Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 19


David, Bian dan Alisha merayakan berita bahagia itu di kamar perawatan Alisha. Bian sengaja tidak membahas apapun mengenai penculikan itu. Ketika David hendak memberi satu informasi di depan Alisha, Bian memberinya kode untuk diam. Ia tidak mau Alisha menjadi stres dengan memikirkan peristiwa mengerikan itu.


Bahkan saat Alisha menanyakan soal itu, Bian tidak menjawab dan langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


“Yang, kamu pengennya cowok apa cewek?” tanya Bian.


Alisha menangkap maksud dari ucapan Bian. Ia juga memahami usahanya yang tidak ingin membuatnya stres karena akan berpengaruh pada kandungannya. Alisha pun memutuskan mengikuti kemauan Bian.


“Mm, pengen cowok dulu sih..” jawab Alisha.


“Dulu? Jadi nanti kamu mau lagi?” serobot Bian girang.


Alisha mengangguk ringan sambil tersenyum. Ia memang menginginkan anak lebih dari satu. Dia ingin memiliki anak yang lengkap, ada perempuan dan laki-laki, ada kakak dan adik sehingga keluarganya akan terasa lengkap.


Hari itu Bian memilih mengabaikan semua telepon mengenai pekerjaan atau apapun, termasuk pembahasan mengenai penculikan itu. Ia hanya ingin menjaga istrinya.


***


Hari kedua Alisha dirawat, Nadia datang karena dihubungi oleh Bian. Ia melarang Nadia menceritakan peristiwa penculikan itu kepada ibunya Alisha. Ia tidak ingin ibu mertuanya malah takut dan khawatir yang berlebihan, terlebih kalau beliau tahu bahwa Alisha tengah berbadan dua.


Nadia menyetujuinya, ia justru terlalu heboh dengan berita kehamilan sahabatnya itu.


"Akhirnya aku jadi tante, huh?” ucap Nadia.


“Iyalah, Tante Nadia” ledek Alisha.


Bian tersenyum lega saat melihat istrinya sudah kembali tertawa lebar bersama sahabatnya. Sebelumnya ia merasa takut bahwa kejadian penculikan itu akan mempengaruhi mentalnya dan membuat ia trauma.


Ternyata Tuhan begitu menyayangi keluarga kecilnya. Dia mendatangkan kesulitan bersama obatnya sekaligus. Karena itulah Bian berjanji akan menjaga keluarga kecilnya melebihi apapun.


Bian berencana membawa Alisha ke rumah mereka. Ia masih belum mempercayai Mama Liana. Tetapi ia memutuskan untuk mengabari adiknya yang tengah berada di luar negeri untuk melanjutkan studinya.


Mendengar berita kakak iparnya mengalami kejadian buruk berikut membawa berita baik, Tsabina memutuskan untuk mengambil cuti agar bisa membantu menjaga kakak iparnya.


“Apa kamu yakin mau cuti?” tanya Bian memastikan.


“Iya, aku nggak mau kakak iparku dan calon debaynya nanti kenapa-kenapa lagi”


Bian pun tak bisa melarang keputusan adiknya. Ia selalu mempercayai adiknya akan bisa bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri. Selama hidupnya ia selalu mengajarkan hal itu pada Tsabina.


Tapi Bian meminta Tsabina untuk merahasiakan berita kehamilan istrinya pada sang ibu. Tsabina pun menyetujuinya karena sudah memahami tabiat sang ibu.


“Kau juga. Jangan bilang mama kalau kau cuti dan pulang!” kata Bian sebelum menutup teleponnya.


Setelah memastikan Alisha aman dan sudah dalam keadaan baik-baik saja, Bian mulai mengajak David membicarakan masalah penculikan itu.


David telah memerintahkan anak buahnya untuk mencari pengemudi mobil itu. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan pelaku-pelaku itu. Namun sayangnya ada satu kendala yang dihadapi David.


Dia tidak bisa mendapatkan nama orang yang membayar mereka. Dua orang penculik yang ditangkap oleh anak buah Bian, mengaku bahwa mereka melakukan penculikan itu atas inisiatif mereka sendiri.


Menurut pengakuan penculik itu, mereka melihat Alisha tengah berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang. Naluri jahat mereka langsung muncul dan berakhir dengan menculiknya.


Sama seperti penjahat lainnya, ketika mereka tidak menemukan apa yang mereka inginkan, mereka membuang Alisha begitu saja di pinggir jalan.


David pun menceritakan hasil penyelidikannya pada bosnya.


“Lalu soal pemilik mobil itu?” tanya Bian.


David telah menemukan informasi mengenai pemilik kendaraan itu. Meski mereka menggunakan nomor plat kendaraan palsu, David bisa menemukan pemilik aslinya. Kemampuan hacking yang dipelajarinya sejak duduk di kelas menengah atas tidak bisa diremehkan sama sekali.


Bian yang sudah terbiasa melakukan hal itu dengan David, langsung mengerti arti dari tatapan mata sekretarisnya itu.


“Apa kau yakin dia orangnya?” tanya Bian.


David mengangguk.


“Tapi aku belum bisa menemukan bukti langsungnya. Semua hanya bukti tak langsung” jawab David.


David mengatakan bahwa para penculik itu tidak menyebut nama Diandra sama sekali. Mereka terus mengatakan bahwa itu tidak ada hubungannya dengan orang lain.


“Sialan!”


Bian mencoba mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Dia tidak tahu kalau Diandra akan senekat ini orangnya.


“Jika dia berniat menculik Alisha, kenapa dia hanya meninggalkannya di pinggir jalan seperti itu?” tanya Bian pada David.


“Aku juga memikirkan itu, Mas. Mungkin dia hanya ingin menggertak Mas Bian aja” kata David.


Bian dan David mengambil keputusan untuk menemui Diandra di suatu tempat. Tetapi David menyarankan agar Bian meneleponnya terlebih dulu untuk mencari tahu reaksi Diandra akan seperti apa.


Setelah memikirkannya lagi, Bian menyetujui saran dari David. Dia mencoba menelepon Diandra. Tetapi belum sampai nada sambung teleponnya berbunyi dua kali, Diandra sudah berdiri di depannya.


“Dasar gila.”


Dengan penuh emosi Bian menggeret Diandra menjauh dari kamar Alisha. Ia tak habis pikir, seberapa besar keberanian gadis itu sampai dia berani datang menemuinya setelah melakukan hal sekeji itu.


“Apa tujuanmu datang kemari?” tanya Bian dengan tatapan yang menyeramkan.


“Aku dengar istrimu sakit, jadi aku ke sini untuk menjenguknya” jawab Diandra dengan tatapan sendu yang palsu.


Bian tertawa mendengar jawaban gadis itu. David pun juga gagal menahan tawanya meski hanya tertawa kecil.


“Heh, Diandra! Hentikan permainan dan sandiwaramu ini!” ujar Bian.


“Kalau kau berani mendekatiku atau Alisha lagi, akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu” ancam Bian dengan geram.


Namun reaksi Diandra justru mengejutkan. Dia tertawa setelah Bian menyelesaikan kalimat ancamannya. Ia bahkan tertawa dengan begitu lepas hingga beberapa perawat yang melewatinya memandangnya dengan tatapan tak suka.


“Ada yang lucu dari ucapanku?" tanya Bian kesal.


“Bian, Bian, kau sungguh lucu! Kau kira aku melakukan semua ini karena aku menyukaimu dan ingin mendekatimu?” ucap Diandra.


Bian dan David dengan kompak mengerutkan dahi mereka. Entah apa yang dimaksud oleh gadis ini, yang jelas di mata kedua pria itu, Diandra sudah semakin menggila.


“Permainan apa lagi yang sekarang kau mainkan?” tanya Bian.


Diandra mendekati wajah Bian. Jarak mereka kini hanya sekitar sepuluh sentimeter. Ia menjawab pertanyaan Bian dengan membisikkannya di telinga mantan kekasihnya itu.


Begitu selesai mengatakannya, wajah Bian berubah. Ia nampak menahan emosi yang sangat besar dan ingin segera ia luapkan. Tangannya mengepal keras hingga bergetar.


David pun mulai kehilangan tawanya setelah melihat perubahan wajah Bian. Ia bahkan didorong oleh Bian yang beranjak pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.


Yang david lihat hanyalah Diandra yang terus tertawa dengan dirinya sendiri seperti orang yang tidak waras.


Ya, Diandra memang sudah tidak waras. Dia memang tidak mendekati Bian dan keluarganya karena ingin mendapatkan Bian kembali. Dia melakukan semua hal itu karena dari awal ia ingin membalas dendam.