Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Tamu Tak Diundang


“Bun, kalau dia nanti datang lagi ke rumah kita, jangan boleh masuk. Apalagi bicara macam-macam, jangan dipercaya,” ucap Reka lalu merangkul bahu Nara. “Ayo, kita siap-siap,” ajak Reka.


“Reka, kok kamu gitu sih,” seru Cindy sambil menghentakkan kakinya, kesal karena Reka masih saja acuh.


“Jadi, kamu ke sini mau bertemu Nara atau Reka?” tanya Meera sambil bersedekap. Dia mulai memahami situasi, Cindy yang katanya adik tiri Nara bukan datang sebagai saudara Nara tapi karena Reka.


“Hmm, ya keduanya Bun,” jawab Cindy.


Meera mengernyitkan dahinya heran. “Jangan panggil aku Bunda, tapi Tante Meera. Kita belum sedekat itu sampai kamu harus panggil aku Bunda,” tutur Meera yang lumayan mengena di hati Cindy.


Sementara itu, di tempat berbeda. Laila dan suaminya sedang menemui Ayah Reno. “Kami masih mencoba membujuk Nara untuk membatalkan tuntutan. Jadi harap bersabar Pak,” jelas Laila. Ayah Reno dengan kedua tangan dilipat di dada, menganggukan kepalanya kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran yang sedang diduduki.


“Sebenarnya aku tidak terlalu antusias untuk membebaskan Reno. Toh, masyarakat tidak tau dan menyadari bahwa Reno adalah putraku. Tapi kalian yang sudah berjanji akan terus mendukung dan membantu menyelesaikan kasus ini demi kerjasama kita. Jadi saya tunggu janji manis kalian,” tutur Ayah Reno.


“Ini gawat Laila. Abimana sepertinya serius dengan ancamannya. Perusahaan kita jauh di bawahnya,” ungkap ayah tiri Nara saat mereka sudah meninggalkan Abimana Corp.


“Aku sudah berusaha membujuk Nara, tapi kamu lihat sendiri ‘kan?”


“Bagaimana pun caranya, Nara harus mencabut tuntutannya. Pikirkan cara agar Nara mau mengabulkan permintaanmu.”


***


Sore itu, mobil yang membawa Reka dan Nara telah terparkir sempurna di area parkir villa milik keluarga Kevin yang berada di puncak Bogor. Sesuai dengan keinginan Nara yang ingin berlibur, Reka mengabulkannya. Mengingat Nara yang baru saja mengalami hal tidak menyenangkan karena penculikan Reno juga sikap keluarganya terutama Ibunya yang tidak ada rasa peduli dan simpati karena kejadian yang menimpa Nara.


“Gimana, suasananya buat kamu nyamankah? Kalau tidak ya kita cari tempat lain aja,” ucap Reka ketika mereka sudah turun dari mobil dan berada di halaman Villa.


“Cukup, sepertinya cukup nyaman. Jauh dari keramaian,” sahut Nara. Reka mengajak Nara berkeliling, berjalan sambil memeluk pinggang Nara posesif. Di samping Villa terdapat kolam renang, juga pemandangan halaman belakang villa dengan mountain view. Kamar utama dengan balkon menghadap pegunungan dan yang paling menyenangkan adalah cuaca yang cukup sejuk lebih kepada dingin.


“Ayo kita masuk, kamu perlu berbaring. Hampir tiga jam selama perjalanan duduk terus,” tutur Reka lalu keduanya berjalan masuk ke dalam  villa.


“Hmm, nyaman,” ungkap Nara saat merebahkan dirinya pada ranjang. Sedangkan Reka mengambil koper dari mobil dan membawanya ke kamar. Berharap dengan mengabulkan keinginan Nara untuk menepi dari hiruk pikuk kegiatannya selama ini bisa membuatnya lebih tenang dan mengobati kecewa pada keluarganya.


Setelah makan malam, cuaca terasa semakin dingin. Reka menyampirkan selimut pada tubuh Nara yang sedang duduk di balkon. “Jangan kelamaan di sini, dingin,” ucap Reka sambil mengacak rambut Nara. Reka kembali ke dalam, entah apa yang dilakukannya hanya terdengar suaranya mengarahkan dan memberi perintah pada penjaga vila.


Ternyata yang diucapkan Reka benar, semakin dingin dan akhirnya Nara beranjak masuk menutup rapat pintu balkon. Nara mencari ponsel miliknya tapi tidak ketemu. “Cari apa?” tanya Reka saat masuk ke kamar.


“Ponsel aku, perasaan waktu kita baru datang aku letakkan di nakas deh.”


“Hmm, aku simpan. Kamu nggak akan bisa menikmati kegiatan kita di sini kalau membaca pesan atau menjawab panggilan yang masuk.”


“Memang ada apa? Pasti keluarga aku lagi ya?” tanya Nara.


Nara duduk di pinggir ranjang, “Kamu juga sama, setelah kembali ke Jakarta fokus lagi dengan kuliah kamu. Cepat lulus karena sebentar lagi kita akan punya anak,” tutur Nara.


“Pasti dong,” sahut Reka. “Vitamin kamu sudah diminum?” Nara mengangguk.


Nara naik ke ranjang dan duduk bersandar pada headboard, diikuti oleh Reka. “Ra, dingin deh. Boleh ya kita main yang bikin suasana jadi hangat,” ucap Reka sambil menatap Nara dengan tatapan sendu. Nara mengerti maksud Reka, “Memang sudah boleh? Perut kamu bukannya masih luka?”


“Ya pelan-pelanlah, udah kering kok.”


Wajah Reka kini sudah semakin dekat dengan wajah Nara bahkan hembusan nafas Reka terasa hangat di wajah Nara membuat detak jantungnya seakan tidak berirama. 


Aroma maskulin tubuh Reka terasa di hidung Nara membuatnya merasa nyaman dan kini bibir mereka sudah saling memagut. Bahkan indra perasa Reka sudah bermain di dalam mulut Nara. 


Melepaskan satu persatu penutup tubuh Nara hingga polos termasuk juga penutup tubuhnya. Reka menelan ludah dan menatap nyalang pada tubuh Nara dan kembali memagut lembut bibir Nara, lebih kasar lalu turun ke bawah menyusuri bagian tubuh yang begitu menggoda hingga meninggalkan banyak jejak cinta.


Sentuhan demi sentuhan membuat Nara gelisah menginginkan lebih dari hanya sekedar sentuhan. "Reka," panggil Nara dengan suara tertahan dan kedua tangan meremass sprei karena Reka yang sibuk bermain di bawah sana. 


"Hmm," jawab Reka sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Nara. “Kenapa?” tanya Reka lagi, khawatir jika Nara merasa tidak nyaman. “A-aku ....” ucap Nara terbata. Reka tersenyum, respon dari tubuh Nara menyiratkan jika wanita itu menginginkan lebih dari sekedar sentuhan. Reka kemudian mengungkung tubuh Nara saat melihat di bawah sana sudah cukup basah karena permainannya. Reka kembali merapatkan tubuhnya bermain di bagian depan tubuh Nara membuat wanita itu mendessah dan Reka semakin terpacu untuk bergerak lebih.


Reka perlahan memasuki tubuh Nara, dengan agak menghentak membuat miliknya kini terbenam sempurna di dalam inti tubuh Nara. Reka menautkan tangannya pada tangan Nara, bersamaan dengan tubuh Reka yang mulai bergerak.


Nara kembali merasakan melayang dalam arus kenikmatan yang sulit diungkapkan karena gerakan tubuh Reka, membuat Nara bersuara manja dan erotis menambah semangat dan gairah Reka semakin menggila. Kedua tubuh itu kini berpeluh dan menciptakan suasana menjadi lebih panas.


“Reka, pelan-pelan,” ucap Nara.


Reka hanya hanya tersenyum kemudian merubah tempo gerakannya. Membuat Nara akhirnya mele_nguh panjang karena telah sampai pada pusara kenikmatan tiada tara. Reka menjeda sebentar membiarkan istrinya menikmati hormon yang tercipta. Kemudian kembali bergerak tapi lebih cepat hingga akhirnya cairan itu tumpah di dalam tubuh Nara.


Reka mendaratkan bibirnya pada kening Nara, “I love you, Ra,” ucapnya. Nara yang memejamkan matanya karena tubuhnya yang terasa lelah hanya bisa pasrah. Reka sebenarnya masih sanggup untuk kembali menjelajah, tapi dia tahan melihat Nara yang sudah lunglai.


Mengingat kehamilannya saat ini masih cukup rentan, Reka akhirnya bersabar. Merebahkan diri di samping Nara dan mengatur nafasnya yang masih menderu. Reka tersenyum mendengar dengkuran halus dari Nara yang menandakan bahwa wanita itu sudah terlelap dan terbuai mimpi. Cuaca semakin dingin, Reka kembali mengenakan pakaiannya, termasuk pakaian Nara. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


Esoknya, Reka terbangun dan tidak menemukan Nara di sisi ranjangnya. Menoleh pada jam dinding yang menunjukan pukul sembilan pagi. Beranjak bangun dan turun ke lantai bawah tidak juga menemukan Nara. “Ra,” panggil Reka.


“Aku di sini,” jawab Nara. Reka menyusul ke arah suara, Nara yang berada di dapur entah sedang membuat apa dibantu oleh asisten rumah tangga yang memang ditugaskan untuk membersihkan dan merawat kondisi villa. Ada dua orang pekerja dan ternyata mereka suami istri. Kevin mempercayakan keduanya untuk menjaga dan merawat vila itu.


Reka baru saja selesai membersihkan tubuh lalu menikmati sarapan pagi yang terlambat. Terdengar deru mobil di halaman depan Vila, membuat Reka dan Nara saling pandang. Reka beranjak melihat siapa yang datang diikuti oleh Nara yang berjalan di belakangnya.


Dua mobil beriringan masuk dan parkir tepat di sebelah mobil Nara. “Ngapain mereka pada kesini sih,” keluh Reka.