
Malam panjang yang dilewati dengan penuh hasrat, membuat kedua insan yang saling mencintai itu melupakan tugasnya yang harus berangkat kerja. Baik Airy maupun Sam, keduanya bangun kesiangan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil cuti.
"Abang, memang tidak apa ya, kita gak kerja?" tanya Airy dengan mengelus dada suaminya yang ada bulu-bulu halusnya.
"Ai, masih mau?" Bukannya menjawab, Sam malah balik bertanya. Bagaimana tidak, sentuhan-sentuhan Airy di dadanya mampu menegangkan urat saraf. Terutama saraf-saraf yang menopang tongkat sakti pencetak anak.
"Apaan sih, Bang?" tanya Airy dengan mengerucutkan bibirnya. Tangannya masih saja asyik meraba ke sana ke mari memainkan benjolan kecil berwarna coklat di dada Sam.
Tidak tahan dengan apa yang Airy lakukan, tanpa sadar laki-laki itu langsung mendongakkan kepala istrinya dan meraup candunya yang berwarna merah jambu. Keduanya pun kembali saling berpagutan. Melepaskan semua hasrat yang terus saja menggelitik meminta untuk secepatnya dituntaskan. Sampai akhirnya, permainan di atas tempat tidur pun kembali mereka lakukan.
"Ai, kita lanjut di kamar mandi," ucap Sam saat mereka baru saja menyelesaikan sesi pertamanya.
Airy hanya mengangguk malu-malu. Meskipun mereka sudah sering melakukannya, tetapi Airy masih malu untuk mengakui kalau dia pun begitu menikmati setiap apa yang Sam lakukan padanya. Apalagi, Sam selalu melakukannya dengan lembut dan penuh cinta.
Selesai dengan ritual mandi plus-plusnya, Sam dan Airy pun sudah terlihat rapi dengan sweater couple yang mereka kenakan. Sam ingin mengajak Airy jalan-jalan ke mall dan menonton film yang baru tayang di bioskop.
"Ai, mau sarapan di sini apa dibawah?" tanya Sam dengan menyelipkan anak rambut Airy ke telinga gadis itu.
"Di bawah saja, Bang. Bosan di atas terus," ucap Airy.
"Oke, ayo kita berangkat!" Sam menggenggam tangan istrinya. Wajahnya terlihat berseri dengan kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
"Sebentar, Bang! Kita pakai masker dan topi dulu, biar tidak ada yang tahu. Kali aja Kak Mona mata-matain kita karena dia sudah tahu kalau aku dan Abang ada affair."
"Kamu tuh, pikirannya terlalu jauh. Meskipun dia tahu, tapi dia tidak akan bisa apa-apa. Karena dalam perjanjian, Abang dan Mona tidak akan saling ikut campur dengan urusan masing-masing. Abang hanya perlu menjaganya dan memberikan nama keluarga pada anaknya," beber Sam dengan mengusak pucuk kepala Airy.
"Abang ikh, nanti kusut," rengek Airy dengan bibir yang mengerucut.
"Meskipun kamu terlihat acak-acakan, tetapi Abang tetap cinta sama kamu, Ai."
Wajah Airy langsung bersemu merah, mendengar gombalan dari laki-laki yang sangat dicintainya. Dadanya seperti di penuhi oleh ribuan kupu-kupu yang terus menggelitiknya. Melihat semua itu, Sam pun mencium pipi Airy yang bersemu merah.
"Abang suka melihat pipi yang seperti ini," bisik Sam.
"Apaan sih, Bang? Ayo kita berangkat!"
Airy pun langsung beranjak pergi dengan menarik tangan Sam. Membuat laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Kini keduanya sedang berada di kafetaria untuk menikmati sarapan paginya.
"Loh, Airy. Kebetulan ketemu di sini?" tanya Early yang tiba-tiba saja datang.
"Iya, kamu gak kerja?" tanya Airy balik.
"Enggak, aku mau ke acara festival seni dan budaya di daerah M. Kamu mau ikut?"
"Bagaimana, Bang? Kita ikut gak dengan Early?" Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Airy justru bertanya pada Sam yang sedang asyik menikmati sarapannya.
"Tidak, kita akan menonton saja. Acara festival terlalu ramai, Abang tidak suka," tolak Sam.
Sam tidak langsung menjawab, dia melihat ke arah Airy yang menatapnya dengan tatapan memohon. Sampai akhirnya Sam pun menyetujui ajakan dari sahabat adiknya itu. Karena dia sudah tahu, kalau Early pasti akan terus memintanya agar menyetujui keinginan kedua gadis itu.
"Baiklah! Tapi hanya satu jam di sana," ucap Sam.
"Terima kasih ya, Bang!" Airy tersenyum senang melihat ke arah suaminya.
"Hm ...."
"Makasih, Bang! Ayo kita berangkat sekarang, Ai!" ajak Early langsung bangun dari duduknya.
Mereka pun akhirnya mengikuti ajakan Early. Tidak butuh waktu lama untuk ketiganya sampai ke tempat yang dituju. Karena memang lokasinya yang tidak begitu jauh dari apartemen Airy. Sesampainya di sana, mereka sudah ditunggu oleh kekasih Airy dan orang yang tadi dikatakan oleh Early.
"Hai Airy, sudah lama kita tidak bertemu!" sapa Samuel, seorang laki-laki tampan berwajah blesteran. Laki-laki itu tanpa sungkan langsung memeluk Airy dan mencium pipi gadis itu di depan Sam.
Tentu saja Sam sangat marah melihatnya. Dia langsung menarik tangan Airy agar terlepas dari laki-laki yang sedang memeluknya. Sementara Airy yang kaget dengan sikap Samuel yang tidak seperti biasanya itu hanya diam mematung.
"Apa yang kamu lakukan?!" sentak Sam.
"Bukankah Anda kakaknya Airy ya! Kenalkan Bang, saya Samuel calon kekesihnya Airy," ucap Samuel dengan tidak tahu malunya.
"Jangan bermimpi kamu! Ayo Airy kita pulang!" Sam langsung menarik tangan Airy dan pergi begitu saja dari sana.
Sementara Early yang juga sama kagetnya dengan apa yang Samuel lakukan, langsung menatap tajam laki-laki itu. "Kenapa kamu memeluknya? Apa kamu sengaja membuat Abangnya yang posesif itu marah?"
"Aku memang sengaja, lumayanlah bisa mencium Airy yang tidak tersentuh itu, ditambah lagi aku mendapatkan tiket liburan gratis ke Maldives. Siapa yang tidak tergiur coba," jawab Samuel menohok hati Early.
Gadis itu jadi merasa bersalah karena sudah mengikuti suruhan Samuel dan kekasihnya, agar mengajak Airy ke acara festival. Dia benar-benar tidak tahu kalau Samuel akan memiliki rencana yang seperti itu.
"Keterlaluan kamu Samuel! Awas saja kalau Airy sampai kenapa-napa. Apalagi kalau Bang Sam sampai melarang dia berteman denganku, akan aku cincang sosis kamu dan aku kasihkan ke herder peliharaan kamu itu."
Berbeda dengan Sam yang langsung kembali pulang ke apartemen. Laki-laki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia langsung membawa Airy ke kamar mandi dan mengguyung gadis itu dengan air shower. Tangannya terus menggosok-gosok pipi Airy yang bekas bibir Samuel. Dia benar-benar merasa tidak rela gadis kesayangannya di sentuh oleh laki-laki lain.
"Bang, perih!" keluh Airy saat pipi yang Sam gosok terus kini terlihat memerah.
Laki-laki itu baru menghentikan gerakannya saat melihat Airy menangis di bawah guyuran air shower. Dia memang sedari tadi hanya diam saat melihat kemarahan di mata Sam. Karena Airy tahu, kalau dia berbicara akan membuat Sam semakin marah kepadanya.
"Maaf!"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....