Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Ruang Sidang


Kevin hanya membahas masalah posisi Reka di perusahaan setelah menyelesaikan kuliah, atau setelah wisudanya. Niat Reka untuk membuka cabang cafenya akan dikerjakan oleh orang kepercayaan Reka. Kevin tetap berharap Reka akan menjadi penerusnya mengelola perusahaan.


Sedangkan urusan Selly, tentu saja tidak terima dengan posisinya yang diturunkan menjadi staf. Mengancam Kris atasannya, mengatakan akan menyebarkan foto dirinya dan Reka yang sedang ber_ciuman. Kevin dengan mudah menyelesaikan hal ini tanpa harus turun tangan dan diketahui oleh Reka.


“Nara, mana Bun?” tanya Reka yang hanya melihat Meera dan Kiran putri Rika.


“Sudah naik ke kamar, Bunda minta istirahat.”


“Hm, aku ke atas deh,” ujar Reka.


...***...


Hari  ini adalah jadwal sidang skripsi Reka, termasuk juga Rika. Reka benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Bukan hanya karena Nara yang selalu cerewet mengingatkan, tapi karena tanggung jawab. Situasi dimana Reka akan segera menjadi seorang Ayah membuatnya semakin mantap dalam merencanakan masa depannya.


“Ra, kancingin dong.” Nara yang baru saja selesai menyapukan sedikit make up di wajahnya, menghampiri Reka. Memastikan kemeja dan dasi yang dipakai Reka sudah benar dan rapi. Reka sedikit menunduk karena,” tubuhnya yang lebih tinggi dari Nara.


“Sudah,” ucap Nara. “Jasnya dipakai di sana aja,” tambahnya lagi.


“Penguji aku salah satunya bukan kamu ‘kan?”


Nara hanya mengedikkan bahunya membuat Reka berdecak, “Bikin aku gugup aja, gimana kalau pas aku masuk ruang sidang ternyata kamu pengujinya.”


“Bagus dong, kalau kenal nggak akan nervous lagi,” sahut Nara sambil mengambil tas kerjanya. Memastikan tatanan rambut dan letak kacamatanya sudah benar.


“Yang ada aku nggak bakalan konsentrasi Ra, malah mikir yang aneh-aneh sama kamu.” Nara refleks memukul lengan Reka, “Kamu pikirannya mesum terus deh.”


“Wajarlah, sama istri sendiri,” sahut Reka. “Apalagi kamu lagi hamil begini terlihat makin seksi,” bisik Reka.


Nara memilih meninggalkan Reka dengan keluar dari kamar mereka. “Ra, tunggu. Aku belum pakai sepatu,” teriak Reka.


Rika sudah siap berangkat, menyerahkan putrinya pada Meera. “Jangan nakal ya, doakan Mommy lulus. Bye Kiran,” ujar Rika lalu membuka pintu mobil, Eltan sudah duduk manis di belakang kemudi.


“Ayo, kita juga berangkat,” ajak Reka pada Nara yang duduk di kursi yang ada di halaman rumah.


“Aku berangkat Bun, doakan anakmu yang ganteng ini berhasil. Demi masa depan Perusahaan keluarga Daud,” tutur Reka. Nara hanya tersenyum mendengar ucapan permintaan doa Reka pada Meera.


Setibanya di kampus, Reka baru saja memarkirkan mobilnya. “Semoga berhasil ya,” ujar Nara.


“Jangan Cuma doa tapi semangatin dong,” keluh Reka.


“Itu juga penyemangat dari aku.”


“Aku duluan ya, nanti kabari kalau sudah selesai,” ucap Nara. Reka menganggukkan kepalanya lalu menekan sensor pengunci pintu mobil. Membawa tas berisi laptop dan berkas skripsinya juga jas yang akan dipakai saat sidang.


Bersiul saat melangkah sepanjang koridor menuju ruang sidang. Lebih dari 5 ruang sidang yang dilaksanakan hari itu. Rika dan Vano mendapatkan jadwal di ruangan yang sama, sedangkan Reka, Yasa dan Dewa terpisah ruang meskipun masih dalam area yang berdekatan.


“Romannya udah siap banget nih,” ejek Yasa saat melihat kedatangan Reka.


“Pastinya, Reka,” ucap Reka dengan pongah sambil menepuk dadanya kemudian mereka terbahak. Vano ikut bergabung dengan Reka, Yasa dan Dewa. Sedangkan Rika masih berdiri mendengarkan nasihat dari Eltan agar semangat dan siap mengikuti sidang.


Sambil menunggu giliran urutan sidang, Reka memainkan ponsel. Sesekali membuka berkasnya, untuk mengingat materi yang akan dipresentasikan. Yasa dan Dewa terlihat lebih gugup dibandingkan Reka.


“Kak Reka, semangat ya.”


Reka menolah, rupanya para mahasiswi yang sering menggodanya sengaja datang untuk menyemangati Reka.


“Gue udah semangat tanpa kalian kasih semangat,” ketusnya.


“Hei, udah sini kalian kasih semangat untuk kita aja. Kita masih jomblo,” ujar Yasa.  “Kalau Reka sudah sold out,” ucap Dewa.


Rupanya para mahasiswi itu maju tak gentar dengan pengusiran halus dari Yasa dan Dewa. Rika yang berada tidak jauh dari Reka mendengar perselisihan tersebut. “Hey, kalian ngapain sih bikin ribut aja. Kita itu lagi gugup menunggu jadwal kepastian masa depan, lagian Reka sudah punya pawang dan kalian bukan tipenya. Sana-sana,” usir Rika.


Tidak lama kemudian, peserta sidang mulai keluar dari ruangan dan pemanggilan urutan berikutnya. “Reka Chandra.”


Di ruangan sebelahnya, “Rika Daud.”


Reka dan Rika ber-high five sebelum memasuki ruangan sidang masing-masing.


 \=\=\=\=\=\=\=\=


 Mampir yuk ke karya rekan author