
Perputaran waktu terasa begitu cepat, tanpa terasa kini bayi kecil itu sudah memasuki usia taman kanak-kanak. Zyva dan Gala tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Mereka seperti anak kembar yang kemana-mana selalu terlihat bersama.
Airy yang setiap harinya disibukkan dengan mengurus kedua anak dan suaminya. Dia pun memutuskan untuk menjadi ibu tangga. Tidak ada penyesalan dalam hati Airy dengan pilihannya, karena yang terpenting dalam hidupnya, kebahagiaan keluarganya.
Seperti pagi ini, dia sudah siap untuk mengantar kedua anaknya ke kindergarten. Sam pun sudah bersiap di balik kemudi untuk mengantar ketiga orang yang disayangi. Namun, baru saja dia akan menyalakan mesin mobil. Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi.
"Rumah sakit?" gumam Sam.
"Kenapa, Bang?" tanya Airy melihat ke arah suaminya.
"Sebentar ya, Sayang! Ada telpon dari rumah sakit," ucap Sam segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo!" sapa Sam saat sudah tersambung.
"Iya, halo Tuan! Saya mau mengabarkan kalau Nyonya Mona sudah siuman."
"Apa? Mona sudah sadar? Terima kasih sus, saya akan segera ke sana." Sam segera mematikan ponselnya dan langsung melajukan mobilnya.
"Bang, apa Kak Mona sudah sadar?" tanya Airy penasaran.
"Iya, Sayang. Kita antar anak-anak dulu baru pergi ke rumah sakit."
"Papa, siapa yang sakit?" tanya Zyva penasaran.
"Tante Mona. Nanti kalian ke sekolah saja. Kalau Papa dan Mama tidak bisa menjemput, nanti papa akan minta Oma untuk menjemput ke sekolah."
"Siap, Pah!" sahut Zyva terlihat ceria.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sekolah, Zyva dan Gala pin bersalaman pada orang tuanya sebelum mereka turun dari mobil. Setelah Airy menitipkan pada gurunya, barulah dia kembali ke mobil.
"Bang, bagaimana kalau Kak Mona meminta Gala?" tanya Airy saay mereka menuju ke rumah sakit.
"Mona hanya menitipkan Gala pada kita. Kita tidak punya hak apapun atas anak itu. Jadi mau tidak mau kita harus memberikannya pada yang lebih berhak."
"Tapi aku sudah terlanjur sayang sama anak itu."
Sam mendengus kasar sebelum dia berbicara. Karena sebenarnya, dia pun merasakan perasaan yang sama dengan Airy. "Sayang, biarkan Gala tinggal bersama keluarga kandungnya. Kasian Mona kalau kita harus mengambilnya. Dia sudah kehilangan papanya, apa kamu tega mengambil anaknya?"
"Tidak, Bang. Tapi kalau Kak Mona mengijinkan, aku akan merawat Gala sampai besar."
"Lebih baik, kita bikin adik buat Zyva. Agar tidak ada yang mengambilnya selain Tuhan."
"Tiap malam juga bikin tapi gak jadi-jadi," ucap Airy dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya deh, nanti aku lepas."
Sam dan Airy bergegas turun dari mobil setibanya mereka di rumah sakit. Keduanya merasa tidak sabar ingin melihat keadaan Mona. Sampai tiba di ruangan wanita cantik itu, terlihat Mona sedang ditemani oleh perawat.
"Kak Mona, bagaimana keadaannya?" tanya Airy segera duduk di kursi dekat tempat tidur Mona. Sementara Sam memilih berdiri di belakang istrinya.
"Keadaan pasien sudah stabil, Nyonya. Ingatannya pun tidak mengalami gangguan. Hanya saja, pasien butuh penyesuaian setelah lima tahun tidak sadarkan diri," jelas perawat itu.
"Oh, syukurlah kalau keadaan Kak Mona baik-baik saja."
"Airy, apa kabar Gala?" tanya Mona dengan menatap sendu pada Airy.
"Alhamdulillah Gala baik-baik saja. Sekarang sedang sekolah bersama dengan putriku," jawab Airy dengan tersenyum hangat pada Mona.
"Sam, bagaimana keadaan papaku? Apakah donor jantungnya berhasil?"
"Mona lebih baik fokus dengan kesembilan kamu dulu," kelit Sam yang merasa tidak tega jika harus bicara terus terang.
"Katakan saja Sam! Aku ingin tahu bagaimana keadaan papa."
"Maaf Mona, papa dan mamamu sudah tiada. Mamamu meninggal dua tahun setelah papamu," ungkap Sam pelan.
Tanpa terasa, setitik bening itu membasahi pelupuk matanya. Dada Mona terasa sangat sesak saat dia tahu kalau ternyata kedua orang tuanya sudah tiada. Dia merasa kini hidupku hanya sebatang kara.
"Sabar ya Kak! Kami akan selalu ada untuk kakak. Meskipun sekarang kedua orang tua kaka tidak bisa menjaga Kakak lagi. Tapi ada kami yang akan selalu ada untuk Kakak," ucap Airy ingin menguatkan Mona.
"Terima kasih Airy audah menjaga putraku. Sam, bagaimana dengan Zein? Apa dia sudah bebas?"
"Sudah! Dia sudah menikah dengan seorang gadis pilihan orang tuanya. Apa kalian sebelumnya pernah berderai?" tanya Sam dengan melihat ke arah Mona.
"Belum. Aku masih berstatus istri sahnya. Mungkin setelah keluar dari sini, aku akan menanyakan kelanjutan pernikahan kami."
"Sabar ya Kak."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Jangan lewatkan saat-saat terakhir cerita Simpanan Abang Angkat. Karena giveaway segera diumumkan....
...Terima kasih ...