Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 23 Mencari Airy


Perasaan khawatir pada Airy membuat Sam melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak perduli dengan makian dan umpatan yang pengendara lain lontarkan. Baginya, asalkan secepatnya menemui Airy, hal lain tidak akan dia pedulikan.


Sampai akhirnya di rumah Early, barulah dia menghentikan mobilnya. Sam pun turun dengan tergesa, seperti ibu-ibu yang takut kehabisan barang diskonan.


"Permisi, Tante! Apa Early ada?" tanya Sam pada wanita cantik yang dia tahu mamanya Early.


"Eh, Nak Sam. Ayo masuk dulu! Early masih tidur. Gadis sering kerjaannya bangun kesiangan karena malamnya terus saja menonton drama sama membaca novel. Tante jadi bingung bagaimana cara untuk merubah kebiasaannya. Kalau misalkan ada lowongan di perusahaan Nak Sam. Tolong ajak Early kerja di sana. Dia pasti mau kalau bekerja bersama dengan Airy," cerocos Mama Early seperti kereta api yang tanpa rem.


"Baik, Tante. Besok datang saja ke perusahaan dan menemui saya. Nanti saya tempatkan di bagian yang kosong. Tapi maaf Tante, apa Airy datang ke sini?" tanya Sam kemudian.


"Enggak tuh, Dari tadi Tante di sini merawat bunga-bunga Tante. Tapi tidak melihat Airy datang ke sini. Kalau dia datang pasti menemui Tante," ucap Mama Early dengan melihat ke jendela kamar putrinya yang masih tertutup. Sam pun mengikuti arah pandang mamanya Early.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tante! Saya mau pergi ke kantor," pamit Sam.


"Baik Nak Sam. Hati-hati di jalan ya!" pesan Mama Early sebelum Sam beranjak pergi dari rumahnya.


Sam pun kembali ke mobilnya dan berniat untuk mencari gadisnya ke tempat lain. Namun, baru saja dia akan menyalakan mesin mobil, terdengar suara panggilan telepon. Sam pun memutuskan untuk menerima panggilan telepon terlebih dahulu.


"Halo, Sam! Kamu di mana?" terdengar suara Jordy yang sepertinya sedang panik.


"Aku lagi di jalan, kenapa?"


"Cepat ke kantor, Sam! Tiga puluh menit lagi meeting dengan Blue Ocean. Papa kamu meminta untuk semua jajarannya ikut meeting. Katanya ada hal penting."


"Apa bisa kalau aku mangkir dulu?"


"Tidak bisa, Sam! Kamu harus datang! Kalau tidak , kalau tidak Papa kamu pasti marah."


"Baiklah! Aku ke kantor sekarang. Aku tutup ya!"


Sam langsung menutup panggilan teleponnya. Dia segera bergegas menuju ke kantor. Sam tahu kalau dia tidak datang, pasti Papanya marah besar.


Sesampainya di kantor, dia datang bersamaan dengan Tuan David yang baru turun dari mobil. Mereka pun saling menyapa dan berbasa-basi. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke ruang meeting, yang ternyata sudah ditunggu oleh banyak orang.


Berbeda dengan seorang gadis yang sedang berjongkok di depan dua gundukan tanah merah yang tertutup rapi oleh rumput jepang dan batu nisan di atasnya. Airy hanya menunduk tanpa mengeluarkan air mata setetes pun. Meskipun matanya sembab sisa dia menangis semalaman.


Sungguh, gadis itu merasa harapannya pupus. Saat tadi malam Papa Angga berbicara dengannya berdua. Ditambah lagi, kiriman foto-foto mesra Sam dengan Mona.


Flashback on


Setelah kepergian Sam dan Mona. Tiba-tiba saja Airy diminta oleh papanya untuk menemui dia di ruang kerja. Gadis itu pun hanya menurut dengan apa yang papanya suruh. Namun, saat dia tahu maksud papanya memanggil dia, hatinya benar-benar tidak menentu.


"Ai, sekarang kamu sudah besar ya, Nak. Papa senang Airy tumbuh menjadi gadis yang baik dan cantik. Sepertinya, sudah saatnya Papa melepaskan kamu untuk bersama dengan pendamping kamu."


"Maksud Papa?"


"Airy belum memikirkannya, Pah."


"Ai, Tuan David laki-laki yang baik. Dia orang yang bertanggung jawab. Buktinya, dia bisa sukses di usia muda. Papa yakin, kamu pasti bahagia jika bersama dengan dia."


"Pah, apa boleh Airy memikirkannya dulu? Aku perlu waktu untuk lebih mengenal Tuan David," kilah Airy dengan menatap balik papanya.


"Baiklah, Papa tunggu sampai besok ya!"


"Baik, Pah."


Flashback off


"Mama, Papa ... Apa yang harus Airy lakukan sekarang? Haruskah Airy bertahan dengan Bang Sam atau lebih baik menyerah saja? Bang Sam sudah mulai membuka hatinya untuk Kak Mona. Kalaupun aku terus bertahan, pasti Kak Mona akan mempertahankan Bang Sam. Aku tidak mau jika hati Abang sudah terbagi. Aku ingin hati Abang hanya milik."


Terus saja Airy berbicara sendiri. Mengadu kegelisahan hatinya pada batu nisan. Meskipun dia tahu tidak akan mendapatkan solusi dengan melakukan hal itu, setidaknya dia dapat mengeluarkan semua unek-unek di hatinya. Karena tidak mungkin dia menceritakannya pada Mama Hanna. Apalagi pada Sam sendiri, sudah pasti laki-laki itu tidak akan pernah mengijinkan dia untuk menyerah.


Puas mengeluarkan kegelisahan hatinya, Airy pun beranjak pergi dari pemakaman kedua orang tuanya. Dia berjalan gontai menyusuri jalan setapak di tanah pekuburan. Sampai akhirnya, langkah kaki Airy membawa gadis itu pada sebuah lapangan bola yang tidak jauh dari sana.


Gadis itu pun mendudukkan bokongnya di tanah rerumputan, seraya melihat permainan bola anak-anak sekolah yang sedang bertanding. Lama dia duduk sendiri di sana, melihat betapa bahagianya anak-anak sekolah dasar itu melakukan permainan berebut bola.


Rasanya aku ingin sekali kembali ke masa kecilku. Saat Bang Sam selalu menjagaku. Tidak membiarkan anak lain mengganggu aku. Apalagi kalau ada laki-laki yang mendekati aku, dia pasti memarahinya. Aku selalu diperlakukan seperti sebuah porselen oleh abang maupun mama dan papa. Mereka semua selalu menjagaku agar aku tidak terluka. Tapi sekarang, bahkan aku merasa hancur pun mereka tidak tahu.


Airy menghapus air matanya dengan kasar. Dia menengadahkan kepalanya melihat ke langit biru, agar air matanya yang memaksa ingin keluar dapat dia tahan.


Ya Tuhan, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku ingin menjadi anak yang penurut tapi bagaimana dengan Abang? Dia pasti marah kalau tahu aku menerima permintaan Papa. Apa mungkin Abang mau menjatuhkan talak padaku saat tahu kalau Papa menjodohkan aku dengan Tuan David. Meskipun sebenarnya aku pun tidak mau menikah dengan cassanova itu. Tapi aku tidak mau mengecewakan mama dan papa.


"Permisi Kakak Cantik, bisa minta lemparkan bolanya!" teriak salah seorang anak yang sedang main bola.


Airy langsung terkaget dari lamunannya dan melihat ke tangannya yang sedang memegang bola. Rupanya saat tadi bola menggelinding ke arahnya. Dia terus memegang bola itu tanpa mengembalikannya pada anak-anak itu.


"Eh, i-iya bisa. Maaf ya!" Airy pun mengembalikan bola itu pada anak-anak sekolah dasar. "Boleh Kakak ikut bermain?"


"Boleh, Kak. Ayo kita bermain bersama!"


Airy pun tersenyum pada mereka. Hingga akhirnya dia ikut bermain bola bersama dengan anak-anak itu. Untuk sesaat, dia melupakan kegundahan hatinya.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....