Mah! Aku ganti baju dulu." Airy langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke kamarnya. Setelah dia merasa siap dengan penampilannya, Airy pun segera menemui Sam dan Mama Hanna yang menunggunya di ruang tengah.
"Sudah siap?" tanya Sam seraya menghampiri Airy.
"Sudah, Bang!" sahut Airy dengan tersenyum.
Mama Hanna langsung berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang saling melempar senyum. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat semua itu.
Kenapa aku tidak menyadari dari awal, kalau tatapan mata Sam pada Airy itu tatapan penuh cinta. Aku hanya mengira kalau Sam sangat menginginkan punya adik sehingga dia selalu terlihat posesif pada Airy, batin Mama Hanna.
Mama Hanna terus saja bergelut dengan pikirannya, sehingga dia tidak menyadari kalau langkah kakinya membawa dia keluar dari rumahnya menuju ke jalan raya. Sampai akhirnya Sam memanggil Mama Hanna.
"Mah, Mama mau ke mana? Ke butiknya pakai mobil Sam saja, Mah."
"Ah, iya. Kenapa Mama jalan ke sini? Mama kan mau masuk ke mobil," tanya Mama Hanna seraya menepuk jidatnya sendiri. Dia pun berbalik menuju ke mobil Sam.
"Mama kenapa?" tanya Airy seraya menatap mamanya yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Mah, Maaf soal tadi."
"Iya, gak apa-apa Ai. Mama masih tidak habis pikir dengan kalian. Pintar sekali kalian menyembunyikannya dari Mama dan Papa. Kenapa juga kalian tidak bilang dari awal kalau sama-sama saling menyukai. Mungkin Mama tidak akan menjodohkan Sam dengan Mona. Karena waktu itu, Mama dan Papa khawatir kalau kamu tidak menyukai perempuan, Sam."
Mereka pun terus berbincang tentang rencana pernikahan yang dadakan itu. Berembuk siapa saja yang akan diundang untuk menghadirinya. Sampai akhirnya Mama Hanna membuat keputusan untuk mengadakan pesta tertutup yang hanya dihadiri orang terdekat dan rekan bisnisnya.
Sementara Sam hanya menyetujui begitu saja. Karena bagai keduanya, yang terpenting mereka bisa mengatakan pada semua orang kalau keduanya sudah menikah secara sah di mata hukum dan agama.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Sam memarkirkan mobil di depan butik langganan Mama Hanna. Mereka pun tidak membuang-buang waktu untuk berlama-lama di mobil.
"Ayo Ai, kita ke atas! Mama sudah menelpon Tante Ara dan memintanya mencarikan kebaya untuk pernikahan kamu," ajak Mama Hanna dengan menggandeng tangan Airy.
"Iya, Mah." Airy pun hanya mengikuti Mamanya tanpa berniat untuk protes.
Setelah sampai di ruangan desainer butik itu, yang merupakan teman sekolah Mama Hanna, ketiganya pun dipersilakan duduk. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya ke niat awal mereka datang ke sana.
"Ara, tolong carikan kebaya yang cocok Airy! Lusa dia kan menikah dengan Sam," ucap Mama Hanna.
"Kamu tenang saja, aku baru saja mendesain baju kebaya putih. Tadinya untuk calon menantuku, tapi putraku masih suka bermain-main. Mungkin cocok kalau dipakai oleh Airy," ucap Arabella, pemilik sekaligus desainer butik itu. "Ayo, Sayang! Kita coba dulu, kira-kira bagian mana yang harus diperbaiki biar pas di tubuh kamu."
"Baik, Tante!" Airy tersenyum seraya mengikuti ke mana wanita cantik itu membawanya.
Tidak ketinggalan Sam pun mengikuti Airy yang dibawa ke sebuah ruangan khusus yang berada di samping ruangan pemilik butik. Nyonya Ara pun segera memakaikan kebaya yang baru saja selesai dia rancang. Setelah terlihat melekat di tubuh Airy, Nyonya Ara pun menelisik bagian mana saja yang dia rasa kurang pas saat dipakai leh Airy.
"Sepertinya, bagian pinggang harus diperbesar sedikit," gumam Nyonya Ara.
"Hehehe ... Iya, Tan. Perutku terasa engap," ucap Airy dengan cengengesan.
"Apa, Airy lagi isi?" tanya Nyonya Ara lagi.
"Iya, Tan!" sahut Airy malu-malu.
"Tidak apa, biar nanti Tante sedikit perbaiki agar tidak terlalu ketat."
"Makasih, Tan!"
Anak muda jaman sekarang, anak gadis orang dijadikan tabungan berjangka. Semoga saja putraku tidak menebar benih ke setiap gadis yang dikencaninya, batin Nyonya Ara.