
Berkali-kali Jordy menggelengkan kepalanya. Dia heran dengan apa yang Early lakukan. Masuk ke toko satu dan berpindah ke toko lain, hanya menanyakan harga-harga barang yang disukainya. Akan tetapi, dia selalu membatalkan niat untuk membelinya.
"Bang, ayo kita lihat jam tangan itu. Lucu sekali!" ajak Early saat gadis itu melihat jam tangan khas anak muda yang dipajang di etalase.
"Kamu mau membelinya apa hanya ingin menanyakan harganya saja?" tanya Jordy jengah.
"Hehehe ... Ketahuan deh. Aku hanya mau tanya harganya saja, biar jadi bahan perbandingan saat nanti aku beli online," jawab Early jujur.
"Astaga! Kita baik kita makan saja. Perutku lapar sekali, dari tadi mengikuti kamu dari lantai satu sampau sekarang di lantai lima, hanya untuk menanyakan harga-harga barang yang kamu lihat. Ayo kita ke food court yang ada di roof top!" ajak Jordy dengan menarik tangan Early tanpa ampun.
Jelas saja, gadis cantik itu kaget mendapat tarikan tangan dari Jordy. Dia pun setengah berlari mengikuti langkah kaki Jordy yang panjang. Saat sudah sampai di lift yang dipenuhi oleh pengunjung mall, barulah laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Ayo masuk!" ajaknya.
"Bang, lift-nya penuh." Early berbisik pelan pada Jordy.
"Tidak apa, hanya sebentar."
Early hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Mau berdebat rasanya malu di depan banyak orang. Akhirnya dia hanya pasrah mengikuti keinginan Jordy. Namun, saat lift sudah terbuka dan semua orang berlomba-lomba untuk keluar dari sana, tanpa diduganya, Early terdesak oleh dorongan orang-orang. Sehingga jarak dia dan Jordy hanya terhalang kain yang melekat di tubuh mereka.
Deg ... Deg ... Deg ....
Jantung Jordy mendadak ber-disko ria saat tubuhnya dan tubuh Early saling menempel satu sama lain. Meskipun hal itu tidak berlangsung lama, tetapi debarannya terus terasa hingga mereka keluar dari lift.
"Bang, mau makan apa?" tanya Early yang seperti tidak berpengaruh apa-apa.
"Kamu mau makan apa?"
"Balik tanya lagi. Aku mau mie ramen aja deh!"
"Ya udah yuk!"
Keduanya pun segera memesan makanan yang ingin mereka. Setelah mendapatkan pesanannya, Jordy dan Early pun memakan makanannya dengan lahap. Namun, tiba-tiba saja Early memberikan pertanyaan yang tidak diharapkan oleh Jordy.
"Bang, kenapa waktu di lift, suara jantung Abang sampai terdengar? Apa Abang suka sesak napas kalau berada di tempat yang ramai?" tanya Early.
Uhuk ... uhuk ....
Jordy segera mengambil gelas yang ada di depannya dan meminum hingga tandas. Sementara Early hanya mengerutkan keningnya merasa heran dengan laki-laki itu. 'Kenapa pertanyaannya yang biasa saja membuat Jordy tersedak?' pikir Early.
"Bang, kamu gak papa? Apa Bang Jordy tadi ketemu mantan di lift? Makanya deg-degan begitu," tebak Early kemudian melanjutkan makannya.
"Pantas saja. Memang yang mana, Bang?" tanya Early kemudian.
"Kamu tidak perlu tahu."
Memalukan! Kenapa tadi aku deg-degan saat dekat sekali dengan dia? Parahnya lagi, aku dikira ketemu mantan. Tidak-tidak, hal ini tidak boleh berlanjut lama," batin Jordy.
Sementara jauh dari keramaian mall, terlihat sepasang suami istri yang baru saja membersihkan dirinya. Setelah seharian menerima tamu. Sam terus saja tersenyum seraya melihat apapun yang Airy lakukan di kamar. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mengarungi malam pengantinnya dengan berbagi kasih dan peluh bersama dengan istri tercintanya.
"Ai, masih lama?" tanya Sam dengan tidak mengalihkan pandangannya pada Airy.
"Memangnya kenapa, Bang?"
"Ayo kita tidur! Abang sudah mengantuk," ajak Sam menepuk tempat tidur di sampingnya yang masih kosong.
"Masih sore Bang, aku belum ngantuk." Airy mendekat ke arah Sam dan duduk di tepi tempat tidur suaminya.
"Bagaimana kalau kita tengokin dulu bayi kita, Ai?"
"Abang ikh, ini masih sore Bang. Baru juga jam tujuh malam. Bagaimana kalau nanti Mama masuk ke kamar, kan malu."
"Tidak akan. Abang sudah tidak sabar ingin ...." Belum juga Sam selesai bicara, terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk dari luar. Mau tidak mau, Sam pun beranjak untuk melihat siapa yang sudah datang mengganggunya.
Terlihat mamanya sedang berdiri di depan kamar dengan nampan di tangannya. Wanita cantik itu langsung mengerutkan keningnya. Saat melihat raut muka tidak senang pada Sam.
"Kenapa? Pengantin kho kesal begitu. Mama membawa makan malam untuk kalian. Meskipun sekarang sudah benar-benar sah, tapi tidak boleh sering-sering melakukannya Sam. Ingat, istrimu sedang hamil muda. Dia butuh asupan nutrisi yang banyak. Jangan main gempur saja tapi tidak diperhatikan makannya," tegur Mama Hanna yang bisa mengerti dengan apa yang terjadi pada putranya.
"Iya, Mah. Makasih! Biar aku saja yang bawa ke dalam."
"Ya sudah. Kalian harus makan dulu sebelum tidur ataupun tempur. Mama mau membantu bibi membereskan di dapur." Mama Hanna Langsung memberikan nampan di tangannya sebelum dia beranjak pergi dari kamar Sam.
Setelah kepergian Mama Hanna, Sam oun segera masuk ke kamar dengan nampan di tangannya. Dia mengajak Airy untuk menikmati makan malamnya di balkon dengan cahaya rembulan yang bersinar terang dan gemerlap bintang yang menghiasi angkasa.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....