
Alisha melihat perubahan sikap dan ekspresi Bian. Ia terus berharap apa yang akan keluar dari mulutnya adalah sebuah penyangkalan.
"Sayang.." ucap Alisha lirih.
Bian menoleh menatap istrinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafin aku, Sayang!"
Begitu mendengar sebuah kata maaf lah yang terlontar pertama kali dari mulut Bian, hati Alisha mencelos.
Ia berharap Bian langsung menyangkal dan meyakinkannya bahwa pria itu bukan dia. Namun yang keluar justru permintaan maaf yang Alisha tak mengerti alasan dibalik permintaan maaf itu.
Apakah Bian meminta maaf karena telah selingkuh darinya? Apakah suaminya meminta maaf karena telah berbohong dan menyembunyikan hal ini darinya? Padahal jika ia mau jujur, ada satu momen sebelum pernikahan yang sengaja mereka buat untuk mengeluarkan semua uneg-uneg atau apapun yang bisa mempengaruhi pernikahan mereka ke depannya.
Alisha telah melakukannya. Ia membongkar semua kekurangannya pada Bian. Sebenarnya Bian pun melakukan hal yang sama. Dia membicarakan semua hal yang pernah ia lakukan dan terjadi padanya di masa lalu. Namun ternyata dia masih menyimpan satu hal yang entah sengaja atau tidak disembunyikan olehnya.
“Maaf untuk apa, Sayang?” tanya Alisha datar.
“Sepertinya aku melakukan kesalahan” jawab Bian.
“Ini masih di kantor. Nanti saja kita bicarakan di rumah!” ucap Alisha sambil memegang tangan Bian yang masih bergetar.
Alisha pun keluar dari ruangan Bian dan menuju ke toilet perempuan. Di depan kaca wastafel ia mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia merapihkan baju dan dandanannya karena biar bagaimana pun hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris suaminya. Ia tidak ingin mengecewakan siapapun karena itu akan berdampak pada suaminya.
Tiba-tiba ada suara pintu terbuka dari belakang Alisha. Ia melihat seseorang keluar dari toilet.
“Gimana? Seru kan, Nyonya Bian?” ucap orang yang tak lain adalah Diandra.
Alisha memandanganya dengan penuh amarah yang tertahan. Ia bisa saja menjambak rambut gadis ini saat itu juga. Ia menyadari usaha gadis ini adalah untuk memisahkan mereka berdua. Tiba-tiba satu pemikiran terlintas di benaknya.
“Kau pasti senang, merencanakan ini semua dengan Mama Liana” ucap Alisha.
Kali ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia bertekad akan melawan Diandra jika memang benar ini adalah upayanya bersama ibu mertuanya.
Ia pun mendekati Diandra dengan berani. Alisha mengeluarkan sifat yang selama ini sudah ia pendam semenjak menikah dengan Bian.
“Kau camkan ini baik-baik! Sekalipun kau mengirim video semacam itu padaku, itu tidak akan mempan. Kalau niatmu ingin membuatku bercerai dari Bian, bangun! Karena mimpimu sudah selesai!” ucap Alisha geram.
Diandra menggertakkan giginya, nampak ia menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Namun Alisha tak kalah menyeramkannya. Dia memasang wajah dan nada segarang mungkin untuk mengintimidasi gadis yang menambah beban pikirannya itu.
Alisha pun keluar dari toilet dengan membanting pintunya keras. Ia merasa sangat lega bisa mengeluarkan semua yang mengganggu hatinya sejak mengenal Diandra.
Namun ketika ia keluar dari toilet, ia melihat Bian berdiri di depannya dengan pandangan datar.
Ia langsung menarik tangan Alisha dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
“Ada apa? Kenapa kamu menarikku seperti ini?” tanya Alisha heran.
“Kamu yang kenapa? Kenapa kamu bicara seperti itu sama Diandra?” tanya Bian dengan nada keras.
“Memangnya aku ngomong apa? Apa yang begitu mengganggumu sampai kau marah padaku seperti ini?” ucap Alisha dengan nada yang juga keras, walaupun masih di bawah nada Bian.
“Kau menuduh mama bekerja sama dengan Diandra soal video itu, padahal kau tahu..”
Ucapan Bian terhenti. Sementara Alisha hanya terpaku tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Apa suaminya tidak mendengar ucapannya bahwa video itu tidak mempengaruhinya? Apa dia hanya mendengar bagian itu saja? Kenapa dia malah memarahinya seperti ini. Alisha tak habis pikir dengan suaminya. Ia membelanya meski tahu bahwa laki-laki di video itu adalah suaminya bersama wanita lain, tapi dia malah membentaknya.
“Jadi kamu hanya dengar bagian itu? Baiklah, terserah kamu saja!” kata Alisha seraya mengambil tasnya dan berlari meninggalkan kantor sambil menangis.
Bian tengah dikuasai amarah saat itu. Teriakan dirinya bahkan bisa didengar oleh karyawan di luar ruangannya, padahal ruangan itu cukup bisa meminimalisir suara yang keluar. Tentu saja Bian sangat frustasi karena ia sangat mencintai istrinya, dan ia malah melakukan hal seperti itu padanya.
Sementara Alisha terus menghapus air matanya sepanjang jalan. Ia menolak tawaran David, sekretaris Bian, yang akan mengantarnya pulang. Alisha pun tidak pulang ke rumah suaminya, melainkan ke rumahnya sendiri.
Begitu masuk, ia langsung menarik perhatian Nadia dan ibunya. Mereka terkejut karena Alisha pulang dalam keadaan menangis. Nadia pun langsung mengejar Alisha ke kamarnya.
“Al, kamu kenapa?” tanya Nadia.
Dengan iringan isak tangisnya, Alisha menceritakan semua kejadian hari itu pada Nadia. Sesuai dugaan, respon Nadia langsung sebesar amarah Alisha.
“Apa Bian udah gila? Kenapa dia seperti itu padahal nggak dengerin seluruhnya?” teriak Nadia.
“Aku harus gimana, Nad? Sekarang pasti ibu mertuaku sedang merayakan keberhasilannya dengan gadis itu”
“Kalau menurutku, kamu jangan pulang dulu. Biar suamimu tahu rasanya ditinggal istrinya tuh gimana” kata Nadia.
Alisha tak menjawab lagi. Pikirannya ruwet. Baru saja ia ingin mengerahkan tenaganya untuk melawan dan mempertahankan rumah tangganya, serangan balik yang ia dapatkan justru berasal dari suaminya sendiri.
Tapi ia menuruti apa kata Nadia, ia memilih untuk tidak pulang ke rumah suaminya sampai keadaan menjadi lebih baik. Tidak ada pikiran untuk bercerai dari Bian. Ia hanya ingin menjernihkan pikirannya. Alisha merasa ini adalah pertengkaran pertamanya setelah ia menjadi istri Bian.
***
Bian membiarkan Alisha pulang tanpa mengejarnya. Meskipun ia telah menghubungi David untuk memastikan istrinya telah pulang dengan selamat.
Namun David memberitahunya bahwa dia tidak mengantar Alisha pulang. Ia pun sudah memastikan kalau Alisha tidak pulang ke rumah Bian, melainkan rumahnya sendiri. Bian juga bertanya pada sekretarisnya itu apakah ia melihat istrinya menangis, dan tentu saja David menjawab bahwa ia melihatnya, karena memang dia melihatnya.
Bian menjadi merasa bersalah karena sudah meneriaki dan membuat istrinya menangis, terlebih ia melakukannya di kantor. Ia semakin tidak fokus saat mengetahui Alisha tidak pulang ke rumahnya.
Bahkan saat membaca berkas pun, Bian membanting kertas-kertas berkasnya karena pikirannya melayang memikirka Alisha.
Dan ketika ia berusaha lebih fokus dengan berjalan keluar ruangan, ia mendengar beberapa karyawan perempuannya tengah mengobrol.
Setelah mendengar apa yang mereka bicarakan, Bian langsung mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menelepon seseorang.
“Halo, tolong bantu saya sekarang!”
Bian pun berlari keluar kantornya dengan ekspresi khawatir dan panik.
Sementara itu dari sisi yang lain, Diandra mengernyit saat melihat kepanikan Bian. Ia pun juga langsung mengutak atik ponselnya untuk menelepon seseorang.