
Sementara itu, waktu di mana Nara di ajak dengan paksa oleh Reno. Selama dalam perjalanan, Nara memohon agar Reno melepaskannya. “Lepaskan aku Reno, kamu akan menyesal. Reka dan keluarganya tidak akan membiarkan hal ini,” rengek Nara.
“Diamlah Nara. Aku sudah pernah katakan kalau kalian akan menyesal. Kamu itu milikku Nara, hanya milikku.”
Nara berpikir untuk bisa kabur dari Reno. Dia melupakan ponselnya yang tertinggal di apartemen. Mobil yang dikendarai Reno membawa mereka semakin jauh dari lokasi tempat tinggal Nara dan Reka. Mengamati jalan yang mereka lewati yang entah akan menuju kemana.
“Kalau saja dulu, Ayahku tidak meminta hubungan kita berakhir dan meminta aku meneruskan pendidikan ke luar. Sudah pasti aku yang akan menjadi suami kamu,” tutur Reno.
“Takdir selalu memiliki cara sendiri. Meskipun saat itu kita baik-baik saja, Reka tetap yang akan menikahiku. Sebaiknya antarkan aku kembali sebelum semuanya kacau.”
“Nara, sebaiknya kamu diam. Atau aku harus berbuat kasar untuk mendiamkanmu,” ancam Reno yang sukses membuat Nara bungkam.
Aku tidak boleh gegabah. Saat ini aku sedang mengandung buah cinta dengan Reka. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kehamilanku, batin Nara.
Mereka tiba di sebuah rumah dengan pagar yang cukup tinggi dan terlihat tidak terawat dan jauh dari pusat kota. Setelah mobil terparkir, Reno keluar lalu menutup pintu pagar. “Keluarlah!” titah Reno pada Nara yang masih enggan berpisah dengan jok mobil yang menurutnya saat ini adalah tempat paling aman.
Melihat Nara yang masih pada posisinya, Reno meraih tangan Nara. “Aku bilang keluar,” ujarnya sambil menarik tangan itu. “Jangan tarik aku, aku akan turun,” sahut Nara.
Reno menunjukan jalan agar Nara memasuki rumah tempat mereka berada lalu duduk pada salah satu sofa. “Masuk ke kamar itu,” tunjuk Reno, membuat Nara ketakutan.
“Aku di sini saja,” jawab Nara.
“Tidak ada pilihan, masuklah!” titah Reno pada Nara.
Nara didorong paksa untuk masuk ke dalam sebuah kamar, lalu Reno menutup dan mengunci dari luar kamar tempat Nara berada. Nara yang merasa kepalanya semakin pusing juga mata yang semakin berat akhirnya merebahkan diri pada ranjang yang ada. Sambil terus waspada jika sewaktu-waktu Reno merangsek masuk.
Entah berapa lama Nara terlelap, dia terbangun karena gejolak rasa mual yang dirasakannya. Tidak ada kamar mandi dalam kamar tersebut, Nara pun mengetuk pintu dari dalam.
“Reno, buka pintunya.”
Tidak lama terdengar kunci pintu yang dibuka. Nara pun mundur beberapa langkah dan pintu yang didorong oleh Reno.
“Reno, aku harus ke toilet,” ujar Nara.
Reno pun minggir untuk membiarkan Nara lewat. “Pindah ke kamar di sana,” tunjuk Reno. “Sudah ada pakaian ganti untukmu,” ucap Reno lalu kembali menutup pintu dan mengunci setelah Nara masuk ke dalam kamar.
Nara bergegas menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya keluar air pada kloset. Mengalami morning sickness akibat kehamilannya. “Reka, selamatkan aku. Aku takut.”
Nara membersihkan dirinya dan mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh Reno. Celana training dan kaos dengan ukuran agak kebesaran. Tidak lama kemudian Reno datang membawakan makanan untuk Nara. “Makanlah! Setelah itu kita akan bicara,” titah Reno.
Nara menerima box berisi makanan untuknya dengan Reno yang berdiri menatap ke arahnya, seakan memastikan agar dia menghabiskan makanannya. Aroma makanan yang ada di hadapan Nara kembali membangkitkan rasa mual, “Aku tidak bisa makan ini,” ujar Nara meletakan box makanannya pada ranjang dimana dia duduk. Lalu berlari ke kamar mandi untuk kembali memuntahkan isi perutnya. Yang lagi-lagi hanya keluar air karena belum mengkonsumsi apapun sejak semalam.
Reno mengikuti Nara ke dalam kamar mandi. “Ada apa denganmu?” tanya Reno.
Reno menjulurkan tangannya untuk berdiri tapi ditepis oleh Nara. Jelas membuat Reno emosi. Dia pun menarik tangan Nara dan menyeret tubuh Nara lalu menghempaskan pada ranjang. “Jangan bertingkah, saat ini nasib kamu dan masa depan pernikahan kamu ada di tanganku. Jangan memprovokasi aku untuk berbuat nekat.”
Nara beringsut berusaha menjauh dari Reno.
“Aku bisa melakukan hal yang membuat Reka meninggalkan kamu. Bagaimana kalau kita lakukan sekarang?”
Nara menggelengkan kepalanya, meraih bantal dan menutupi bagian depan tubuhnya. Kedua matanya sudah mengembun, “Jangan lakukan itu Reno. Aku tahu kamu orang baik, jangan nodai hidupmu dengan berbuat jahat.”
Reno terbahak, “Aku tidak berbuat jahat. Hanya berusaha mendapatkan kembali yang menjadi milikku,” sahut Reno.
Nera merasakan sangat lapar, “Reno berikan aku makanan lain. aku tidak bisa makan yang ini.”
“Disini tidak ada layanan eksekutif, jadi makanlah yang ada,” elak Reno.
“Berikan aku air dan buah saja,” ucap Nara.
...***...
Entah sudah dua hari atau tiga hari Nara berada di kamar dimana Reno kunci dari luar. Meskipun Reno menyediakan makanan yang Nara pinta, tapi apa yang dimakannya hanya akan keluar kembali dimuntahkan tidak berselang lama setelah proses menelan.
Nara merasakan tubuhnya sangat lemah, dia harus segera keluar dari kamar itu jika ingin kondisi kehamilannya baik-baik saja. “Reno, please lepaskan aku. Biarkan aku pulang,” ujar Nara dengan posisi berbaring.
Reno melihat wajah Nara yang pucat, “Apa kamu mengidap suatu penyakit? Kenapa tubuh kamu semakin lemah dan wajah yang semakin pucat?”
“Aku sedang hamil, biarkan aku kembali pada Reka,” pinta Nara.
“Hamil? Kamu sedang hamil?” tanya Reno dengan nada yang tidak biasa.
Reno terbahak, “Tenang saja Nara, aku akan pastikan Reka akan melepaskan kamu. Aku bersedia mengakui anak yang sedang kamu kandung. Setelah itu kita akan bahagia seperti dulu,” ucap Reno. Nara berusaha sekuat tenaga untuk beranjak bangun, lalu menghampiri Reno dan menyemprotkan sabun cair yang sejak tadi sudah disembunyikan.
Reno mengucek kedua matanya, “Shitt, Nara,” teriaknya. Nara berlari keluar dari kamar berusaha menutup dan menguncinya. Pintu berhasil dikunci, Nara bergegas meninggalkan rumah itu. Baru saja membuka pintu utama dan beberapa langkah keluar.
Brakk. Terdengar pintu yang didobrak. Reno berlari mengejar Nara yang sudah berada di halaman rumah. “Jangan kabur,” ucap Reno sambil meraih tubuh Nara dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah.
“Lepaskan aku,” teriak Nara sambil berontak. Bahkan wajah Reno mendapatkan cakaran dari tangan Nara.
Reno menghempaskan tubuh Nara pada sofa lalu mengungkungnya. “Aku sudah cukup sabar, sekarang kamu nikmati saja. Aku akan pastikan setelah ini Reka akan membuangmu,” ujar Reno sambil terbahak. Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nara.
Srek, kerah baju Reno ditarik dari belakang. Bugh. Dia pun terjerembab.