
Nara masih nyaman membenamkan wajahnya di dada kekar Reka. Setelah melewati makan malam romantis yang disiapkan oleh Reka untuk merayakan kelulusannya.
Sampai rumah, Reka masih melanjutkan keromantisannya dengan menggoda Nara dan menyentuhnya dengan penuh perasaan dan cukup menuntut membuat Nara melayang karena merasa sangat dipuja.
"Tidur, memang kamu nggak lelah?"
"Ini juga mau tidur," sahut Nara.
Tidak lama kemudian, Nara akhirnya benar-benar tertidur. Reka membetulkan letak selimut Nara kemudian mengenakan kembali pakaiannya dan perlahan melangkah menuju pintu. Menuruni anak tangga kemudian menuju ruang keluarga dimana sudah ada Elang yang menunggu.
Elang sudah mengirim pesan pada Reka untuk bicara. "Jadi, gimana Kak?" tanya Reka.
"Menurutku sudah aman, aku sudah sampaikan pada Abimana agar tidak lagi mengusik Nara atau akan berimbas pada bisnisnya. Kenapa aku berani mengancam begini, kebetulan rekanan bisnisnya ada di bawah kendali Two Season."
Reka menganggukkan kepalanya. "Itu terkait Abimana dan Reno, tapi kalau Pak Radit juga Ibu dari Nara aku angkat tangan. Bukan ranah aku," tutur Elang.
"Lah, pada kumpul?" tanya Eltan lalu ikut bergabung.
"Katanya mau kasih layanan spesial biar Rika nggak ngambek," ejek Reka
"Boro-boro, jalannya forbidden," ujar Eltan sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang diduduki. Elang dan Reka tertawa mendengar keluhan Eltan juga raut wajah frustasinya.
...***...
Akhirnya hari di mana Reka dan Rika wisuda pun tiba setelah melewati masa perbaikan skripsi. Kini kehamilan Nara pun sudah memasuki minggu ke tiga puluh, kondisi perutnya sudah semakin besar dan membuat penampilan Nara semakin seksi dan menggemaskan di mata Reka.
"Reka, sudah siap belum?" teriak Rika. Reka yang menuntun Nara menuruni anak tangga menjawab, "Berisik, ini udah siap berangkat."
"Bunda sama Papih bareng Rika dan Bang El, aku berangkat duluan. Nara ikut terlibat di kepanitiaan," jelas Reka.
"Aku tunggu di resto aja ya, bareng bocil," tutur Kayla sambil mengawasi anak-anaknya juga putri Rika bersama baby sitter.
"Kebagian membacakan nama wisudawan Bun, nggak berat kok," sahut Nara sambil membenarkan posisi dasi yang melingkar di kerah kemeja Reka.
"Jasnya aku pakai di lokasi aja deh." Reka dan Nara pun berangkat lebih awal.
"Bun, songket aku kendur," keluh Rika.
"Gimana bisa begitu, kita sudah dua kali ke butik urus kebaya kamu. Masih ada salah juga?" tanya Eltan sambil menghela nafas.
"Ini gara-gara Bang El, berat badan aku turun. Muntah terus, apa yang aku makan pasti keluar lagi." Rika saat ini sedang hamil muda tapi mengalami morning sickness yang parah.
"Itu karena aku perkasa," bisik Eltan.
"Sini Bunda pasangkan peniti."
Acara wisuda yang diadakan di gedung serba guna masih dalam wilayah kampus. Nara sudah membaur dengan rekannya. Sedangkan Reka dan wisudawan lainnya menunggu acara di mulai.
Bunda Meera sudah menghubungi Reka saat di perjalanan, memastikan agar Reka mengawasi Rika yang kondisinya sedang ringkih.
"Reka," panggil Rika yang baru saja datang. "Yang lain pada kemana?"
"Barusan ke dalam."
"Hm, ya udah sini," ucap Reka sambil merangkul bahu Rika.
Acara pun dimulai, para wisudawan berjalan dengan langkah percaya diri dan siap menyongsong masa depan gemilang. Saat sudah duduk di kursi yang tertera nama masing-masing, Reka menatap ke depan ke arah panggung, netranya menangkap dimana Nara dan duduk berdampingan dengan Ardi.
\=\=\=\=
Ehhh Reka cemburu bae 🥰