Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Pulang Saja


“Ka, ada Bu Nara nggak?” tanya Rika diujung telepon.


“Ada, lo nangis ya,” Reka dan Nara saling tatap. Reka mendengarkan ocehan Rika masih melalui sambungan telepon. Tidak lama kemudia Reka terbahak, “Dari dulu otak lo memang nggak bisa dibuat berpikir ekstra ya. Babang lo yang tampan itu kemana, sampai harus minta bantuan Nara,” ujar Reka yang kembali terkekeh.


“Ya udah, nanti tunggu gue sama Nara pulang. Anggap aja kita lagi bulan madu.” Reka akhirnya mengakhiri komunikasinya dengan Rika.


Nara masih belum mengerti pembicaraan Reka dan Rika, “Ada apa dengan Rika?” tanya Nara.


“Sudah nggak usah dipikirin, manja dia mah. Ayo kita makan, aku suapin ya,” ujar Reka lalu meraih salah satu kotak makan siang mereka dan mulai menyuapi Nara.


Nara baru saja mencuci tangannya dan kembali duduk di sofa. “Ra, setelah ini aku ada rapat dengan pimpinan divisi. Kamu tunggu sini atau mau pulang?” Reka bertanya sambil membuka map yang dibutuhkan di rapat nanti.


Nara menatap jam tangannya sekilas, “Aku tunggu di sini aja.”


“Kalau butuh sesuatu, bilang aja sama OB. Ruangannya ada di ujung dekat toilet.” Nara hanya mengangguk. Sebelum keluar dari ruangan, Reka sempat mencium kening Nara dan mencuri ciuman bibir sekilas.


Nara yang merasa bosan hanya duduk dan bermain ponsel akhirnya pindah pada kursi kerja Reka. Menatap layar laptop di hadapannya. Tangannya mulai berselancar dengan laptop milik Reka. Nara penasaran dengan aplikasi chat yang sedang terbuka. Merasa berhak membaca pesan-pesan itu karena dia adalah istrinya.


Nara mengernyitkan dahinya dengan beberapa pesan dari nomor tidak dikenal. Dari bahasanya sudah jelas jika pesan itu dikirim oleh wanita. mulai dari menanyakan kabar, bahkan ada juga yang menanyakan dimana Reka karena sudah lama tidak bertemu. Yang lebih parah adalah kalimat rindu pada Reka.


“Dasar, buaya darat,” ujar Nara. Meskipun jengkel, Nara agak tenang karena pesan-pesan tersebut tidak direspon oleh Reka. Bahkan ada yang marah lewat kata-kata karena Reka terus mengabaikannya. Nara penasaran dengan pesan dengan nama kontak Cindy. “Owh ini ulat bulu, masih aja gatal. Padahal sudah mau menikah.”


Cindy beberapa kali mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Reka juga meminta bantuan Reka agar dia bisa terhindar dari perjodohan dengan Reno. Parahnya, Cindy kembali mengatakan jika Reka cocok dengan dirinya dan Nara biarkan bersama Reno.


“Dasar saudara tiri yang lakn*t,” gerutu Nara setelah membaca ide gila Cindy. “Bisa-bisanya, Ibu malah membela perempuan ini dibandingkan putrinya sendiri.”


Tiba-tiba Nara menguap, karena rasa kantuk yang mulai melanda. Diakui jika selama kehamilannya ini dia mudah sekali untuk mengantuk dan tertidur. Nara kembali duduk di sofa dan bersandar, tanpa terasa dia semakin merebah dan mulai terlelap.


Cukup lama Reka menghadiri rapat divisi yang dipimpin oleh Kris. Tersenyum saat memasuki ruangannya dan melihat Nara tertidur di sofa. Reka melepas jasnya dan menutupi kaki Nara, karena Dress yang dikenakan Nara memperlihatkan kaki jenjangnya.


Saat menatap layar laptop yang terpampang aplikasi pesan, Reka menoleh pada Nara. “Mudah-mudahan aja nggak ngambek kalau udah bangun. Bisa-bisa nanti malam suruh tidur di luar.”


“Kenapa?” tanya Reka sambil membenamkan wajahnya di dada Nara.


“Belum selesai? Aku mau pulang.”


“Sudah, ini bisa dilanjut besok. Kamu ‘kan tadi tertidur, aku nggak tega bangunin kamu.”


“Hm.”


Saat keluar dari ruang kerjanya, Reka meraih tangan Nara dan menautkan jemari mereka. Selly menatap kemesraan Reka dan istrinya saat melewati meja kerjanya, bahkan tidak sempat menyapa karena kesal.


Nara sempat membaca pesan Selly untuk Reka, bahkan Nara membalasnya dengan menggunakan aplikasi pesan milik Reka. Kembali mengancam akan meminta Papih Kevin untuk memecat Selly jika wanita itu masih menggoda dan mengirim pesan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan pada Reka.


“Mau langsung pulang atau kemana dulu?” tanya Reka sambil fokus pada kemudi ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Pulang aja.”


“Oke.”


“Karena aku mau bahas pesan dari cewek-cewek genit yang ada di ponsel kamu,” tutur Nara.


“Hahh.”


 \=\=\=\=


Reka, rasano 😅


Janga lupa mampir ke Igeh aothor yess, untuk tau karya2 lainnya