Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 16 Madu


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Airy lebih banyak diam. Dia terus saja memikirkan apa yang orang tua angkat katakan. Dia ingin mengatakannya pada Sam. Akan tetapi, Airy khawatir Sam marah. Karena merasa dibohongi oleh mama papanya. Apalagi Airy tahu, bagaimana tabiat suaminya yanga akan marah besar, saat dia tahu kalau dia sudah dibohongi.


Biarkan saja, yang penting aku dan abang sudah bersama. Meskipun belum bisa jujur pada orang-orang, batin Airy.


"Ai, apa yang sedang kamu lamunkan? Papa memanggil berkali-kali tapi diam saja," tanya Papa Angga seraya menepuk putrinya.


"Eh, Papa ... Tidak ada kho, Pah. Sudah sampai ya?" Airy celingukan melihat ke luar mobil dan ternyata sudah tiba di depan lobby perusahaan.


"Iya, Sayang. Papa panggil kamu karena mau bilang sudah sampai," ucap Papa Angga. Dengan menatap lekat putrinya. "Apa ada masalah? Sampai Airy melamun terus."


"Tidak ada, Pah. Airy turun dulu ya!" pamit Airy lalu mencium punggung tangan Papa Angga.


"Iya, Nak. Papa mau langsung ke kantor cabang. Oh, iya Ai. Sebelumnya Papa minta maaf, kalau bisa tolong sedikit dikurangi kemanjaannya pada Sam. Papa khawatir, Mona menjadi salah paham pada kalian."


"Iya, aku mengerti!" sahut Airy dengan memaksakan tersenyum pada papanya.


Dia pun langsung turun dari mobil Papa Angga. Airy berjalan gontai menuju ke ruangan Sam. Dia sedikit membanting tubuhnya ke kursi kerja. Sejurus kemudian, Airy menelungkupkan wajahnya ke meja kerja.


Entahlah, dia merasa perjalanan cintanya terasa berat. Banyak pihak yang tidak merestui cintanya dengan Sam. Meskipun sekarang dia sudah menikah dengan abang angkatnya, tetap saja dia hanya sebagai simpanan yang tidak memiliki kekuatan apapun jika dibandingkan dengan Mona yang berstatus istri sah Sam.


Saat dia sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja ada yang mencium pucuk kepala. Airy pun segera mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah berani menciumnya. Terlihat Sam sedang menaikkan satu alisnya tanpa bicara sepatah kata pun.


Airy hanya mengerucutkan bibirnya melihat Sam yang ada di depannya. Membuat laki-laki itu tersenyum gemas melihat ekspresi wajah gadis yang dicintainya.


"Ke ruangan Abang sebentar!" suruh Sam kemudian berlalu pergi ke ruangannya.


Dengan wajah cemberut, Airy pun berjalan mengekor Sam dari belakang. Namun, saat baru saja di masuk ke dalam ruangan, laki-laki itu langsung menguncinya ke daun pintu yang baru saja Airy tutup.


Sam tidak bicara sepatah katapun karena mulutnya sedang sibuk menyesap benda kenyal yang selalu membuatnya tergoda. Dia tidak menyadari kalau Jordy sedang melihat betapa bergairahnya kedua pasangan itu. Membuat dia hanya bisa membulatkan matanya sempurna.


"Ehm ...." Jordy langsung berdehem saat melihat Sam akan menurunkan baju Airy. Tidak mungkin jika dia harus melihat adegan dewasa terllau jauh. "Sorry Sam, aku sengaja menunggu kedatangan kamu di sini, karena ada berkas yang harus segera kamu tanda tangani."


Mendengar ada orang yang berbicara, Sam dan Airy saling melepaskan pagutannya. Untung saja, mereka masih dalam mode aman, belum memasuki mode warning yang tidak boleh dilihat oleh siapa pun selain kedua pasangan itu.


"Ck! Ngapain kamu di sini?" tanya Sam berdecak sebal seraya merapikan kembali baju Airy.


"Aku kerja, sudah nanti di rumah saja kalian lanjutkan. Sekarang ada hal yang lebih penting. Perusahaan kita mau kerjasama dengan perusahaan Blue Ocean milik pengusaha muda yang sukses itu, David William." Jordy terlihat berapi-api memberitahu hal penting itu pada sahabatnya. Kalau perusahan kita bersatu dengan perusahaannya, kita bisa menjadi salah satu perusahaan logistik raksasa di dunia.


"Prospeknya memang bagus ya! Tapi bagaiamana bisa perusahaan besar itu mau bekerja sama dengan kita?" tanya Sam heran.


"Entahlah, itu yang mengurus papa kamu langsung. Kita hanya disuruh mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan."


"Kenapa harus dengan dia?" tanya Airy tiba-tiba.


"Apa kamu mengenalnya, Ai?" tanya Sam dengan menatap lekat wajah Airy.


"Tidak, Bang. Teman kuliah aku selalu membicarakan perusahaan itu."


"Aku beri kamu waktu lima belas menit. Karena kita harus meeting. Ya sudah aku tunggu di sana saja," ucap Jordy.


Setelah kepergian Jordy dari ruangannya, Sam pun menghadap ke arah Airy seraya memegang kedua tangan gadis itu lalu berkata, "Ai, Mona sudah tahu tentang hubungan kita. Mungkin kita harus lebih hati-hati lagi. Tidak apa, kan kalau Abang tidak bisa menjemput kamu setiap hari?"


"Iya, Bang aku mengerti."


"Gadis pintar, ya sudah Abang meeting dulu ya!"


Sam pun langsung pergi menuju ke ruang meeting, karena dia sudah ditunggu oleh yang lainnya. Sementara Airy kembali ke mejanya. Dia mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik. Meskipun gadis itu sedang banyak pikiran. Sampai akhirnya Mona datang saat waktu sudah mendekati jam makan siang.


"Hai Airy! Sam ada?" sapa Mona di depan meja kerja Airy.


"Abang masih meeting, Kak."


"Oh! Kenapa terasa ganjal ya! Saat seorang sekretaris memanggil Abang pada bosnya. Apa karena di antara kalian ada affair, jadinya melupakan profesionalisme?" sarkas Mona.


"Maksud Kak Mona apa?"


"Aduh ... Kenapa masih berpura-pura kalau kamu menjadi maduku. Tapi mungkin, kalian tidak akan bisa menikah jika tanpa persetujuan aku."


Kak Mona telat, karena aku sudah menikah dengan Abang. Tapi biarlah, dia mengira kalau aku dan Abang hanya sepasang kekasih, batin Airy.


"Kakak tahu dari mana tentang aku dan abang?"


"Tidak sulit bagiku untuk mengetahuinya. Tapi selama kamu tidak menunjukkan kedekatan kalian di depan publik, maka aku tidak akan mempersalahkannya," ucap Mona dengan tersenyum miring.


"Baik, Kak. Aku mengerti," ucap Airy.


Baru saja Airy selesai bicara, terlihat Sam dan Jordy datang bersama-sama. Mereka baru saja selesai meeting. Keduanya pun langsung menghampiri Mona yang masih berdiri di tempatnya.


"Mona, ada apa ke sini?" tanya Sam dengan menelisik penampilan Mona.


"Aku mau mengajak kamu makan siang, sekaligus menghadiri acara baby shower temanku. Bisa kan, Sam?" Mona tersenyum tipis ke arah Sam. Dia yakin kalua Sam tidak akan menolaknya. Apalagi dia memiliki kartu as Sam.


"Baiklah, Mona! Ai, mau ikut makan siang dengan Abang, tidak?" tanya Sam dengan melihat ke arah Airy.


"Tidak, Bang! Aku sudah ada janji dengan Early. Mungkin sebentar lagi dia datang ke sini," tolak Airy dengan tersenyum samar.


Mana mungkin dia mau ikut, sedangkan Mona sudah tahu soal hubungan dia dengan Sam. Meskipun Airy tahu kalau Sam mencintainya, tetapi dia juga tidak ingin terlihat seperti orang ketiga dalam pernikahan Sam dan Mona.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....