Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 12 Airy Merajuk


Sam memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, agar secepatnya sampai di kantor. Dia tidak peduli dengan suara klakson dan makian yang didengarnya dari orang-orang. Yang terpenting baginya, Sam bisa secepatnya bertemu dengan Airy. Karena setelah panggilannya yang terakhir kali pada wanita cantik itu, Airy tidak mau lagi mengangkat telepon darinya, maupun membalas pesan singkatnya.


"Ai, kenapa kamu selalu membuat hidup Abang tidak tenang," gumam Sam saat dia masuk ke dalam kantor.


Setengah berlari, dia menuju ke ruangannya. Bahkan, saat papanya memanggil pun, Sam seperti tidak mendengar panggilan itu. Dia terus saja berjalan cepat menuju ke ruangannya.


Namun, saat tiba di depan ruangannya. Darahnya mendadak mendidih melihat Airy sedang tertawa dengan salah satu manajer di perusahaan itu. Seorang laki-laki tampan berwajah teduh dan selalu ramah pada siapa pun, sedang berada di depan meja Airy.


Dia pun segera berjalan menghampiri Airy dan berkata, "Ai, bawa berkas yang akan ditandatangani ke dalam!"


"Eh, Pak Sam. Baru datang, Pak?" sapa Gilang, seorang manajer pemasaran di perusahaan Samudera Logistik


"Hm ... Saya masuk dulu," ucap Sam dengan datar. Dia merasa kesal dengan apa yang dilihatnya. Namun, Airy hanya bersikap acuh tak acuh.


"Airy, Kakak ke ruangan dulu ya! Sepertinya Abang kamu sedang kesal," pamit Gilang menunjuk Sam dengan matanya.


"Iya, Kak Gilang. Makasih ya undangannya!" Airy pun tersenyum ramah pada laki-laki itu.


Setelah kepergian Gilang, gadis cantik itu langsung masuk ke dalam ruangan Sam dengan tidak membawa apa-apa. Karena memang tidak ada berkas yang harus Sam tanda-tangani karena semua berkas sudah diberikan pada papanya langsung.


Baru saja Airy membuka pintu ruangan Sam, Airy sangat terkejut saat Sam menarik tangannya dan memojokkan dia ke daun pintu. Sam menatap lekat Airy dengan wajah yang memerah.


"Ai, apa seperti itu saat jauh dari Abang? Kamu bebas berbicara dengan laki-laki?"


"Apaan sih, Bang? Tadi Kak Gilang hanya memberikan undangan reuni sekolah." Bukannya takut, Airy justru menatap balik Sam.


"Lagian ini kantor, Bang. Mana mungkin aku melakukan hal yang tidak-tidak di kantor. Kecuali kalau di kamar hanya berdua. Bisa saja melakukan hal yang iya-iya," sarkas Airy.


"Tapi Abang tidak melakukan hal yang seperti itu."


"Mungkin, aku kan tidak melihatnya." Airy mencebikkan bibirnya. Dia masih kesal pada Sam karena tidak memenuhi ucapannya sendiri.


"Ai, Abang tidak melakukan apapun dengan Mona."


"Iya, aku ngerti kho. Kak Mona kan istri pertama. Pasti dia yang lebih berhak atas Abang. Aku kan hanya istri siri. Bahkan kedudukan aku sangat lemah jika dibawa ke jalur hukum."


Mendengar apa yang Airy katakan, Sam langsung membungkam mulut istrinya dengan bibir sensualnya. Dia sangat tidak suka mendengar apa yang Airy katakan. Namun, sesi beradu bibir harus terganggu oleh suara ketukan pintu.


"Abang tidak suka kamu bicara seperti itu," bisik Sam setelah dia melepaskan Airy.


Setelah keduanya merapikan pakaiannya, Sam pun segera membukakan pintu. Terlihat di sana Jordy sedang mematung di tempatnya. Membuat Sam menghembuskan napas kasar. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan Jordy.


"Bang Jordy, kenapa masih berdiri di situ? Masuk saja. Aku mau keluar kho," tegur Airy.


"Airy, duduk!" suruh Sam dingin.


Lagi-lagi gadis itu mencebikkan bibirnya sebal pada suaminya yang terkadang tidak mau dibantah. Akhirnya dia memilih duduk di dekat Sam. Sementara Jordy hanya tersenyum samar, merasakan hawa-hawa percekcokan antara suami istri itu.


"Kamu duluan saja. Aku menyusul," suruh Sam.


"Oke, aku pergi sekarang." Jordy langsung ke luar dari ruangan sahabatnya. Dia tidak mau berlama-lama di saat Sam dan Airy seperti sedang perang dingin.


Sementara Sam langsung menghadap ke arah Airy. Dia menatap lekat istri tercintanya yang masih terklihat kesal padanya. Akhirnya, dia menarik napas panjang untuk menetralkan kekesalannya. Akhirnya, dia pun memilih mengalah daripada Airy nanti akan mendiamkannya


"Ai, Abang hanya minta kamu mengerti sedikit saja. Iya Abang salah karena tidak menepati janji. Jangan marah lagi ya! Kamu boleh minta apa saja, asal jangan marah lagi sama Abang!"


"Aku hanya mau, Abang jangan larang-larang aku terus kalau aku sedang bicara dengan teman laki-laki aku. Karena kita hanya berteman, tidak lebih."


"Abang tidak bisa. Abang tidak bisa melihat kamu lebih dekat dengan laki-laki lain. Apalagi, melihat kamu tertawa bersama dengan mereka. Apa kamu tidak tahu, kalau teman laki-laki kamu itu banyak yang menatap lapar padamu, Ai. Pokoknya, kamu hanya milik Abang. Dari dulu , hari ini dan sampai nanti pun, kamu hanya menjadi milik Abang."


"Ya sudah, Abang juga jangan dekat-dekat dengan Kak Mona. Aku pun tidak suka melihatnya."


"Ai, Abang hanya kasian sama dia. Anggap saja, Abang berbuat pada Mona demi kemanusiaan."


"Awalnya kasian, lama-lama saling suka. Terus sama-sama terbuai. Siapa coba yang rugi, Bang? Jelas aku, aku yang akan merugi kalau sampai kalian tiba-tiba saling mencintai."


"Tidak akan, Ai. Abang hanya cinta sama kamu. Sedikit pun tidak pernah terpikirkan oleh Abang untuk berpaling dari kamu."


"Sudah, Bang! Papa pasti sudah menunggu Abang."


"Ai, Abang tidak bisa pergi kalau kamu masih marah sama Abang. Kita baikan ya! Kamu boleh meminta apa saja pada Abang, asalkan kamu jangan marah lagi."


"Ya udah deh, aku ingin liburan berdua dengan Abang. Apa Abang bisa meninggalkan Kak Mona?"


"Oke! Kita akan liburan, kamu atur saja jadwal Abang. Agar tidak ada yang bentrok dengan acara liburan kita."


"Oke deh!" Airy tersenyum cerah saat tahu akan berlibur bersama dengan Sam.


"Ai, agendakan perjalanan dinas ya! Agar tidak ada orang yang curiga. Abang tidak peduli kalau Mona tahu. Tapi kalau mama dan papa tahu, lalu orang tua Mona tahu. Semuanya akan berantakan."


"Iya, aku mengerti."


"Abang ketemu papa dulu ya! Kamu di sini saja. Jangan keluar dan jangan memasukkan tamu laki-laki selama Abang tidak ada di sini," pesan Sam.


"Siap, laksanakan!" Airy langsung memberi hormat pada Sam.


Namun laki-laki itu hanya tersenyum tipis lalu mengecup bibir Airy sekilas sebelum dia pergi dari ruangannya. Sementara Airy tersenyum senang karena akhirnya dia bisa berlibur bersama dengan Sam. Hanya berdua bersama dengan orang yang dicintainya, pasti akan sangat menyenangkan


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....