
Reka mengambil bantal dari tangan Nara lalu meraih tubuh Nara ke dalam pelukannya. "Reka, lepas," ujar Nara. Reka terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
"Jangan ngambek dong, aku makin gemes," ujar Reka masih memeluk erat tubuh Nara.
"Lepas, aku masih kesal ya. Nggak ada pedulinya sama istri. Nggak ada kabar malah asyik sama teman-teman kamu," tutur Nara menahan emosi.
Reka mengurai pelukannya, "Aku bukan tidak peduli tapi memberi kita waktu untuk intropeksi," ucap Reka membela diri.
"Yang harus intropeksi itu kamu bukan aku. Siapa yang diteror oleh perempuan-perempuan gatal sampai ada yang datang ke rumah? Siapa yang dulu suka tebar pesona? Siapa yang ... mphhh."
Reka menyela ucapan Nara dengan meraih tengkuk Nara dan melummat bibir yang sejak tadi mengoceh dan membuatnya sakit kepala. Entah kenapa melihat Nara marah-marah malah memberikan sensasi berbeda pada diri Reka.
Nara memukuli dada bidang Reka membuat pagutan mereka terlepas. "Aku sedang marah, kamu jangan ...."
"Sttt, nanti lagi marahnya ada hal yang lebih penting," ujar Reka sambil melepaskan kaos yang dipakainya.
"Kamu mau ngapain sih?"
"Mau yang enak-enak," sahut Reka. Nara hanya bisa pasrah saat Reka meminta haknya. Setelah melucuti pakaian yang dikenakan oleh mereka, Reka mulai bergerilya di tubuh Nara. Berpetualang dengan bagian sensitif dari tubuh istrinya yang sudah menjadi candu.
Nara hanya bisa menikmati segala sentuhan yang dilalukan Reka. Pria itu benar-benar sangat berpengalaman, kadang Nara kesal jika memikirkan hal tersebut.
Desaahan dan erangan bersahutan dari mulut keduanya. Suasana kamar menjadi lebih panas meskipun pendingin udara sudah dihidupkan. Nara berhasil dibuat melayang oleh Reka karena penyatuan diri keduanya. Gerakan tubuh Reka membuat Nara semakin menggila. Akhirnya Nara mengerang dengan kedua tangan mencengkram bahu Reka.
Reka tersenyum melihat Nara sudah mencapai puncak kenikmatan surga dunia. "Giliranku," ujar Reka lalu mempercepat gerakannya sambil menengadahkan kepala dengan mata terpejam.
"Aahhh, Naraaa," jerit Reka saat tubuhnya telah mengeluarkan lava panas di dalam inti tubuh Nara.
Keduanya berusaha mengatur deru nafas. Reka melepaskan tubuhnya dan merebahkan diri di samping Nara.
"Hahhh, luar biasa," ujar Reka. Nara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kamu makin seksi sayang." Reka mencium pipi Nara sebelum beranjak bangun dari ranjang. Berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Yah, udah tidur," ujar Reka.
Menjelang tengah malam, Nara terbangun karena merasa dingin. Ternyata dia belum mengenakan kembali pakaiannya hanya tubuh berselimut. Cahaya lampu di kamarnya sudah berganti dengan lampu tidur, tapi Reka masih terjaga sedang duduk menatap laptop di meja kerjanya.
Nara mengenakan pakaiannya lalu melangkah menghampiri Reka. "Kamu belum tidur?" tanya Nara. Reka menoleh, "Kok bangun," ujar Reka sambil meraih pinggang Nara dan membuatnya duduk miring di pangkuan Reka.
Nara menatap layar, menscroll mouse membaca file yang sedang terbuka. Tangan Reka malah bergerak nakal di tubuh Nara, "Udah nggak ngambek 'kan?"
"Ngambeknya aku pending."
Reka berdecak, "Aku serius Ra, nggak ada wanita lain selain kamu," rayu Reka.
"Hmm." Nara masih fokus pada layar monitor. "Tapi, banyak wanita lain di ponselmu," ejek Nara. Reka membenamkan wajahnya di tubuh Nara dengan tangan melingkar di perut Nara.
"Kita mau punya anak, masa kamu nggak percaya aku sih," ujar Reka. Nara menoleh dan menatap wajah Reka.
"Aku percaya kamu, tapi tidak percaya dengan wanita-wanita itu. Kamu sejak kapan menyukaiku, tahu sendiri pertemuan kita bagaimana."
"Entahlah, aku juga lupa. Tapi waktu kita berdebat di depan kelas, aku ingin banget menarik kamu lalu menghempaskan di ranjang. Karena hanya itu yang bisa membungkam mulut wanita. Kalau diladeni sudah pasti aku kalah dengan ocehan kamu," ungkap Reka.
"Dasar mesum." Nara beranjak bangun dari pangkuan Reka.
"Loh, kok bangun sih. Baru juga turn on, kamu harus tanggung jawab Ra."
"Bodo amat."
\=\=\=\=\=\=\=
Reka, rasano 😅