
Reka mengerjapkan kedua matanya dan merasakan lengan kirinya yang terasa kebas dan pegal karena dijadikan tumpuan kepala Nara yang tidur sambil memeluk tubuhnya. Terlihat sinar matahari melalui gorden yang tidak rapat.
Reka meraba nakas meraih ponselnya. Betapa terkejut ketika melihat layar yang menunjukan waktu sudah lewat dari jam sembilan pagi. Menoleh ke arah Nara yang masih terlelap, dengan surai yang agak berantakan.
Reka tersenyum melihat area tulang selangka dan bahu Nara yang tidak tertutup selimut menampilkan jejak cinta bertebaran. Perlahan memindahkan kepala Nara pada bantal dan membetulkan letak selimut agar Nara tetap hangat dan nyaman.
“Padahal semalam habis mandi sekarang mandi lagi,” ujar Reka sambil berjalan menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Reka sudah mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Seragam rumahan yang biasa dipakai saat di rumah. Menuruni anak tangga dan bergegas menuju meja makan. Meera yang melihat hanya Reka yang turun, menatap sinis pada anaknya. “Apa sih Bun? Nggak kangen gitu sama anakmu yang ganteng ini,” ujar Reka.
“Bunda kangen sama Papih bukan sama kamu. Nara mana?”
“Masih tidur,” jawab Reka lalu mengambil botol air mineral dalam lemari es. Duduk pada salah satu kursi dan mengisi piring dengan sarapan yang sudah tersedia. “Pasti dia lelah karena kamu kerjain,” tebak Meera.
“Yaelah Bun, kayak nggak pernah muda aja. Bentar lagi juga Papih datang, puas-puasin deh sana.”
“Kenapa semalam nggak diajak pulang sekalian.”
“Papih kalau kerja suka nggak inget waktu. Kalau aku tunggu Papih mana mungkin bisa pulang semalam,” ucap Reka. Meera menemani Reka sarapan sambil ngobrol, walaupun sudah dewasa Reka adalah putra satu-satunya Meera dan Kevin tentu saja sangat disayangi oleh Meera. Tapi karena Reka sudah menikah jadi Meera tidak lagi memperlakukan Reka layaknya bocah.
“Sudah bangun, sini duduk,” ajak Reka pada Nara.
Nara duduk di samping Reka. Meera memperhatikan wajah Nara yang terlihat lelah agak kurang tidur. “Reka, istri kamu itu lagi hamil jangan diajak begadang,”
"Jarang-jarang Bun, nggak tiap malam. Mau sarapan apa sayang?" tanya Reka pada Nara sambil mengusap kepala Nara.
"Yang itu aja," tunjuk Nara pada menu di atas meja. Terdengar deru mesin kendaraan yang datang. "Bun, Papih datang tuh. Sudah sana kangen-kangenan, kalau perlu ke Two Season open room," ejek Reka. Bunda pun beranjak keluar menemui Kevin.
Nara memukul paha Reka yang mengejek Bundanya. "Aku buatkan susu dulu ya." Reka beranjak ke pantry dan membuatkan segelas susu khusus ibu hamil untuk Nara dan meletakannya dihadapan Nara.
Reka menyuapi makanan untuk Nara dengan sabar. Biasanya hanya sanggup menghabiskan beberapa suap saat sarapan, tapi kali ini lumayan banyak. "Cukup, aku sudah kenyang," ucap Nara. "Tinggal dua suap lagi Ra." Nara hanya menggelengkan kepalanya.
"Kemana?"
"Kemana aja yang penting berdua."
"Hm, tapi naik motor ya," ucap Nara dengan wajah berbinar.
"Kalau naik motor nggak bisa jauh Ra."
"Tapi aku maunya naik motor."
"Oke, kita salin dulu. Nggak mungkin kamu naik motor pakai baju begitu."
Reka sedang bicara dengan Leo saat Nara menghampirinya. Memakai leging panjang, kaus dan dilapis jacket. "Udah siap?" Nara mengangguk. Reka memakaikan Nara helm, meskipun tujuan mereka tidak jauh tapi keamanan tetap yang utama.
Ternyata Reka meminta Leo mengikuti mereka menggunakan mobil. Jaga-jaga jika Nara lelah mereka akan berganti kendaraan. "Tumben mau naik motor, biasanya cerewet kalau aku naik motor."
Nara mengedikkan bahunya. "Lagi pengen aja. Kalau naik motor bisa peluk kamu," bisik Nara. "Ish, gemesin banget sih. Jadi pengen kurung kamu di kamar." Saat motor melaju, Nara memeluk Reka erat. Hampir tiga puluh menit berkendara, Reka berbelok ke sebuah cafe yang terlihat sangat cozy.
Nara memeluk erat lengan Reka. Senyum tidak lepas dari wajah keduanya, apalagi Reka sesekali menggoda Nara membuat wajah istrinya merona.
"Reka."
"Nara."
Mendengar nama mereka disebut, Reka dan Nara pun menoleh ke asal suara. Nara mengeratkan pegangannya pada lengan Reka mengetahui siapa yang sudah memanggilnya. Rahang Reka mengeras dan kedua tangannya mengepal, seakan sudah siap mendarat di wajah orang yang sudah membuatnya emosi.
\=\=\=\=\=\=
Sabar ya Reka, sini author sentil yg bikin emosi. Lanjut malam ya, kalau nggak ketiduran 🤣🤣