
Wajah tenang Sam saat tadi bersama dengan Airy, kini berubah datar saat dia pulang ke rumahnya. Sam sudah tidak bisa lagi memaafkan Mona, karena dia sudah berulah mengerjai Airy. Sam pun segera mencari Mona, setibanya dia di rumah.
"Bi, apa Mona sudah pulang?" tanya Sam pada pembantunya.
"Sudah Tuan. Dari tadi Nyonya terus mengeluh sakit perut," jawab pembantu rumahnya.
Sam pun bergegas masuk ke dalam kamar istrinya. Terlihat Mona yang sedang memegang perutnya seraya meringis. Sam pun segera mendekati wanita hamil itu.
"Sam, dari mana saja? Aku menghubungi kamu tapi kenapa tidak kamu angkat?" tanya Mona saat dia melihat Sam berdiri di samping tempat tidurnya.
"Aku sibuk menenangkan Airy yang sudah kamu kerjai. Mona, apa kamu lupa kalau kamu sedang hamil? Kamu tahu, orang hamil itu harus memperbanyak berbuat kebaikan bukan sebaliknya."
"Sudah Sam, jangan ceramah! Cepat antar aku ke rumah sakit, sepertinya aku mau melahirkan."
"Baiklah! Sebentar aku panggil satpam untuk memapah kamu. Aku tidak suka bersentuhan dengan wanita picik," sarkas Sam seraya berlalu pergi meninggalkan kamar Mona.
Benar saja, sedikit pun dia tidak mau memapah Mona. Dia membiarkan satpam rumahnya dan asisten Mona untuk membawa ibu hamil itu. Sementara dia sudah menunggu di balik kemudi. Sam pun segera menghubungi mamanya untuk memberitahu tentang Mona.
"Hallo, Mah."
"Iya, Sam kenapa?" tanya Mama Hanna di seberang sana.
"Mah, Mona mau melahirkan. Mama menyusul ke rumah sakit ya!"
"Apa? Melahirkan? Bagaimana bisa? Bukankah kalian baru menikah lima bulan? Apa keguguran?"
"Bukan, Mah! Mona mau melahirkan, kandungan sudah jalan bulan ke delapan."
"Apa? Kamu jangan bercanda, Sam!"
"Aku serius. Sudah Mah, aku mengantar Mona dulu ke rumah sakit."
Sam segera menutup ponselnya saat melihat pintu belakang mobil ada yang membukanya. Terlihat assisten Mona masuk terlebih dahulu, barulah ibu hamil itu menyusulnya. Setelah dirasa sudah siap. Sam pun segera melajukan kendaraan roda empat membelah jalanan ibu kota.
"Sam, kamu tega sekali sama aku. Kenapa kamu tidak mau memapah aku? Padahal aku istrimu," tanya Mona disela-sela dia meringis menahan sakit.
"Itu salah kamu sendiri sudah bikin ulah. Sudahlah, Mona! Sebentar lagi kita bercerai. Kamu tidak perlu menuntut banyak kepadaku, karena aku pun tidak banyak menuntut kamu."
"Sudah Tuan, Nyonya. Lebih baik kalian saling memaafkan. Ingat Nyonya, melahirkan itu pertaruhan antara hidup dan mati. Jadi sebaiknya meminta maaf pada orang-orang terdekat sebelum menjalani perjuangan berat itu. Agar persalinannya diberikan kemudahan." Dira yang sedari tadi menjadi penonton akhirnya angkat bicara.
Sampai akhirnya, Sam membelokkan mobilnya menuju ke rumah sakit internasional. Mona pun segera mendapatkan pertolongan dari dokter jaga IGD. Sementara Sam menunggu di luar bersama dengan Dira.
"Dira, kamu urus administrasi Mona," suruh Sam.
"Baik, Tuan!" sahut Dira segera pergi ke tempat pendaftaran.
Tidak berselang lama dari kepergian Dira, Mama Hanna dan Airy datang ke sana. Mama Hanna langsung mencecar putranya dengan berbagai pertanyaan. Dia merasa kecolongan karena ternyata Mona hamil sebelum menikah dengan Sam.
"Sam bagaimana bisa Mona sudah melahirkan? Apa dia hamil sebelum menikah dengan kamu? Lalu siapa ayah anak itu? Kenapa kamu tidak bilang dari dulu kalau anak yang Mona kandung bukan anakmu? Apa mertua kamu sudah tahu tentang Mona yang akan melahirkan? Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Mah, tenang dulu! Aku udah tahu dari awal kalau Mona sedang hamil."
Sam pun akhirnya menceritakan tentang Mona yang ditinggal pergi oleh ayah dari anaknya. Sam mau memberikan nama keluarga pada anak itu karena dia merasa kasian pada bayi yang tidak berdosa jika nanti harus mendapatkan mendapatkan cemoohan dari orang-orang. Karena bayi itu tidak bersalah. Yang salah kedua orang tuanya.
Tidak berapa lama kemudian, perawat datang meminta persetujuan caesar. Karena bayinya keracunan air ketuban, sehingga harus secepatnya dikeluarkan untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah Sam menandatangani surat persetujuan, tidak lama kemudian perawat keluar dengan mendorong brangkar Mona dan memindahkan ke ruang operasi. Sam dan yang lainnya pun mengikuti ke mana perawat itu membawa Mona.
"Tuan, Nyonya, saya mewakili Nyonya Mona meminta maaf untuk semua kesalahannya," ucap asisten Mona. Dia yang selalu mendampingi Mona, tahu bagaimana sifat Mona sebenarnya.
"Kamu tenang saja, kami semua sudah memaafkannya. Bukan begitu Sam, Airy?"
"Iya, Mbak. Semoga Kak Mona dan bayinya sehat dan selamat," ucap Airy yang duduk di samping Sam.
Sementara Sam hanya menganggukkan kepalanya sedikit pada Dira. Dia selalu enggan berbicara kalau bukan dengan orang-orang terdekatnya. Dira pun memaklumi dengan sifat Sam yang seperti itu.
Setelah menunggu hampir satu jam, terlihat lampu ruangan itu padam. Tidak berapa lama kemudian keluar seorang dokter dan memberitahu keadaan Mona. Setelah memastikan Mona dan bayinya dalam keadaan baik. Sam, Airy dan Mama Hanna pun memutuskan untuk pulang.
"Dira, kamu jaga Mona. Aku harus pulang. Mungkin tidak lama lagi orang tuanya akan datang," pesan Sam sebelum dia pergi.
"Baik, Tuan. Saya pasti akan menjaganya," ucap Dira dengan menundukkan kepalanya.
Setelah cukup berbasa-basi dengan Dira, Mama Hanna pun langsung pulang. Diikuti oleh Airy dan Sam di belakang. Sam terus saja menggenggam tangan Airy, meyakinkan kalau sebentar lagi mereka bisa bersama. Tanpa adanya gangguan.
"Mah, aku pulang ke rumah ya!" ujar Sam saat mereka sudah tiba di parkiran. Dia pun langsung masuk ke dalam mobil yang sama dengan mamanya karena kunci mobil Mona sudah dia berikan pada Dira.
"Sam, kenapa kamu tidak menjaga istrimu?" tanya Mama Hanna melihat ke arah putranya.
"Mah, aku akan bercerai dengan Mona," jawab Sam datar.
"Apa kamu bilang? Bercerai? Sam pernikahan kalian baru seumur jagung, kalau dari awal kamu tahu tentang kehamilan Mona, kenapa kamu tidak sekalian saja menerima anak itu? Kata kamu anak itu tidak bersalah," tanya Mama Hanna terkejut dengan pernyataan putranya.
"Karena aku akan menikah dengan kekasihku."
"Sam, Mama pusing sama kamu. Sudahlah! Jangan bicara lagi. Mama tidak tahu harus bicara apa. Bagaimana dengan papa kamu? Mama yakin, pasti papa tidak setuju dengan keputusan kamu itu."
"Aku tidak peduli! Aku sudah menuruti keinginan Papa untuk menikah dengan Mona. Tapi Papa tidak menyuruh aku untuk terus bersama dengan dia."
Mama Mona mendengus kasar mendengar apa yang Sam katakan. Karena memang benar adanya, dulu suaminya memaksa Sam untuk menikah dengan Mona. Sampai akhirnya Sam mau menyetujuinya.
"Mama sebenarnya merasa dibohongi oleh Mona. Tapi kita masih butuh keluarganya untuk kelangsungan perusahaan kita."
"Perusahaan sudah stabil, Mah. Mama tidak bisa menahan aku lagi dengan alasan perusahaan."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote,gift dan favorite....
...Terima kasih....