
Bian tidak tahu bahwa hari ini adalah hari yang akan membuat hidupnya berubah total kedepannya. Ia menerima ajakan makan malam dari Berlian dan mamanya, karena sang mama mengancam akan kembali membuat Alisha menderita di dalam rumah itu. Bian mengira bahwa ini mungkin hanya makan malam biasa yang tak akan membuatnya mengalami hal buruk.
Namun pikiran Bian salah, dia melupakan bahwa mamanya mempunyai hati dan pikiran yang sangat licik. Ia bisa berbuat apapun yang menurut orang lain mustahil. Bian juga belum mengetahui bahwa dibalik sikap diam Berlian, dia memiliki keinginan merebut dirinya dari Alisha.
Faktanya, kejadian bersama Diandra telah kembali terulang. Hanya saja kali ini agak sedikit berbeda, Mama Liana bermain lebih cantik lagi dari yang sebelumnya. Ia juga tidak bekerja sama dengan Berlian seperti ia bekerja sama dengan Diandra. Mama Liana sudah mempelajari bagaimana cara menaklukkan Bian dan membuatnya tak bisa melawan perintahnya lagi.
Di sisi lain, Berlian yang memang tak tahu apapun mengenai kisah di keluarga itu, hanya memandang Bian sebagai cinta sejatinya. Selama ini Berlian hanya hidup dengan uangnya. Berfoya-foya, bergaya hidup mewah, adalah kesehariannya. Ditambah ia juga doyan bergonta ganti pasangan. Namun begitu bertemu dengan Bian, ia mulai merasakan getar cinta yang belum pernah ia rasakan bersama pasangan-pasangan sebelumnya. Tentu saja itu bukan cinta yang sebenarnya, atau setidaknya dia belum tahu apakah itu cinta atau hanya obsesi. Terlebih ketika Berlian mulai merasa lebih dari segalanya dibandingkan Alisha.
Berlian sangat senang ketika melihat Bian tiba dengan sempurna di matanya. Setelan yang sangat pas di tubuhnya yang proporsional, gaya rambutnya yang menambah ketampanannya, ditambah sikap dinginnya. Berlian menyukai semua itu
“Hai, Mas Bian!” sapa Berlian dengan senyumnya yang menggoda.
“Saya sudah bilang untuk tidak memanggil saya begitu lagi!" protes Bian.
“Kan ini sudah diluar kantor, Mas” jawab Berlian.
“Iya, ini kan udah bukan jam kantor” sahut Mama Liana.
Bian hanya bisa mendengus kesal. Ia harus menahannya selama beberapa jam kedepan. Selama itu pula Bian hanya mendengarkan obrolan-obrolan wanita yang sama sekali tak ia mengerti. Hingga sampailah Mama Liana mengucapkan inti dari pertemuan makan malam tersebut.
“Bian, berapa lama lagi istrimu akan melahirkan?” tanya Mama Liana.
“Tiga bulanan, Ma. Kenapa emangnya?”
“Udah siapin nama buat anak kamu?” tanyanya lagi.
“Kenapa sih?” tanya Bian heran.
“Mama mau ngasih nama buat anak kamu, masa nggak boleh?”
Berlian hanya diam mendengar percakapan yang membuat hatinya panas. Dalam hatinya ia menyumpahi anak Bian tak terlahir di dunia. Rasa cemburu dan obsesinya yang berlebihan membuat Berlian sangat membenci Alisha. Padahal dia hanya bertemu satu kali dengan istri Bian itu, tapi kebenciannya sudah setara dengan rasa bencinya ke seluruh mantan kekasihnya.
“Tante, maaf..” sela Berlian di tengah-tengah obrolan Bian dan Mama Liana.
“Oh iya sayang, ada apa?”
“Apa tante punya anak lain selain Mas Bian?” tanya Berlian.
“Ada, adik Bian namanya Tsabina. Ada apa emangnya?”
“Kalau tante punya anak cowok lainnya, aku mau minta dijodohin sama anak tante” jawab Berlian sambil terkekeh.
Mama Liana langsung tertawa mendengar celetukan Berlian. Dua orang itu awalnya sama-sama tak tahu bahwa niat mereka sama, memisahkan Bian dan Alisha. Namun setelah beberapa kali mereka saling mengamati satu sama lain, mereka bisa merasakan hal itu.
Beberapa kali Mama Liana memergoki Berlian yang sedang menatap Bian dengan tatapan penuh cinta. Belum lagi sikapnya yang berubah saat ada Bian di depannya dan saat tidak ada Bian di sekitarnya.
Sementara Berlian sudah mengetahui bahwa Mama Liana tidak merestui hubungan Bian dan istrinya ketika dia melakukan penyelidikan rahasianya pada Alisha. Dia juga menyimpulkan hal itu berdasarkan sikap Mama Liana yang terlihat tidak begitu menyayangi Alisha.
Dengan bekal yang sangat lengkap itu, Berlian mulai berani menggoda Bian dengan pesonanya. Setelah mereka menyelesaikan makan malam itu, Berlian mengajak Bian pergi ke bar dan club tempat biasa dia melepaskan stresnya. Tentu saja untuk membawa Bian ke tempat itu ia harus berbohong padanya dengan mengatakan bahwa ia hanya akan menjemput temannya. Ternyata Berlian justru memesan minuman dan membaurkan dirinya bersama teman-teman sosialitanya.
Berlian terus menari tanpa canggung apalagi malu terhadap Bian yang mengawasinya dari jauh. Bian mengawasinya juga bukan karena hal spesial apapun. Ia hanya melakukan tanggung jawabnya sebagai partner bisnis sekaligus pria dewasa yang pergi bersama seorang wanita. Sesekali Bian menyesap minuman yang ia pesan. Sebuah cocktail khusus yang dibuat tanpa menggunakan alkohol.
Tapi entah mengapa setelah beberapa menit dia mengawasi Berlian yang masih asyik menari, kepala Bian tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya buram, dan tubuhnya terasa sangat lemas. Ia mencoba berdiri untuk memanggil Berlian, tapi Bian justru langsung ambruk di sofa yang ia duduki.
***
Di rumah, Alisha masih berkutat dengan barang-barang pindahannya yang belum selesai ditata. Ia mencoba meminta tolong pada Mbak Inah, tapi asistennya itu justru menghindarinya dengan mengatakan bahwa ia sedang melaksanakan tugas dari Mama Liana.
Alisha sudah mencoba berpikir positif, tetapi entah kenapa dia merasa Mbak Inah sedikit berubah. Ia yang dulu selalu ceria dan sering menghibur Alisha, kini tampak menghindar dan menjaga jarak dari Nyonya Muda-nya itu. Namun Alisha memilih diam dan tak menanyakan alasan Mbak Inah bersikap seperti itu padanya.
Alisha pun meneruskan pekerjaannya melipat baju dan menata lemarinya. Beberapa saat setelahnya, ada seorang asisten lain yang mengetuk pintu kamarnya dan meminta ijin untuk masuk.
“Silakan, Mbak!”
“Permisi, Bu Alisha. Tadi ada telepon dari kantornya Bapak, katanya Bapak harus hadir di kantor karena ada pertemuan mendadak dengan klien” kata asisten itu.
“Kamu telepon Bapak aja, Mbak. Saya kurang paham kalau urusan kantor!” jawab Alisha.
“Sudah, Bu. Tapi ponsel Bapak tidak bisa dihubungi.”
Alisha mengernyit heran. Ia mencoba menelepon Bian dan hanya berakhir kecewa karena nomornya tak bisa dihubungi. Alisha berpikir mungkin ponselnya kehabisan daya.
“Ya sudah, Mbak. Terimakasih ya, akan saya lanjutkan dari sini.”
Asisten itu langsung bergerak keluar dari kamar Alisha. Sementara Alisha langsung beralih menelepon David.
“Halo, Vid. Apa tadi kamu yang telepon ke rumah? Katanya Mas Bian dicari di kantor?” tanya Alisha.
“Iya, Mbak. Harus ada perwakilan dari keluarga Herdianto langsung di sini” kata David dari balik telepon.
“Udah coba telepon mama?”
David mengatakan bahwa Mama Liana pun tidak bisa hadir karena sudah terlanjur melancong ke luar kota. Satu-satunya orang yang menjadi bagian dari keluarga Herdianto hanyalah Alisha.
Setelah berkonsultasi dengan David, akhirnya Alisha memutuskan untuk pergi ke kantor menggantikan suaminya. Dengan memakai baju ala kantor yang ia punya, Alisha meminta supir untuk mengantarnya. Jika bukan karena keperluan kantor, Alisha tidak mau berdandan seperti itu. Ia bahkan menggunakan tas mahal pemberian Bian yang selama ini hanya ia pajang di dalam ruang wardrobe. Ia juga mengenakan perhiasan-perhiasan mahal yang pastinya juga pemberian Bian. Alisha hanya tak ingin kehadirannya di kantor yang mendesak itu, akan berdampak buruk pada imej suaminya.
Alisha berdiri di halaman depan untuk menunggu sang supir yang tengah mengambil mobil. Begitu mobilnya datang dan ia masuk ke dalamnya, Alisha sedikit menatap heran pada supirnya. Ia terlihat sangat pucat dan berkeringat dingin. Alisha bertanya pada supirnya apakah dia sedang sakit, namun supir itu menjawab bahwa dia baik-baik saja.
Beberapa menit Alisha berada di jalan raya, tiba-tiba supirnya kehilangan kendali kemudi mobilnya. Mobil yang Alisha tumpangi bersama calon bayinya, bergerak kesana kemari dan tidak stabil. Alisha berteriak seraya meminta supirnya untuk kembali menstabilkan laju mobil tersebut. Akan tetapi dia terlihat tertidur dan tidak mengendalikan kemudi.
Alisha mencoba bergerak pindah ke kursi depan, tapi ia kesulitan karena perutnya. Dia menangis karena takut akan kehilangan anaknya. Dia hanya bisa berdoa meminta keselamatan dirinya dan calon anaknya.
Dan malangnya, beberapa saat setelah bergerak zigzag di jalanan, mobil tersebut akhirnya berhenti setelah menabrak sebuah tiang listrik.
Alisha dan supirnya ditemukan warga sekitar dalam keadaan yang menyedihkan dan penuh darah di sekujur tubuhnya. Mereka juga melihat ada darah yang nampak di sekitar kaki Alisha.