Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 6


Mama Liana membiarkan Bian meneruskan rencana pernikahannya, dengan janji bahwa dia tetap menjadi penerus keluarga Herdianto. Bian pun menyetujuinya. Namun Mama Liana sudah memikirkan langkah selanjutnya untuk membuat perlawanan.


Ia berencana akan membuat hidup Alisha seperti di neraka. Bahkan jika ada pepatah ibu tiri itu kejam, maka dia akan membuat dirinya lebih kejam daripada ibu tiri.


Meski ia meloloskan pernikahan mereka, ia tetap tidak akan menerimanya sebagai mantu. Langkah pertama yang akan dia lakukan setelah masa pernikahan adalah membalas dendam.


Mama Liana tidak bisa menerima seorang gadis yang menurutnya lusuh dan tak sederajat dengan keluarganya, membuat putra kesayangannya berani melawan sang mama apalagi menikahinya. Bagi mama Liana yang kemana-mana tampil stylish dan jiwa sosialitanya tinggi, tentu ia ingin memamerkan menantunya suatu saat nanti. Dan jika Alisha yang menjadi menantunya, tentu harga diri jiwa sosialitanya akan ternoda.


Dan tibalah saat pernikahan Bian dan Alisha tiba. Meski pada saat acara lamaran dan pertunangan, sang mama tidak menghadirinya dengan alasan sakit, tapi kali ini Mama Liana benar-benar diminta oleh Bian untuk datang. Tidak mungkin satu-satunya orang tua tak hadir di acara sepenting itu, terlebih banyak relasi dan partner kerja yang menghadiri pernikahannya.


Alisha terlihat sangat cantik dan elegan saat berjalan mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan aksen renda dan mutiara kecil di beberapa bagiannya. Tentu saja itu adalah hasil pilihan sang adik ipar, Tsabina. Selain Bian, hanya Tsabina lah yang menemaninya mengurus pernikahan.


“Aiiihhh, cantik banget kakak ipar akuu” seru Tsabina saat melihat Alisha menggunakan baju pengantin.


Alisha hanya tersenyum, namun tidak dengan Mama Liana. Ia bahkan memasang wajah sinis sepanjang acara. Hanya beberapa kali saja dia tampak terpaksa tersenyum karena ada kamera di dan para relasi di depannya. Ia tidak ingin muncul rumor buruk yang akan bisa mempengaruhi citra perusahaannya nanti.


Ketika Divo muncul dan berjalan dengan memakai tuksedo, Alisha tak berhenti untuk takjub dan mengaguminya. Ia merasa harus sangat bersyukur bisa menikah dengan orang yang mirip pangeran dari negeri dongeng. Bermimpi saja ia mungkin tak bisa. Tapi kini secara nyata, ia telah sah menjadi Nyonya Bian Aditya Herdianto.


Namun hatinya teriris saat dia bersimpuh meminta restu dari sang mama mertua. Mama Liana justru berbisik dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya tak mampu menahan air matanya.


“Jangan kira kau sudah menang. Aku akan membuatmu menyesal karena telah melawanku”


Ucapan yang membuat air matanya lolos tapi bukan karena terharu, melainkan karena dia merasa dirinya telah terbuang bahkan sebelum dia masuk ke keluarga itu.


Hal itu sudah sedikit bisa Alisha telan mentah-mentah. Karena sang mama mertua selalu menunjukkan sikap ketidaksukaannya setiap hari. Namun satu yang membuatnya terganggu, Mama Liana mengundang seorang gadis yang Alisha belum mengenalnya. Dan gadis itu terlihat mendekati Bian setiap ada kesempatan. Bahkan saat acara makan bersama keluarga, gadis itu ikut duduk di samping Mama Liana.


Pada suatu kesempatan lain, gadis itu juga asyik mengobrol dengan anggota keluarga lainnya. Alisha yang penasaran karena belum mengenalnya, akhirnya bertanya pada Tsabina.


Tsabina mengenalkan dia sebagai Diandra, teman kuliah Bian yang saat ini tengah melanjutkan studi ke Australia. Tapi melihat raut wajah dan reaksi Bina saat itu, Alisha bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikannya.


“Bin, apa dia mantan pacar Bian?” tanya Alisha memastikan.


“Hah? Mm, iya kak” jawab Bina terbata.


Seperti yang sudah Alisha duga, kedekatan gadis bernama Diandra itu tidak bisa dikatakan biasa saja. Ia terlihat sangat mengenal seluruh anggota keluara Bian, bahkan mereka juga terlihat santai dan asyik saat mengobrol dengannya.


Dan entah kenapa, Alisha merasakan firasat bahwa Diandra akan menjadi salah satu kerikil yang akan mengganggu perjalanan rumah tangganya kelak.


***


Alisha memasang aksi diam seribu bahasa sejak acara pernikahannya selesai. Ia bahkan menekuk wajahnya dan mengabaikan ucapan Bian yang memanggilnya untuk mendekat.


“Sayang, kok kamu diem aja sih dari tadi? Capek ya?” tanya Bian.


“Enggak, biasa aja” jawabnya pendek.


Bian tersenyum kecil melihat sikap istrinya yang terlihat menggemaskan di matanya. Ia pun mendekati dan memeluk Alisha dari belakang.


Alisha terkejut karena Bian ternyata sepeka itu. Bahkan aksi merajuknya bisa ia lihat dalam waktu secepat itu. Karena bingung harus menjawab apa, Alisha hanya mengangguk selembut mungkin.


“Lucu banget sih..” kata Bian sambil mengusap rambut Alisha beberapa kali.


Kini Bian memutar tubuh Alisha menjadi berhadapan dengannya. Dipandangnya wajah istrinya yang penuh dengan rasa penasaran, kecurigaan, dan kecemburuan.


“Sayang, kamu cemburu ya?” goda Bian pada istrinya.


“Menurut kamu? Kalau mantan pacar dateng di pernikahan mantannya, gimana perasaan istrinya?” jawab Alisha menyindir.


Bian tertawa cukup keras saat mendengar ucapan sang istri. Selama dia mengenal Alisha, gadis itu bahkan tidak pernah cemburu sekalipun pada teman dan rekan kerja Bian yang perempuan. Baru kali ini dia melihatnya wajah cemburu Alisha, dan itu membuatnya semakin cantik dan lucu di mata Bian.


“Dia emang mantan aku, Sayang. Tapi hanya sebatas itu. Kan aku udah nikahin kamu” ucap Bian lembut.


“Kamu tahu nggak, apa ujian yang sebenarnya dalam pernikahan..?” tanya Alisha.


“..pertemuan kembali dengan mantan. Itu awal dari semuanya”


Bian mengangguk sambil tersenyum.


“Iya, Sayang. Aku nggak akan khianatin kamu. Seumur hidup. Kamu percaya sama aku, kan?”


“Aku percaya sama kamu, yang. Tapi mama..”


Tiba-tiba kalimat Alisha terpotong. Bian sengaja memotongnya dengan ‘membungkam’ bibir Alisha. Ia berpikir bagaimana cara mengakhiri percakapan sensitif itu dengan cara yang menyenangkan dan tidak menyakitkan. Ia juga tidak mau malam pertama mereka harus dihabiskan dengan berdebat tentang mantan, dan akan berlalu begitu saja. Sementara Alisha sangat terkejut dengan aksi cepat Bian yang dilakukan tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Akhirnya mereka melupakan perdebatan tidak sengit mereka dan mulai terhanyut dalam romansa malam pertama yang indah tiada tara.


***


Sementara di kamarnya, Mama Liana terlihat serampangan dalam melucuti pakaian dan perhiasan mahalnya. Ia sangat jijik dengan wajah Alisha yang tersenyum sok manis di sepanjang acara.


“Gadis sialan! Kali ini kamu lolos, tapi nggak akan aku biarkan kamu berlama-lama menjadi istri anakku. Aaaarhhgghh” teriaknya sambil melempar tas mewahnya ke lantai.


Untungnya rumah itu sangat besar hingga suara teriakan Mama Liana tak akan terdengar sampai telinga Bian apalagi Alisha.


Dalam pikirannya, ia sudah merancang aksi balas dendam yang tak akan pernah Alisha bayangkan seumur hidupnya. Ia pun mulai mengambil ponsel mewah bergambar apel dengan tiga kamera di belakangnya. Dia mulai menelepon seseorang dengan suara yang mulai nyaring dan renyah.


“Haiii, Diandra. Tante mau tanya, apa kamu bisa datang ke rumah besok?”


Terlihat dari ekspresinya, sepertinya Diandra mengiyakan permintaan mantan calon mama mertuanya. Mama Liana pun menutup teleponnya dengan senyuman licik yang mulai tersungging di ujung bibirnya.


“Kamu lihat saja, Alisha. Mulai besok rumah ini akan jadi neraka buatmu”