Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bukan Ranah Kamu


Nara mengakhir jam kerja lebih awal karena ingin mengantarkan Reka ke bandara. Meskipun suaminya sudah menolak dan menyarankan untuk Nara pulang agar bisa istirahat lebih awal dan sudah pasti Nara menolak. Menghindari Nara merajuk dan membuat hubungannya tidak kondusif apalagi mereka masih akan terpisahkan jarak, Reka akhirnya mengalah.


“Jangan lupa vitaminnya diminum, istirahatkan tubuh kamu karena kamu sendiri yang tau dan merasakan,” tutur Reka sambil menyelipkan helaian rambut yang keluar dari tatanan cepolan rambut Nara.


“Skripsiku pada dasarnya sudah acc, tinggal revisi dan pendaftaran sidang. Setelah ini aku akan fokus pada kalian dan mencari nafkah,” ucap Reka sambil mencubit hidung Nara.


“Jangan macam-macam, karena aku nggak tahu. Perasaan seorang istri itu tajam, akan selalu ada jalan untuk membuka tabir kebohongan,” ujar Nara.


“Iya Ra, sumpah aku akan berusaha nggak aneh-aneh. Tapi kamu tau sendiri, kadang perempuan suka ... ya begitulah,” jelas Reka sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Kedua tangan Nara melingkar sempurna di pinggang Reka, “Selama kamu tidak merespon tidak akan ada masalah. Ada peluang lalu kamu respon akhirnya berubah jadi setan,” ungkap Nara.


“Nggak sayang, aku janji nggak akan aneh-aneh. Ada asisten Papih di sana dan juga Papih langsung yang mengawasi aku.” Nara mengangguk karena yang disampaikan Reka ada benarnya, Kevin yang langsung mengarahkan Reka dan sudah pasti mengetahui detail kegiatan Reka.


“Kamu yang harus hati-hati, ada Ardi dan Reno yang masih penasaran,” nasihat Reka.


Kedua tangan Nara sudah melingkar di pinggang Reka, seakan tidak peduli dengan sekitarnya. Reka dan Nara berpelukan cukup erat dan mendaratkan bibirnya di dahi Nara. Mengantarkan hanya sampai gerbang keberangkatan ditemani oleh Leo yang berdiri agak jauh dari posisi pasangan yang sedang melepas rindu karena akan terpisah kembali.


Nara melambaikan tangannya saat Reka menoleh ketika akan melewati gate keberangkatan domestik. Setelah punggung Reka benar-benar sudah tidak terlihat, Leo berjalan menghampiri Nara. “Mari Bu, kita pulang.”


Dalam perjalanan, Nara kembali teringat ucapan ultimatum dari Ardi dan hal itu belum dia bicarakan dengan Reka. Khawatir jika disampaikan hanya akan menambah kecurigaan atau kegelisahan Reka.


...***...


Reka bersama Pak Kris asisten Kevin sudah mulai bergelut dengan kesibukannya. Berada jauh dari Nara dan berjanji menjaga hatinya, tentu saja membuat Reka sangat hati-hati dalam bersikap.


Sepertinya sudah sebuah anugerah dari Tuhan dengan segala yang Reka miliki baik paras dan postur tubuh, membuatnya cukup digemari oleh para wanita.


Namun, tidak dapat dihindari jika aktivitasnya akan ada berinteraksi dengan perempuan. Seperti saat ini, Reka akan bertemu dengan klien. Sedangkan Pak Kris juga ada pertemuan akhirnya Reka hanya ditemani oleh sekretaris Pak Kris.


Saat berjalan keluar dari lift melewati lobi, beberapa karyawan menegur dan tersenyum. Tentu saja hanya dijawab oleh Reka dengan anggukan kepala.


"Pak Reka nanti akan memimpin cabang ya?"


"Belum tau, aku gimana Papih," jawab Reka sambi membaca lembaran kerjasama saat mereka berada di mobil.


"Kalau mau keliling Yogya, bilang ke saya pak. Nanti saya temani," ajak sekretaris Kris. Reka hanya diam. "Saya juga tau loh Pak, club-club terbaik disini," ujarnya lagi sambil berbisik.


"Saya tidak tertarik," sahut Reka.


"Masa pak, pasti butuh hiburan kalau jenuh."


"Setiap malam saya menghubungi istri saya jadi tidak akan jenuh."


"Pak Reka sudah menikah?" Reka hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.


"Bapak nggak kesepian terpisah dari istri?"


Reka menatap ke depan, "Tidak, bahkan saya ada rencana mengajak istri untuk tinggal disini. Lagipula bukan ranah kamu mengurusi urusan pribadiku."


\=\=\=\=\=\=\=


Jleb, realita ya. Kadang ada aja orang yg usil dengan urusan pribadi kita 🙄