
“Bang Leo,” panggil Nara.
“Nara, tolong aku. Minta orang ini untuk lepaskan aku.” Rasanya Nara ingin melihat Reno lebih tersiksa lagi. Tapi mengingat saat ini mereka sedang berada di area kampus, Nara pun menghentikan aksi Leo.
“Aku sudah peringati semalam, untuk tidak mengusik majikanku. Tapi nyalimu boleh juga. Ayo kita lanjutkan di luar,” ujar Leo.
“Lepas, saya harus bicara dengan Nara. Tidak ada urusan dengan anda.”
“Bang Leo,” panggil Nara lagi. Leo menarik tubuh Reno dan menghempaskannya membuat pria itu terjerembab. Membuka pintu mobil dan mempersilahkan Nara masuk kemudian kembali menghampiri Reno yang masih terduduk. “Cobalah temui Bu Nara di tempat lain dan rasakan apa akibatnya,” ancam Leo.
Leo mengemudikan mobil menuju Two Season mengantarkan Nara bertemu Elang Sanjaya. Sampai di ruang kerja Elang, ternyata disana juga sudah ada Kayla. Kayla mengajak Nara duduk di sofa, “Bagaimana rasanya jauh dari Reka?” tanya Kayla.
“Hm, bete Kak. Pengennya sih Reka tetap di Jakarta,” jawab Nara. Kayla tersenyum, “Aku juga waktu hamil Keenan tinggal terpisah dengan Mas Elang,” ujar Kayla.
“Bukan tinggal terpisah tapi terpaksa terpisah karena kamu melarikan diri,” sahut Elang sambil masih fokus pada layar komputernya. Nara menoleh pada Kayla seakan bertanya apa benar yang dikatakan Elang. Kayla malah tertawa, “Itu masa lalu, yang jelas sekarang Bapak Elang sudah bucin akut. Bukankah begitu Pak Elang Sanjaya?” tanya Kayla.
“Hmm.”
Tidak lama kemudian hadir pula pengacara keluarga Kevin yang mendampingi Nara terkait persoalan Reno. Mereka berempat tentu saja mendiskusikan kelanjutan urusan Reno. Elang meminta Nara untuk tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. “Urusan pernikahan Reno dengan saudara tiri Nara itu tidak bisa kita handle karena memang urusan keluarga besar Nara. Intinya adalah jangan sampai Nara berurusan lagi dengan Reno,” tutur Elang. “Sepertinya Abimana ingin bermain-main denganku,” ujar Elang.
“Tenang saja, Mas Elang akan atur agar Reno tidak berani ganggu kamu lagi. Tapi kalau menghindari pertemuan sepertinya tidak mungkin. Kalian akan menjadi keluarga,” ujar Kayla. Cukup lama Nara berada di Two Season, bahkan Kayla juga mengajak Nara makan siang bersama.
“Bunda bilang kamu mau ke Rumah Sakit?” tanya Kayla saat Nara pamit undur diri.
“Iya kak.”
“Nggak bisa diundur besok? Kalau besok aku bisa temani kamu. Sekarang anak-anak belum aku kondisikan untuk ditinggal lebih lama,” tutur Kayla. “Reka bilang sesuai dengan jadwal aja, nggak masalah kok aku diantar Bang Leo.”
“Nara, walaupun aku tidak merasakan sakit yang kamu rasakan. Jangan benci keluargamu, mungkin saat ini mereka tidak menyadari jika keadaan ini membuat kamu kecewa juga tersakiti. Ada saatnya mereka akan paham dan kamu akan kembali merasakan kehangatan keluarga. Jangan juga berkecil hati, kami juga keluargamu,” nasihat Kayla pada Nara.
Hati Nara menghangat dengan kepedulian keluarga Reka. Baik Ibu mertuanya juga kakak iparnya tidak menyarankan Nara untuk berbuat hal yang akan disesali di kemudian hari termasuk membenci ibunya meskipun banyak luka yang sudah ditorehkan. Nara semakin yakin jika Reka dan keluarganya benar-benar sangat menyayanginya dan mereka benar-benar keluarga yang baik.
“Kurang lebih aku pernah merasakan posisimu. Berada diantara orang tua yang sudah memiliki keluarga masing-masing. Kadang aku merasa jika mereka tidak menyayangi aku, padahal bukan seperti itu kenyataannya. Egoisme kita yang merasa mereka tidak selalu ada dan membuat kita berkesimpulan seakan kita bukankah prioritas. Mungkin itu yang disebut broken home,” ujar Kayla. Nara memang tahu jika Kayla dan Reka memiliki Ibu yang sama tapi berbeda Ayah, tapi dia tidak mengetahui cerita detailnya.
Kini Nara sudah berada di mobil menuju Rumah Sakit. Setelah mendaftar untuk pemeriksaan, dia menunggu di depan poli kandungan bersama pasien lainnya. Melihat para wanita dengan perut yang membuncit ditemani oleh para suami sedangkan dia hanya sendiri. Sempat terbesit rasa iri karena menginginkan hal yang sama seperti wanita-wanita hamil lainnya. Selalu didampingi oleh suami selama menjalani kehamilannya.
Akhirnya giliran Nara untuk diperiksa Dokter pun tiba. Menjelaskan segala keluhan yang dirasakan yang mana menurut Dokter hal tersebut adalah wajar dialami oleh wanita hamil trimester pertama. Hati Nara bahagia luar biasa ketika Dokter melakukan USG (Ultrasonografi) pada perutnya dan menampilkan dengan jelas bentuk janin yang belum sempurna karena umur kehamilannya yang masih muda juga suara detak jantung calon bayinya.
Dokter menjelaskan jika kehamilan Nara tidak ada masalah dan dalam kondisi sehat. Memberikan informasi vitamin dan jenis makanan yang baik untuk kesehatan dan kehamilannya. Saat menunggu di bagian farmasi untuk mengambil obat dan vitamin, Nara terus menatap foto hasil USG.
“Ini obatnya, sebaiknya kita langsung pulang,” ajak Leo.
“Owh, oke. Aku nggak dengar kalau sudah dipanggil.” Hari sudah menjelang malam, langit sore sudah berganti gelap. Dalam perjalanan pulang, ponsel Nara bergetar karena ada pesan masuk. Menduga jika pesan tersebut dari Reka, karena tadi dia mengirimkan gambar hasil USG pada suaminya.
[Nara, please ijinkan aku bertemu denganmu. Aku hanya ingin bicara dan minta maaf.]
[Aku tidak ingin hubungan kita kedepan jadi canggung. Kamu tahu sendiri jika aku akan menikah dengan saudarimu]
Nara berdecak membaca pesan dari Reno. Selalu menggunakan nomor kontak baru karena Nara selalu memblokir kontak Reno.
Mobil yang dikemudikan Leo sudah terparkir rapi di carport kediaman orangtua Reka. “Bu Nara,” panggil Leo sebelum Nara membuka pintu. Nara menoleh tanpa menjawab. “Tolong beritahu apapun terkait Reno yang saya tidak ketahui. Jika dia menghubungi atau mengirimkan pesan,” ujar Leo. “Karena hal itu penting untuk saya mengetahui dan memastikan keselamatan Bu Nara.”
“Dia baru saja mengirim pesan,” sahut Nara. Tangannya masih berada di handle pintu mobil.
“Apa ada ancaman atau ajakan bertemu?”
“Iya, tapi tidak saya jawab dan kontaknya sudah saya blokir.”
“Jika Bu Nara tidak keberatan, jika Reno menghubungi lagi tolong informasikan ke saya baik itu isi pesan atau isi obrolannya,” pinta Leo.
“Oke.”
Nara bergegas menuju kamarnya. Baru saja akan melangkah ke kamar mandi, ponselnya berdering. “Halo.”
“Sayang, ini hasil USG bayi kita?” tanya Reka diujung telepon.
“I-iya,” jawab Nara sedikit ragu karena telinganya memastikan jika dia mendengar isakan di ujung sana. “Kamu nangis?” tanya Nara.
“Ini tangis bahagia Ra, ini calon anak kita? Aku nggak nyangka kalau sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, padahal kuliah juga belum selesai,” ujar Reka. “Nggak nyangka kalau kita malah jadi partner rumah tangga yang cukup kompak sampai menghasilkan Reka junior. Padahal dulu kamu jutek banget ....”
“dan kamu sangat menyebalkan.”
\=\=\=\=\=\=
Antara benci dan cinta 'kan tipis banget, 😊