Simpanan Abang Angkat

Simpanan Abang Angkat
Bab 18 Tekad Mona


Sam merasa jengah dengan suara ponselnya yang terus saja berbunyi. Sampai akhirnya, dia pun mematikan ponselnya. Sam tidak mau kalau ada yang mengganggunya saat dia ingin fokus menjaga Airy yang sedang sakit.


"Bang, Kak Mona tidak apa-apa?" tanya Airy dengan melihat ke arah Sam yang wajahnya terlihat menegang.


"Ai, kenapa masih khawatir sama dia. Bagaimana kalau Mona berencana untuk menggoda Abang. Apa kamu akan biarkan begitu saja?"


"Bukan begitu, Bang. Aku hanya khawatir kenapa-napa dengan kandungannya."


"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Abang temani ya!" Sam naik ke tempat tidur Airy dan ikut berbaring di samping gadis itu.


Dia merasakan hawa panas dari tubuh wanitanya belum menurun. Sam pun berinisiatif untuk melakukan metode skin to skin agar suhu tinggi istrinya cepat turun. Tentu saja hal itu membuat Airy mengerutkan keningnya saat melihat suaminya kan membuka baju.


"Apa yang akan Abang lakukan?"


"Biar panas badanmu berpindah pada Abang."


"Tidak usah buka baju, Bang. Temani aku tidur saja," pinta Airy.


Sam tidak menyahut apa yang Airy katakan. Dia memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali dan memeluk Airy yang suhu tubuhnya belum stabil. Sampai pagi menjelang, keduanya tertidur dengan saling berpelukan di bangsal rumah sakit.


Berbeda dengan Mona yang uring-uringan karena Sam mematikan ponselnya. Dia pun langsung menghubungi Jordy untuk menanyakan keberadaan Sam. Seperti apa yang diharapkannya, Jordy langsung mengangkat panggilan teleponnya darinya.


"Halo Jordy! Kamu di mana?" tanya Mona saat sudah tersambung.


"Aku ada di rumah. Memangnya kenapa?" tanya Jordy di seberang sana.


"Sam di mana? Kenapa dia tidak mengangkat panggilan teleponku?"


"Sam sedang di rumah sakit menjaga Airy."


"Di rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Kota."


"Ya sudah, aku tutup ya!"


Tanpa menunggu jawaban dari Jordy, Mona pun langsung menutup teleponnya. Dia langsung merencanakan sesuatu agar bisa menarik perhatian Sam. Meskipun dia tahu, mungkin akan sulit. Akan tetapi dia merasa penasaran jika belum mencobanya.


"Tunggulah, Sam! Aku pasti akan datang sebagai istri yang baik. Aku Monalisa Ludwig, tidak mau dianggap remeh oleh orang lain," gumam Mona.


...***...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mona sudah bersiap. Dia sengaja membawakan baju ganti untuk Sam. Tidak lupa dia juga membawa sarapan pagi untuk suaminya.


Mona juga sudah tahu dari Jordy ruang perawatan Airy. Karena sebelum berangkat ke rumah sakit, Mona menghubungi Jordy kembali dan menanyakan ruang perawatan Airy. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Jordy memberi tahu di mana Airy di rawat.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Mona langsung masuk ke ruang perawatan Airy. Terlihat di sana Sam sedang memapah Airy setelah dari toilet. Entah kenapa dia jadi tidak suka melihat kedekatan Sam dan Airy.


Sontak saja Sam dan Airy langsung membulatkan matanya. Mereka tidak menyangka Mona akan melakukan hal itu. Namun, bukannya senang, Sam justru merasa kesal dengan apa yang Mona lakukan.


"Apa-apaan kamu, Mona?!" sentak Sam.


"Maaf, Sam. Anakku ingin sekali mencium pipi papanya," dalih Mona dengan tersenyum samar pada Airy yang sedang melihat ke arahnya.


"Ck! Hentikan kekonyolan kamu, Mona!" Sam berdecak tidak suka dengan apa yang Mona lakukan. Apalagi, hal itu dilakukan di depan Airy.


"Maaf, Sam. Tapi aku tidak bisa tidur saat kamu tidak ada di rumah. Anakku sudah terbiasa mendapat belaian lembut dari papanya." Mona melirik ke arah Airy sekilas, sebelum dia melanjutkan ucapannya. "Lagipula, kita sudah sepakat, kamu akan menemani aku melewati masa kehamilanku."


"Kita memang sepakat seperti itu. Tapi kita tidak pernah sepakat kalau aku harus terus berada di samping kamu. Bukankah dalam perjanjian sudah dikatakan, kalau kita tidak akan saling mencampuri urusan masing-masing. Kita sebagai suami istri hanya di depan publik, tapi di dalam rumah, kita hanya sebagai teman," ucap sam panjang lebar. Dia tidak mau kalau sampai Airy salah paham tentang hubungannya dengan Mona.


"Yayaya ... Aku mengerti Sam. Sudahlah lupakan apa yang aku katakan tadi. Aku ke sini karena ingin mengantar baju ganti untuk kamu. Sekalian membawakan sarapan. Bukankah kita teman, jadi wajar saja kan kalau aku perhatian sama kamu. Benar, kan Airy?" tanya Mona dengan melihat ke arah Airy yang sudah duduk di tempat tidurnya.


"Kalau hanya teman, perhatian yang sewajarnya saja." Airy memegang kepalanya yang berdenyut.


Sam pun segera memeriksa keadaan istri keduanya. "Ai, kamu tidak apa-apa?"


"Aku pusing, Bang. Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat tanpa memikirkan masalah kalian."


"Baiklah, Sayang! Kamu istirahat saja dulu ya! Abang antar Mona dulu. Tadi Mama bilang akan ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai," ucap Sam seraya membetulkan selimut Airy. Tanpa sungkan, dia mencium kening Airy, lalu kedua mata, hidung dan terakhir bibir pucat gadis itu.


Tentu saja hal itu membuat hati Mona serasa sangat kesal. Dia jadi semakin merasa tertantang untuk bisa mendapatkan Sam. Apalagi saat melihat sikap lembut laki-laki itu pada Airy, membuat dia menginginkan hal yang sama dari Sam.


"Sayang, Abang pergi dulu!" pamit Sam dengan menatap lekat gadis itu. Rasanya dia sangat berat meninggalkan Airy sendiri. Tapi Dam juga tidak ingin istirahat Airy terganggu karena kehadiran Mona, sehingga dia memilih untuk mengantarkan istrinya dulu, baru kembali ke rumah sakit.


"Iya, tidak apa. Aku mau tidur." Airy melihat kepergian suaminya dengan tatapan sayu. Apalagi, dia melihat Mona segera bergelayut di tangan kekar Sam. Meskipun Sam mencoba untuk melepaskannya, tetapi Mona kekeh untuk memperlihatkan keromantisan mereka di depan publik. Karena dia yakin pasti ada wartawan yang mengintainya.


Sadar Airy! Kak Mona juga berhak mendapatkan perhatian Abang. Apalagi sekarang dia sedang hamil. Tapi aku merasa tidak ikhlas, ada perempuan lain yang menyentuh Abang. Meskipun aku tahu kalau perempuan itu istri sah Abang. Tapi tetap saja aku ingin menjadi pemilik Abang seutuhnya, batin Airy


Perlahan dia pun memejamkan matanya. Tanpa terasa lelehan air mata membasahi pipinya. Namun, Airy tidak peduli, dia memilih untuk secepatnya tidur dan melupakan semua hal yang menyesakkan hatinya.


Tanpa disadarinya, Mama Hanna datang bersama denga Papa Angga. Mereka baru dikasih tahu tadi pagi oleh Sam kalau Airy sakit. Kedua orang tua itu pun bergegas datang ke rumah sakit karena merasa khawatir dengan keadaan putrinya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Mama Hanna pelan seraya mengelus jejak air mata di pipi Airy.


"Mah, sepertinya Papa harus menyetujui permintaan Tuan David. Lagi pula dia orangnya baik, pekerja keras, ulet. Di usianya yang masih muda, dia bisa menjadi pengusaha sukses. Papa tidak mau Airy terus sedih karena pernikahan Sam."


"Mama ikut saja apa yang papa rencanakan, selama itu baik untuk kita semua."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....