
Pintu lift terbuka di lantai yang Nara tuju, berjalan menuju kamar sesuai access card di tangannya. Nara berhasil membuka pintu kamar lalu melangkah masuk. "Hai sayang," ujar Reka lalu merengkuh Nara dalam pelukannya. "Kenapa nggak pulang ke rumah?" tanya Nara saat mereka mengurai pelukannya.
"Aku kangen kamu Ra, di rumah itu ada Rika dan anaknya. Pasti rame dan kita nggak akan bisa mesra-mesraan begini deh."
Terdengar dering ponsel Reka, "Sebentar," ujar Reka menuju nakas meraih ponselnya. Sedangkan Nara memilih duduk dipinggir ranjang sambil melepas sepatunya.
“Iya,” ujar Reka lalu diam.
“Itu sudah yang paling sesuai. Tidak ada tawar menawar, jika bagian HRD tidak mengindahkan perintah saya, saya pastikan mereka juga akan mendapatkan surat pindah tugas atau pemecatan.”
Nara tidak tahu Reka berbicara kepada siapa di sambungan telepon. “Tidak usah khawatir mengenai pengganti sekretaris Pak Kris, saya sudah siapkan kandidat. Yang jelas Selly akan bertugas sebagai staf biasa, itu masih untung dibandingkan saya pecat. Kalau dia akhirnya resign ya tidak masalah, masih banyak orang yang lebih kompeten untuk bekerja,” terang Reka.
Tidak lama panggilan telepon itu berakhir. Reka meletakan kembali ponselnya di atas nakas. “Kenapa dengan Selly?’ tanya Nara.
“Bikin ulah terus,” jawab Reka singkat lalu ikut duduk di samping Nara. mendekatkan wajah pada pipi Nara. “Aku bersih-bersih dulu, gerah,” ujar Nara sambil mendorong tubuh Reka agar menjauh.
Reka merebah di ranjang dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Sepuluh menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi dibuka lalu tercium aroma sabun mandi, Reka pun beranjak duduk. Nara hanya mengenakan bathrobe, berdiri dihadapan Reka yang sedang duduk. Reka meraih pinggang Nara untuk semakin dekat lalu menempelkan wajahnya pada perut Nara.
Menciumi perut Nara yang sudah membuncit dan mengelusnya pelan. “Daddy sudah pulang, bahkan sudah siap menjenguk kamu.”
Nara berdecak, “Nggak usah diajak ngomong yang aneh-aneh,” tegur Nara. “Jadi, Selly bikin ulah apa? Pasti ada urusannya dengan kamu, sampai kamu yang turun tangan menentukan sanksi untuknya.”
Reka menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Nara, meraih tangan Nara untuk duduk di sampingnya. Sedangkan dirinya sendiri menggeser posisi duduknya semakin ke atas ranjang agar bisa menatap Nara.
“Aku mendengar Selly merencanakan ide jahat untuk menjebakku di pesta perpisahan yang dia atur. Tentu saja aku menolak hadir karena sudah tahu rencananya. Tapi tadi pagi waktu aku akan menuju bandara dia menghampiri dan mengajak berjabat tangan,” jelas Reka lalu menjeda kalimatnya.
Nara melipat kedua tangan di dada, sambil menatap Reka menunggu pria itu melanjutkan ceritanya. Dalam benaknya, dia menduga jika Selly pasti melakukan skinship dengan Reka. “Lalu?” tanya Nara.
Reka menelan saliva, dia khawatir jika jujur Nara akan marah bahkan merajuk. “Hm, bukan niat aku Ra, Tapi Selly dan aku tidak kepikiran dia akan melakukan hal itu.”
“Apa?” tanya Nara.
Nara menganggukan kepalanya. “Ra, kamu marah?” tanya Reka. “Kalau aku marah memang bisa memutar waktu dan Selly tidak berhasil dengan idenya.”
Reka berdecak, “Sudahlah, kita jangan bicarakan hal itu yang ada merusak mood aku. Lebih baik kita manfaatkan kebersamaan ini,” ungkap Reka sambil mengerlingkan matanya.
“Yang ada mood aku rusak karena mendengar kamu dan Selly, kenapa malah kamu yang riweh.” Reka hanya tertawa mendengar ucapan Nara. Reka menggeser kembali duduknya untuk semakin dekat dengan Nara, lalu mendaratkan bibirnya di permukaan wajah Nara. Mulai dari kening, pipi kiri dan kanan juga bibir. Saat bibir mereka bertemu, pagutan itu awalnya lembut tapi perlahan berubah menjadi semakin menuntut dan panas.
Nara mengalungkan tangannya pada leher Reka, sedangkan salah satu tangan Reka menahan tengkuk Nara. Reka mengurai pagutannya karena nafas Nara yang tersengal. Kemudian mereka berbaring di ranjang dengan posisi Reka mengungkung tubuh Nara. Menarik tali bathrobe dan melepaskannya dari tubuh Nara. Reka menatap nyalang pada tubuh polos istrinya, terlihat semakin seksi dan menggoda dengan perut hamilnya. Juga bagian tubuh Nara lainnya yang terlihat semakin membesar.
Reka sudah membenamkan wajahnya di antara dua bukit kembar milik Nara, bermain bergantian kiri dan kanan. Terdengar dering ponsel Reka, Nara yang sedang menahan dessahannya pun menegang. “Reka, ponsel kamu.”
“Hm.” Reka masih asyik dengan aktivitasnya, tidak memperdulikan ucapan Nara. Saat wajahnya semakin turun ke bawah, Nara hanya mampu meremmas sprei menahan gejolak rasa. Tapi atensinya kembali teralihkan karena dering ponsel Reka. “Reka, kamu jawab dulu deh, berisik tahu.”
Reka berdecak lalu menghentikan aktivitasnya dan merangkak meraih ponsel di atas nakas. “Iya Bun,” ucap Reka.
“Kamu dimana, seharusnya sudah sampai di Jakarta,” sahut Bunda Meera di ujung telepon.
“Aku sudah sama Nara Bun, sedang di luar,” jawab Reka.
“Sama Nara? Jangan bilang kalian di hotel ya, Reka istri kamu sedang hamil jangan macem-macem,” tegur Meera.
“Iya Bun, iya. Lagian cukup satu macem doang kok, sudah aku tutup ya.” Reka meletakan kembali ponselnya. Reka menoleh pada Nara yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut. “Ayo Ra,” ajak Reka.
“Aku lapar. Kamu tega mau ngerjain aku dengan kondisi perut aku keroncongan,” ujar Nara memelas.
“Hahh.” Reka mengusap wajahnya kasar.
\=\=\=\=\=\=\=