Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Makan Malam Keluarga


Yuhuuu, ternyata plot twist bab sebelumya tidak berhasil karena sebagian pembaca sudah bisa menduga siapa jodoh Reno. It’s oke, kita lanjut aja ya tanpa merubah alur.


\=\=\=\=


Malam ini meskipun perdana Nara tertidur tanpa ada Reka di sampingnya semenjak mereka resmi menjadi suami istri, ternyata agak sulit untuknya terlelap. Terbiasa dengan rengkuhan atau belaian dari Reka. Nara terlihat resah dengan berbalik kanan dan kiri juga terlentang. Menjelang tengah malam barulah dia tertidur karena sudah cukup lelah dan mengantuk. Ponselnya berdering tapi pemiliknya sudah terbuai mimpi.


Sedangkan di tempat berbeda. Setelah tiba di Yogya, Kevin langsung mengajak Reka aktif dan berperan di kantor cabang miliknya. Reka agak kesulitan karena baru kali ini dia ikut terlibat urusan perusahaan. Meskipun di dampingi oleh asisten Kevin karena Kevin sendiri langsung fokus pada project-project yang sedang berjalan.


Kesibukannya membuat Reka hanya sekali menghubungi Nara. Reka tidak bisa memejamkan matanya, guling yang menemaninya tidak dapat membuatnya terlelap. Meski tubuhnya telah lelah tapi fisiknya merindukan Nara.


Menatap jam dinding sudah hampir tengah malam, Reka meraih ponselnya menghubungi Nara. Tiga kali nada panggilan tapi tidak dijawab, tentu saja Nara sudah terlelap. Alhasil Reka hanya bisa membuka galeri foto di ponselnya memandang foto-foto Nara. “Kamu benar-benar mengubah duniaku Ra,” ujar Reka.


Menjelang pagi, bahkan kumandang subuh pun belum terdengar. Dering dan getaran ponsel Nara membuat wanita itu akhirnya mengerjapkan matanya. Meraba nakas dan mengambil ponsel yang mana nama Reka terpampang di layar.


“Halo,” ujar Nara dengan suara serak khas bangun tidur.


“Kangen banget.” Suara Reka manja di ujung telepon.


“Hm.”


“Ra, kamu nggak kangen aku?”


“Kangen juga mau gimana. Kamu di sana bukan sedang bercanda tapi demi masa depan kita.”


Terdengar desahhan. “Aku nggak bisa tidur Ra. Suara berat kamu terdengar sangat seksi bikin … ah sudahlah. Harus sabar sampai minggu depan,” ujar Reka.


“Ada apa dengan minggu depan?” tanya Nara dengan polosnya.


Suara Reka berdecak, “Pulang Ra. Minggu depan aku pulang, kamu siap-siap aja. Aku bakal balas dendam seminggu nggak lihat dan pegang kamu. Jangan sebut mesum, ini normal. Karena aku pria normal,” tutur Reka yang hanya dijawab Nara dengan tertawa.


“Aku nggak pernah bilang kamu bukan pria normal. Kamu sendiri berspekulasi begitu,” sahut Nara. “Ini seriusan aku harus kemana-mana pakai supir?” tanya Nara


“Ah iya, kita belum bahas ini. Bukan hanya mengantarkan tapi memastikan keamanan kamu. Menurut Kak Elang dia salah satu orang kepercayaan terbaik Two Season dan nggak usah menolak.”


“Iya,” ujar Nara.


“Video call.”


Akhirnya panggilan pun beralih. Cukup lama mereka temu kangen via online. Panggilan pun berakhir karena Nara mengatakan kebelet dan harus ke kamar mandi. Bukan berbohong, tapi Nara memang ingin ke kamar mandi karena rasa mual dan ingin muntah yang tidak bisa ditahan. Tidak ingin membuat Reka khawatir dia tidak mengatakan jika pagi ini kembali dilanda morning sickness.


Setelah sarapan bersama Bunda Meera dan itupun hanya beberapa suap karena keluhan kehamilannya muncul lagi. Meera memberikan wejangan sebelum Nara berangkat yang dijawab dengan “Iya Bun” dan anggukan kepala Nara.


Leo sudah siap dengan mobil yang akan mengantarkan Nara ke tempat kerjanya. “Selamat Pagi Bu, silahkan,” ujar Leo saat Nara berjalan semakin dekat dengan mobil. “Pagi, Bang Leo.”


Nara sudah duduk di kursi penumpang. “AC nya kecilkan saja Bang,” titah Nara yang langsung dieksekusi oleh Leo tanpa menjawab.


Karena masih pagi, jalanan masih lengang dan lancar. Nara keluar dari mobil dengan pintu yang dibukakan oleh Leo. Momen ini ternyata disaksikan oleh beberapa rekan Nara yang sama-sama baru saja tiba. Leo menyadari kejadian tadi, dimana beberapa wanita yang diduga rekan kerja Nara menyaksikan interaksi Nara dan dirinya. Dia bergegas mengikuti Nara khawatir jika Nara akan mengalami kesulitan.


“Bu Nara,” panggil salah satu dosen yang tadi melihat Nara di parkiran.


Nara yang sedang menatap layar laptopnya menoleh, “Iya Bu.”


“Bukannya Bu Nara sudah menikah ya? Tapi kok diantar pakai supir, mana gagah bener supirnya. Mobil Bu Nara juga kelihatan keren. Memang suami Bu Nara kerja apa?”


“Suami saya baru mulai belajar kerja Bu. Saat ini dia sedang di luar kota,” jawab Nara singkat lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


“Hati-hati loh, suami sedang di luar kota eh sekarang malah ditemani dengan cowok yang kelihatan macho dan berpengalaman.”


Nara hanya menghela nafas mendengar apa yang rekannya katakan. Ardi yang baru saja datang dan duduk di kursi kerjanya menatap aneh dengan Nara yang sedang mendapatkan wejangan dari dosen wanita yang memang cukup senior.


“Terima kasih nasehatnya Bu, akan selalu saya ingat.”


“Eh tapi kenalin dong sama supir Bu Nara.”


Nara hanya tersenyum. Dering ponselnya menyelamatkan dirinya dari interaksi dengan Ibu-ibu yang terlalu kepo dengan kehidupannya.


“Halo Kek,” ujar Nara.


Pembicaraan dengan Radit cukup lama, meskipun Nara tidak paham dengan tujuan Radit yang mengatakan jika dirinya harus mendukung apapun keputusan keluarga. Juga diminta hadir pada cara makan malam keluarga besarnya. Nara memijat dahinya, bingung dengan jawaban yang harus disampaikan pada sang Kakek. Jika Reka ada di sisinya, tentu hal ini bukan masalah. Dia menjawab akan bicara dulu dengan Reka.


Makan malam keluarga? Ada apa ya, tidak biasanya Kakek se khawatir itu kalau hanya minta aku datang, batin Nara.


 


 \=\=\=\=\=\=