
Reka mengerjapkan kedua matanya, dia terbangun dengan posisi tidur tengkurap. Melihat tidak ada Nara pada ranjang di sisinya. Menatap sekeliling kamar, mendapati istrinya sedang duduk di depan cermin dan sudah berpakaian rapi.
Sudah rapi aja, mau kemana kali? Batin reka.
“Sayang, kamu mau ke mana, kok sudah rapih aja” tanya Reka. Nara yang baru selesai menyapukan bedak di wajahnya menoleh, “Mau kemana? Ini sudah weekday dan sekarang sudah pagi menjelang siang. Kamu cepat bangun terus mandi,” pinta Nara.
“Aku nggak ada kelas, jadwal bertemu dospemnya besok,” jawab Reka.
Nara berdiri, lalu menghampiri Reka. “Ya sudah, aku berangkat ya.” Meraih ponselnya di atas ranjang. “Kau cantik hari ini dan aku suka,” dendang Reka. Reka yang sudah beranjak duduk di pinggir ranjang menarik tangan Nara membuat wanita itu duduk di pangkuan Reka. Melingkarkan tangannya di pinggang dan perut Nara.
“Lepas Reka, aku harus berangkat,” pinta Nara.
Reka berdecak, “Aku antar,” ujar Reka.
“Aku mau kerja, kamu nggak ada kuliah. Ngantar aku terus mau ke mana lagi?” tanya Nara sambil mengalungkan tangannya di leher Reka.
“Ya pulang lagi, dari pada nungguin kamu malah salah paham sama fans kamu yang terlalu cerdas itu,” tutur Reka. Nara tertawa, “Maksudnya Ardi?” Reka mengedikkan bahunya.
“Kalau kamu nggak ada jadwal nggak usah antar aku. Lebih baik di rumah kerjakan skripsi kamu biar cepat selesai dan bisa cepat wujudkan impianmu.”
“Tapi aku khawatir kamu berangkat sendiri,” ucap Reka.
Nara menggesekkan hidungnya pada hidung Reka yang lebih mancung dari hidungnya. “Sebelumnya aku biasa sendiri, aku nggak mau disebut manja karena kamu harus antar jemput ke kampus,” sahut Nara.
“Itu dulu, waktu kamu masih sendiri. Sekarang ada aku sebagai suamimu, jadi kamu tanggung jawab aku termasuk memikirkan bagaimana kamu sampai kampus dan kembali lagi,” jelas Reka.
“Pokoknya kamu di rumah, selesaikan skripsi kamu. Nanti malam aku akan cek sejauh mana sudah dikerjakan dan hasil perbaikan sebelumnya.”
“Kamu sudah tidak mual?” tanya Reka.
“Tidak terlalu, aku berangkat ya,” pamit Nara sambil beranjak dari pangkuan Reka. Kembali menatap cermin untuk mencepol rambutnya dan memakai kacamata, gaya Nara saat menjadi dosen. Mengambil tas kerjanya kemudian berjalan meninggalkan kamar. Ternyata Reka sudah lebih dulu turun ke bawah.
“Kamu nggak kuliah?” tanya Meera melihat Nara sudah rapi tapi Reka terlihat baru bangun tidur.
“Nggak ada jam,” jawab Reka.
“Nara, sarapan dulu Nak,” ajak Meera.
“Aku langsung berangkat Bun, belum enak untuk sarapan.”
“Minum ini aja,” titah Reka yang sudah meminta Bibi membuatkan susu hamil Nara. Hati Nara kembali tersentuh dengan interaksi dan kepedulian Reka beserta orangtuanya, hal yang tidak pernah Nara rasakan berkumpul dengan orang tuanya apalagi dengan suasana nyaman.
“Hati-hati, tidak semua orang punya niat baik. Berkabar denganku ya,” ujar Reka. Nara mengangguk, Reka mencium kening Nara lalu membukakan pintu di samping kemudi. Memandang mobil yang dikemudikan Nara perlahan mulai meninggalkan kediaman orangtua Reka.
Reka sudah berada didepan pintu saat sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya. Menunggu dan memastikan siapa yang baru saja datang. Reka menghela nafas melihat mertuanya keluar dari mobil yang sejak tadi menjadi perhatiannya.
“Iya Bu, silahkan duduk,” pinta Reka.
“Oh tidak usah, kami tidak akan lama. Tolong panggilkan Nara,” titah Ibu mertuanya.
“Nara tidak ada Bu.”
“Kemana lagi sih, tiga hari kemarin dia benar-benar tidak jawab telepon dan pesan saya.”
“Ada keperluan apa Bu?” tanya Reka pura-pura bodoh, walaupun dia sebenarnya sudah mengetahui jelas jika mertuanya mencari Nara karena urusan Reno. “Memang orang tua bertemu anaknya harus ada keperluan,” kata Ibu Nara.
“Loh memang begitu, kalau bukan karena kalian ada keperluan tidak mungkin mencari Nara. Sejak aku menikah dengan Nara, baru kali ini kalian mencari Nara. Bahkan Nara di Rumah sakit karena disekap Reno, anda sebagai seorang Ibu tidak ada datang untuk mengunjungi,” ejek Reka dan pada dasarnya apa yang disampaikan Reka adalah benar.
“Kamu jangan asal bicara, ini urusan aku dengan Nara.” Ayah tiri Nara mencoba menenangkan istrinya, mengingatkan jika saat ini mereka berada di kediaman besan.
“Eh, ada tamu,” ujar Meera. “Reka kenapa tidak diajak masuk. Saya Bundanya Reka,” tutur Meera mengenalkan dirinya. Ibu dan Ayah tiri Nara menerima jabat tangan Meera, “Kita pernah bertemu di pernikahan Nara dan Reka tapi karena saat itu waktunya sempit jadi tidak bisa kenalan secara langsung. Mari, silahkan masuk dan kita bicara di dalam,” pinta Meera.
“Tidak perlu, kami hanya mencari Nara. Tapi putra Anda seakan menghalangi kami bertemu dengan Nara.” Meera dan Reka saling pandang lalu kembali menatap para tamunya. “Tapi Nara memang tidak ada di rumah,” cetus Meera.
“Sepagi ini tidak ada di rumah, memang dia harus kemana? Apa jangan-jangan dia di rumah ini benar-benar dimanfaatkan, disuruh mengurusi pekerjaan rumah.”
“Nara itu menantu saya dan harus saya perlakukan seperti putri kandung saya yang lain. Bagaimana mungkin saya memanfaatkan dia, Anda sebagai Ibunya tapi bisa tidak tau kalau Nara kerja. Jadi wajar jika jam segini sudah tidak ada di rumah,” tutur Meera. Meera mulai emosi mendengar Reka dan Nara dihina meskipun oleh ibunya sendiri. Setelah pembicaraan yang cukup alot, dimana Ibu Nara masih tetap teguh berpendapat jika Reka sengaja membuat Nara dan dirinya susah untuk bertemu, besan Meera akhirnya undur diri.
“Bunda kok rasanya emosi bicara dengan mereka. Kira-kira mereka akan menyusul ke kampus nggak?” tanya Meera khawatir.
“Nggak kali Bun. Tau juga nggak kalau anaknya kerja. Padahal Cindy dihadapan mereka menghina Nara mengatakan aku menikah dengan wanita yang lebih tua, dia juga terkejut karena setahu dia Nara itu dosen. Memang mereka tidak dekat dan benar-benar tidak tahu bagaimana kehidupan Nara.”
“Cepat hubungi Nara, tidak perlu menemui orang-orang tadi jika mereka akhirnya mencari Nara di kampus,” saran Meera.
“Ada apa?” tanya Kevin yang sudah selesai sarapan dan melihat Reka dan Meera kembali bergabung di meja makan tapi raut wajah Meera terlihat tidak biasa.
“Ada besan kita datang, tapi sebagai tamu mereka kurang aja,” keluh Meera.
Kevin memilih menoleh pada Reka, “Ternyata mereka lebih cepat dari dugaan Papih.”
“Aku hubungi Nara dulu,” pamit Reka kembali ke kamarnya. Reka berbaring sambil memainkan ponselnya, menurut perhitungannya Nara masih di jalan belum sampai di kampus. Setelah cukup menunggu, Reka akhirnya menghubungi Nara. Dua kali panggilan belum dijawab, Reka mulai khawatir. Panggilan ketiga terdengar suara di ujung telepon. “Iya Ka, aku dari toilet,” ucap Nara.
“Hmm, nggak apa-apa. Kangen aja sama Bu Dosen yang cantiknya bikin gemes.”
“Gombal.”
\=\=\=\=\=\=
Mau dong digombalin, ehhh🙃